Linearitas atau Malapraktik? Mengapa Pendidik Wajib Lahir dari Rahim Keguruan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi aktivitas belajar dan mengajar di kelas. Foto: iStock

Dalam bumi medis, kita tidak bakal pernah membiarkan seorang mahir teknik mesin (secerdas apa pun dia tentang struktur logam) untuk membedah jantung manusia hanya berbekal kursus singkat selama beberapa bulan. Kita sepakat bahwa itu adalah malapraktik.

Mengapa? Karena master bukan sekadar pemegang pisau bedah; mereka adalah produk dari proses panjang nan mengasimilasi pengetahuan anatomi, fisiologi, hingga etika medis ke dalam sumsum tulang mereka.

Namun, dalam bumi pendidikan kita hari ini, logika serupa seolah diabaikan. Muncul sebuah tren kebijakan nan memandang pekerjaan pendidik (guru dan dosen) sebagai keahlian teknis nan bisa "ditempelkan" pada siapa saja. Asalkan menguasai subjek materi, lampau ditambah sedikit polesan training pekerjaan instan, jadilah mereka pendidik.

Inilah awal dari musibah kualitas nan sedang kita tuai: Instanisasi Pendidik.

Pendidikan Bukan Sekadar "Transfer File"

Banyak kreator kebijakan terjebak pada sesat pikir bahwa mengajar hanyalah soal memindahkan isi kitab ke kepala siswa. Jika hanya itu standarnya, YouTube dan Artificial Intelligence (AI) sudah lama menggantikan peran guru.

Ilustrasi guru. Foto: Shutterstock

Seorang lulusan prodi keguruan nan ditempa selama empat tahun tidak hanya belajar "apa" nan bakal diajarkan, tetapi juga nan paling krusial adalah "bagaimana" dan "mengapa". Mereka belajar ilmu jiwa perkembangan untuk memahami bahwa langkah bicara pada anak usia 7 tahun tidak bisa disamakan dengan remaja 15 tahun. Mereka belajar pedagogi untuk mendiagnosis kenapa seorang siswa susah memahami konsep, bukan sekadar menghakimi si siswa bodoh.

Inilah nan saya sebut sebagai "Insting Pedagogis". Insting ini tidak bisa lahir dari program instan. Ia lahir dari habituasi, dari kegagalan praktik lapangan nan dievaluasi, dan dari filosofi pendidikan nan mendalam.

Bahaya Malapraktik Intelektual

Ketika ruang-ruang kelas diisi oleh mereka nan tidak lahir dari rahim keguruan, kita sedang mempertaruhkan masa depan generasi. Tanpa fondasi pengetahuan pendidikan nan kuat, proses belajar-mengajar terjebak menjadi rutinitas administratif. Guru hanya mengejar ketuntasan kurikulum, bukan ketuntasan pemahaman.

Hasilnya? Kita memandang degradasi kualitas pendidikan nan kian bobrok. Lulusan kita mungkin punya nilai di atas kertas, tapi rentan dalam karakter dan keahlian berpikir kritis. Ini adalah akibat nyata dari malapraktik intelektual nan dilakukan oleh tenaga pendidik nan "dipaksa" jadi pembimbing lantaran tuntutan pasar kerja, bukan lantaran panggilan jiwa nan dibentuk sejak awal di bangku kependidikan.

Mengembalikan Marwah Keguruan

Guru menyampaikan materi pelajaran kepada siswa dalam aktivitas belajar mengajar di SDN Gotong Royong, Bandar Lampung, Lampung, Jumat (29/11/2024). Foto: Ardiansyah/ANTARA FOTO

Jika kita mau memperbaiki kualitas bangsa, kita kudu berani bersikap tegas pada patokan linearitas. Pendidik haruslah mereka nan memang sejak awal memilih jalan kependidikan.

  • Standarisasi Eksklusif: Sebagaimana master kudu dari Fakultas Kedokteran, pendidik (guru dan dosen) pun kudu absolut dari prodi keguruan.

  • Menolak Jalur Pintas: Program pekerjaan semestinya menjadi arena spesialisasi bagi lulusan keguruan, bukan "pintu belakang" bagi bidang lain untuk mencari peruntungan di bumi pendidikan.

  • Profesionalisme Bermartabat: Menjadikan pekerjaan pembimbing sebagai pekerjaan tertutup bakal meningkatkan wibawa dan nilai diri pekerjaan tersebut di mata masyarakat.

Kita kudu berakhir menjadikan posisi pembimbing sebagai "pekerjaan cadangan" bagi mereka nan tidak terserap di sektor industri. Pendidikan adalah urusan membentuk manusia, dan manusia bukanlah barang meninggal nan bisa dikelola dengan proses instan.

Sudah saatnya negara sadar: mengelola kelas tanpa pengetahuan pedagogi nan matang adalah malapraktik nan daya rusaknya jauh lebih luas daripada malapraktik medis. Jika kita terus berdiskusi dengan proses instan, jangan heran jika kualitas bangsa ini pun bakal terus melangkah di tempat.

Kembalikan pembimbing dan pengajar ke rahim keguruan. Karena pendidikan bukan tentang seberapa sigap kita mengajar, melainkan tentang seberapa dalam kita membentuk jiwa.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan