Jakarta - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan pentingnya penguasaan teknologi kepintaran buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai percepatan pengembangan UMKM lokal dan pemberdayaan penyandang disabilitas di era digital.
"Kita meyakini bahwa penguasaan AI bakal memberikan percepatan luar biasa bagi pengembangan UMKM lokal dan beragam aktivitas inklusif nan kita harapkan dapat membawa produk-produk unggulan wilayah menuju panggung besar digital nan lebih luas," ujar Rerie, sapaan berkawan Lestari, dalam keterangannya, Minggu (10/5/2026).
Hal itu disampaikan Lestari dalam sambutan secara daring pada training AI nan digelar Alunjiva berbareng Microsoft, di Auditorium Universitas Muria Kudus, di Kudus, Jawa Tengah.
Berdasarkan survei pada 2025-2026, ujar Rerie, sebanyak 64,7% responden di Indonesia pernah menggunakan teknologi AI.
Mayoritas menggunakannya untuk mencari info hingga kebutuhan belanja. Indonesia pun menjadi salah satu dari delapan negara besar di bumi nan aktif memanfaatkan AI.
Namun, dia mengingatkan bahwa penguasaan teknis AI saja tidak cukup.
"Kemampuan berpikir kritis adalah kunci utama agar manusia tetap menjadi pengendali teknologi nan bisa membedakan info serta memecahkan masalah," tegas Rerie.
Politisi Partai NasDem nan aktif dalam rumor inklusivitas itu juga menyoroti tetap rendahnya akses training teknologi bagi penyandang disabilitas.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) 2020, lebih dari 75% penyandang disabilitas tetap bekerja di sektor informal, sementara itu hanya 25% nan terserap di sektor formal.
"Ketimpangan ini berakar dari terbatasnya serta minimnya akses terhadap training teknologi nan inklusif. Stigma sosial seringkali menjadi tembok penghalang nan lebih tebal daripada keterbatasan fisik," ujar Rerie nan juga personil Komisi X DPR RI itu.
Menurut Rerie, training nan diselenggarakan hari ini merupakan bukti nyata bahwa kesetaraan akses bagi penyandang disabilitas bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan dalam mewujudkan martabat kemanusiaan nan setara di era digital.
Ia berharap, training pemanfaatan AI bagi generasi muda dan penyandang disabilitas dapat membekali keahlian praktis sebagai afiliator, pembuat digital, hingga pelaku upaya berbasis teknologi nan bisa mewujudkan kemandirian secara ekonomi.
Rerie membujuk seluruh peserta untuk menjadikan momentum training sebagai titik kembali mengasah ketajaman berpikir dan meraih kemandirian menghadapi masa depan di era digital. (prf/ega)
53 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·