Tidak semua hubungan berhujung lantaran hilangnya rasa cinta alias pertengkaran besar. Ada hubungan nan selesai meskipun dua orang di dalamnya tetap saling menyayangi. Kadang, hubungan kudu berakhir lantaran waktu nan belum tepat, tujuan hidup nan berbeda, alias keadaan nan membikin hubungan susah dipertahankan.
Dari luar, perpisahan seperti ini mungkin terlihat baik-baik saja. Tidak ada pertengkaran besar alias saling menyalahkan. Namun, bukan berfaedah tidak meninggalkan rasa kehilangan. Perpisahan seperti ini sering kali terasa lebih rumit lantaran tidak ada kebencian nan bisa dijadikan argumen untuk benar- betul pergi. Meski begitu, seseorang tetap perlu menjalani proses penyesuaian diri setelah hubungan berakhir.
Setelah sebuah hubungan selesai, nan lenyap sering kali bukan hanya status sebagai pasangan, tetapi juga kebiasaan-kebiasaan mini nan sebelumnya selalu ada. Mulai dari tempat bercerita, seseorang nan selalu mengingatkan hal-hal sederhana, hingga rutinitas mini nan perlahan menjadi bagian dari keseharian. Karena itu, meskipun hubungan berhujung dengan baik, rasa sedih tetap bisa muncul dan memperkuat cukup lama.
Perasaan kehilangan setelah breakup sebenarnya merupakan perihal nan wajar. Dalam penelitian nan dilakukan oleh Rasyid et al. (2026) dijelaskan bahwa hubungan romantis pada masa dewasa awal mempunyai keterikatan emosional nan kuat sehingga ketika hubungan itu berakhir, perseorangan perlu melakukan penyesuaian emosional dan sosial. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa breakup memengaruhi izin emosi, komunikasi, dan perilaku sosial seseorang setelah hubungan selesai.
Sayangnya, kesedihan setelah putus cinta sering dianggap berlebihan. Tidak sedikit orang nan merasa kudu segera terlihat baik-baik saja agar dianggap sudah move on. Padahal, memendam emosi terus-menerus bukan berfaedah seseorang betul-betul pulih. Sedih, kecewa, alias merasa kehilangan justru menjadi bagian alami dari proses menerima perubahan dalam hidup. Dalam kondisi seperti ini, setiap orang biasanya mempunyai caranya sendiri untuk bertahan. Ada nan lebih banyak menghabiskan waktu berbareng teman, ada nan kembali konsentrasi pada kuliah alias pekerjaan, dan ada juga nan memilih menikmati hal-hal mini nan mereka sukai. Mulai dari mendengarkan musik, memasak, berjalan-jalan sendiri, hingga menonton drama korea semalaman.
Tanpa disadari, hal-hal sederhana tersebut sebenarnya termasuk corak coping. Dalam jurnal Strategi Coping oleh Maryam (2017) dijelaskan bahwa coping merupakan upaya perseorangan untuk mengurangi tekanan psikologis akibat situasi nan menimbulkan stres. Selain itu, Lazarus dan Folkman (dalam Maryam, 2017) menjelaskan bahwa coping dibagi menjadi dua bentuk, ialah problem focused coping dan emotion focused coping. Pada situasi nan susah diubah, seseorang condong menggunakan emotion focused coping, ialah upaya untuk mengelola emosi agar bisa menyesuaikan diri dengan keadaan nan sedang dihadapi.
Menonton drama korea juga dapat menjadi salah satu corak emotion focused coping setelah breakup. Bagi sebagian orang, drakor bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk beristirahat sejenak dari pikiran-pikiran nan melelahkan. Cerita nan ringan, emosional, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari sering kali membantu seseorang merasa lebih tenang dan tidak terlalu tenggelam dalam rasa sedih nan dirasakan.
Hal ini sejalan dengan penelitian Gehl et al. (2024) nan menunjukkan bahwa strategi coping membantu perseorangan menghadapi tekanan emosional setelah perpisahan. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa proses penyesuaian diri pasca-breakup dipengaruhi oleh keahlian perseorangan dalam mengelola emosinya.
Meski demikian, coping bukan berfaedah menghindari kesedihan sepenuhnya. Menonton drakor alias melakukan kegemaran tertentu tidak otomatis membikin seseorang langsung melupakan rasa kehilangan. Namun, setidaknya perihal tersebut dapat membantu seseorang bernapas lebih lega dan memberi ruang bagi dirinya untuk beristirahat secara emosional. Kadang, seseorang memang hanya perlu merasa dipahami, apalagi lewat cerita-cerita sederhana nan ditontonnya.
Selain itu, penelitian nan dilakukan oleh Rasyid et al. (2026) juga menjelaskan bahwa perseorangan nan mengalami breakup berusaha menjaga keseimbangan emosional dengan menerima kenyatan dan menghindari hubungan nan berpotensi mengulang luka nan sama. Hal ini menunjukkan bahwa proses pulih setelah perpisahan bukan hanya tentang melupakan seseorang, tetapi juga tentang belajar memahami diri sendiri dan menerima keadaan secara perlahan.
Pada akhirnya, tidak semua perpisahan kudu diakhiri dengan saling membenci. Ada hubungan nan selesai meskipun rasa sayangnya tetap ada. Dan itu tidak selalu buruk. Sebab terkadang, corak mencintai nan paling dewasa adalah menerima bahwa tidak semua perihal bisa dipaksakan untuk tetap bersama. Dalam proses tersebut, menikmati hal-hal mini nan disukai dapat menjadi langkah sederhana untuk bertahan, memahami emosi, dan perlahan belajar pulih setelah breakup.
8 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·