Ilustrasi.(Magnific)
PEMERINTAHAN Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempersiapkan gelombang baru serangan militer terhadap Iran pada Jumat (22/5). Menurut sumber nan mengetahui perencanaan tersebut, langkah ini diambil meskipun upaya diplomasi antarkedua negara tetap terus melangkah di kembali layar.
Hingga Jumat (22/5) sore waktu setempat, belum ada keputusan final nan diambil mengenai eksekusi serangan tersebut. Namun, situasi darurat ini telah memaksa Presiden Trump membatalkan sejumlah agenda pribadi, termasuk rencana menghadiri pernikahan putranya, Donald Trump Jr., akhir pekan ini.
Melalui unggahan di media sosial, Trump menyatakan bahwa keadaan nan berangkaian dengan pemerintah mengharuskannya tetap berada di Gedung Putih, alih-alih menghabiskan libur Memorial Day di properti golf miliknya di New Jersey.
Siaga Tempur di Timur Tengah
Sejumlah personil militer dan organisasi intelijen Amerika Serikat dilaporkan membatalkan rencana libur mereka guna mengantisipasi kemungkinan serangan. Pejabat pertahanan sekarang mulai memperbarui daftar panggil (recall rosters) untuk instalasi AS di luar negeri.
Langkah itu dilakukan di tengah rotasi pasukan di Timur Tengah sebagai bagian dari upaya mengurangi jejak militer Amerika di area tersebut sekaligus mengantisipasi potensi pembalasan dari pihak Iran.
Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan posisi tegas Presiden Trump. "Presiden memperjelas garis merahnya: Iran tidak boleh mempunyai senjata nuklir dan tidak boleh menyimpan uranium nan diperkaya," ujar Kelly kepada CBS News.
Pernyataan Gedung Putih: "Presiden selalu menjaga semua opsi tetap terbuka setiap saat dan tugas Pentagon untuk siap melaksanakan keputusan apa pun nan dibuat oleh Panglima Tertinggi."
Diplomasi di Ambang Batas
Teheran saat ini sedang meninjau proposal terbaru dari AS untuk mengakhiri perang selama tiga bulan nan mengguncang pasar daya dan memicu lonjakan nilai bahan bakar dunia. Proposal tersebut dikirimkan pada Rabu lampau dengan peringatan keras yaitu penolakan terhadap penawaran terakhir ini berfaedah dimulai kembali serangan militer.
Meskipun ketegangan memuncak, Trump memberikan nada optimistis tetapi waspada. "Iran sangat mau membikin kesepakatan. Kita bakal lihat apa nan terjadi," kata Trump pada Jumat.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan bahwa ada sedikit kemajuan dalam pembicaraan tersebut. Komunikasi saat ini dilakukan melalui perantara Pakistan. Rubio menambahkan bahwa meskipun Trump lebih memilih jalur diplomasi, AS menyiapkan Rencana B yang melibatkan kekuatan militer, termasuk opsi untuk membuka kembali Selat Hormuz jika diperlukan.
Dinamika Politik di Washington
Di dalam negeri, upaya politik untuk membatasi kewenangan militer Presiden Trump mengalami kegagalan. Partai Republik di DPR AS pada Kamis membatalkan upaya pemungutan bunyi nan bermaksud membatasi otoritas presiden dalam melakukan operasi militer terhadap Iran, setelah menyimpulkan bahwa mereka kekurangan support nan cukup.
Saat ini, bumi internasional tengah menunggu respons resmi dari Teheran nan diharapkan segera disampaikan melalui saluran diplomatik Pakistan. Keputusan Iran dalam beberapa hari ke depan bakal menentukan apakah area Timur Tengah bakal menuju perdamaian jangka panjang alias eskalasi bentrok nan lebih luas. (CBS/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·