Jakarta -
Anggota Komisi IV DPR RI Rina Saadah meminta pemerintah memperkuat penanganan kekeringan. Dia menilai keberhasilan penanganan kekeringan tak cukup diukur dari jumlah support maupun pompa nan didistribusikan.
"Dalam kondisi krisis air, keberhasilan tidak diukur dari berapa banyak pompa nan dibagikan, tetapi dari berapa hektare sawah nan betul-betul terselamatkan. Pompa kudu ditempatkan berasas kesiapan sumber air, kebutuhan tanaman, fase pertumbuhan, dan tingkat akibat kandas panen," ujar Rina kepada wartawan, Selasa (8/9/2026).
Dia menilai pompanisasi dan pemanfaatan air permukaan tetap diperlukan untuk menghadapi kekeringan. Namun, kata dia, pengedaran pompa tak bisa dilakukan secara seragam tanpa memandang kondisi tiap wilayah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rina juga mengingatkan penanganan krisis air tak boleh berakhir pada langkah darurat. Pemerintah, menurutnya, perlu memperbaiki jaringan irigasi, saluran air dan embung, serta menjaga wilayah tangkapan air dan wilayah aliran sungai (DAS).
"Krisis air tidak dapat dijawab hanya dengan menambah pompa. Kita memerlukan manajemen air pertanian dari hulu sampai hilir, mulai dari menjaga wilayah tangkapan air, memastikan tampungan dan jaringan irigasi berfungsi, sampai menentukan sawah mana nan kudu mendapat prioritas penyelamatan," tegasnya.
Rina mengatakan penanganan kekeringan juga kudu berbarengan dengan perlindungan terhadap petani. Dia menilai hasil panen petani perlu tetap terserap dan nilai di tingkat produsen dijaga.
"Kedaulatan pangan bukan hanya soal berapa banyak beras nan tersedia di gudang. Kedaulatan pangan juga berfaedah memastikan petani mempunyai air untuk menanam, sarana untuk berproduksi, dan nilai nan layak ketika panen. Setiap rupiah anggaran pertanian kudu bermuara pada hasil nyata di tingkat petani," tuturnya.
Sebelumnya, BMKG mencatat kondisi September tetap relatif kering di sebagian besar wilayah Indonesia. Bahkan, suhu maksimum pada dasarian III Agustus mencapai 37,9 derajat Celsius di Melawi, Kalimantan Barat.
Kondisi panas tersebut membikin masyarakat nan beraktivitas di luar ruangan lebih berisiko mengalami dehidrasi dan kelelahan akibat panas.
Karena itu, masyarakat diimbau menjaga kecukupan cairan tubuh dan menggunakan pelindung seperti tabir surya untuk mengurangi paparan langsung sinar Matahari, terutama saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Di sisi lain, kondisi kering juga meningkatkan potensi kebakaran rimba dan lahan (karhutla). BMKG mencatat terdapat 463 titik panas di Kalimantan dan 264 titik panas di Sumatera.
(amw/zap)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·