Limbah Pertanian Diolah Jadi Pakan Fermentasi untuk Tekan Biaya Ternak Babi

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Limbah Pertanian Diolah Jadi Pakan Fermentasi untuk Tekan Biaya Ternak Babi Pelatihan pembuatan pakan fermentasi nan diselenggarakan dalam rangka program KKN Mahasiswa Universitas Warmadewa .(Dok.Istimewa)

LIMBAH pertanian lokal didorong menjadi bahan pakan fermentasi untuk mengurangi ketergantungan peternak babi terhadap pakan pabrikan nan harganya terus meningkat. Pemanfaatan limbah tersebut juga dinilai dapat mendukung penerapan ekonomi sirkular di tingkat peternak.

Pemanfaatan limbah pertanian menjadi pakan fermentasi dibahas dalam training nan digelar melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Universitas Warmadewa di Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar, Bali, Sabtu (22/8).

Akademisi Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa, I Nengah Muliarta, mengatakan limbah hasil panen dan sisa tanaman pangan di area perdesaan mempunyai potensi besar sebagai bahan pakan. Selama ini, sebagian limbah tersebut hanya menjadi sampah organik alias dibakar.

“Potensi limbah pertanian lokal sebagai bahan pakan fermentasi babi nutrisi tinggi sangat besar. Selama ini limbah dianggap tidak bernilai, padahal dengan sedikit sentuhan bioteknologi sederhana, kualitas nutrisinya bisa melonjak signifikan,” ujar Muliarta.

Menurut Muliarta, penggunaan limbah pertanian segar untuk ternak monogastrik seperti babi menghadapi hambatan berupa kandungan serat kasar dan senyawa antinutrisi. Fermentasi anaerob dengan memanfaatkan mikroorganisme tertentu dapat membantu menguraikan struktur serat seperti selulosa dan hemiselulosa sehingga lebih mudah dicerna.

Proses fermentasi juga dapat meningkatkan kandungan protein melalui pertumbuhan massa sel mikroba. Pakan hasil fermentasi menghasilkan masam laktat nan menurunkan pH saluran pencernaan dan membantu menekan pertumbuhan kuman patogen seperti Escherichia coli dan Salmonella.

Dengan peningkatan daya cerna, pakan fermentasi berpotensi mendukung pertumbuhan ternak sekaligus mengurangi aroma amonia dari kotoran babi.

SISTEM PRODUKSI
Muliarta mengatakan pemanfaatan limbah pertanian tidak hanya bermaksud menekan biaya pakan. Limbah tanaman dapat dikembalikan ke sistem produksi sebagai pakan ternak, sedangkan kotoran ternak dapat diolah menjadi pupuk organik untuk lahan pertanian.

Biaya pakan disebut dapat menyerap hingga 70% dari total biaya produksi peternakan babi. Karena itu, pemanfaatan bahan baku lokal dinilai dapat membuka ruang efisiensi bagi peternak.

Peternak babi di Tegalalang I Nyoman Suastika mengatakan pemanfaatan limbah pertanian dan sisa makanan sebenarnya sudah dilakukan peternak setempat. Namun, praktik tersebut belum dilakukan secara rutin lantaran keterbatasan waktu.

“Sebenarnya kami sudah terbiasa memanfaatkan limbah pertanian dan sisa makanan untuk pakan babi, tapi jujur saja belum bisa rutin. Kesibukan sehari-hari sering membikin kami akhirnya memilih pakan instan pabrikan lantaran lebih praktis,” kata Suastika.

Menurut Suastika, pengolahan limbah secara tepat dapat membantu mengurangi biaya operasional, terutama ketika nilai pakan pabrikan meningkat. Pendampingan dan training dinilai diperlukan agar peternak bisa menerapkan teknologi fermentasi secara konsisten.

Program tersebut diharapkan dapat mendorong pemanfaatan sumber daya lokal, mengurangi limbah pertanian, dan memperkuat kemandirian pakan peternak. (E-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia