Lazy Ambitious EP 7: Kita Terlalu Sibuk Mengejar Versi Terbaik Diri Sendiri

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Sumber Foto: Pexels / Shahin Mren

“Kamu mau jadi apa lima tahun lagi?”

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi sebagian orang, pertanyaan itu justru terasa menyesakkan.

Sejak kecil, kita terbiasa diajarkan bahwa hidup kudu mempunyai jawaban. Saat sekolah, kita ditanya mau masuk bidang apa. Setelah lulus kuliah, kita ditanya kapan bekerja. Ketika sudah bekerja, muncul pertanyaan baru tentang karier, menikah, membeli rumah, alias target-target lainnya nan seolah kudu segera dipenuhi.

Lama-kelamaan, kita mulai percaya bahwa menjadi dewasa berfaedah selalu mempunyai rencana nan jelas, seolah-olah orang nan belum menemukan arahnya adalah orang nan tertinggal. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Banyak orang nan terlihat sangat percaya di luar, tetapi diam-diam tetap sering mempertanyakan pilihan hidupnya sendiri. Ada nan sudah bekerja bertahun-tahun tetapi tetap bertanya apakah pekerjaannya betul-betul sesuai dengan dirinya, ada nan beranjak pekerjaan lantaran merasa kehilangan makna, dan ada pula nan tampak sukses, tetapi tetap merasa bingung tentang tujuan berikutnya.

Sayangnya, media sosial jarang memperlihatkan bagian itu. Dimana nan kita lihat hanyalah seseorang nan baru diterima di perusahaan impian, lolos beasiswa, membuka bisnis, alias membagikan pencapaian baru. Semua terlihat begitu pasti, begitu terarah, begitu meyakinkan. Sementara kita tetap duduk di kamar, membuka laptop, menutupnya lagi, membikin daftar rencana, lampau menghapusnya kembali lantaran merasa semuanya belum cukup matang.

Jadi tanpa disadari, kita mulai berpikir bahwa hanya kita nan belum tahu mau menjadi apa. Padahal bisa jadi, nyaris semua orang sedang mencari jawabannya masing-masing. Masalahnya bukan lantaran kita belum mempunyai jawaban.

Masalahnya adalah kita merasa kudu segera menemukannya. Tekanan untuk selalu tahu arah hidup membikin banyak orang mengambil keputusan bukan lantaran betul-betul siap, melainkan lantaran takut dianggap tertinggal. Ada nan menerima pekerjaan nan sebenarnya tidak disukai hanya lantaran semua temannya sudah bekerja, ada nan melanjutkan pendidikan lantaran takut terlihat “diam di tempat”, dan ada pula nan memaksakan membuka upaya alias mengikuti beragam training hanya lantaran merasa semua orang sedang bergerak.

Keputusan nan lahir dari rasa panik sering kali membikin kita semakin jauh dari diri sendiri. Menurut Jeffrey Arnett, masa transisi menuju dewasa merupakan periode eksplorasi identitas. Pada fase ini, wajar andaikan seseorang tetap mencoba beragam kemungkinan, mempertanyakan pilihan hidup, apalagi beberapa kali mengubah arah sebelum menemukan jalan nan paling sesuai. Artinya, kebingungan bukan tanda kegagalan, justru kebingungan sering kali merupakan bagian dari proses mengenali diri.

Sayangnya, kita hidup di era nan menghargai kepastian lebih tinggi daripada proses. Orang nan sudah mempunyai rencana lima tahun dianggap visioner, dan orang nan tetap mencari dianggap kurang ambisius. Padahal hidup tidak selalu melangkah mengikuti timeline nan kita buat. Dimana ada orang nan menemukan passion sejak usia delapan belas tahun, ada nan baru menyadarinya di usia tiga puluh, dan ada pula nan acapkali berganti jalan sebelum akhirnya menemukan tempat nan betul-betul membuatnya bertumbuh.

Tidak ada nan salah dengan semua itu, nan sering membikin kita capek bukan lantaran belum menemukan jawaban, melainkan lantaran terus merasa terlambat. Kita lupa bahwa hidup bukan perlombaan mencari siapa nan paling sigap selesai, tetapi hidup itu justru lebih menyerupai perjalanan panjang nan setiap orang tempuh dengan kecepatan berbeda. Kita sering berbincang bahwa ambisi tidak kudu selalu berfaedah bergerak lebih cepat.

Kali ini, mungkin corak ambisi nan lebih sehat adalah keberanian untuk tetap melangkah meski belum mengetahui seluruh jawabannya, lantaran kita tidak kudu memahami seluruh peta sebelum mengambil satu langkah kecil. Kadang cukup tahu arah berikutnya, sisanya bakal kita pelajari sembari berjalan. Tidak semua pertanyaan kudu dijawab hari ini, tidak semua keraguan kudu segera dihilangkan, dan tidak semua keputusan kudu diambil secepat mungkin. Ada hal-hal nan memang hanya bisa dipahami setelah kita betul-betul menjalaninya.

Mungkin hari ini kita tetap sering berkata, “Aku belum tahu”. Dan itu tidak apa-apa, lantaran menjadi Lazy Ambitious bukan berfaedah kehilangan tujuan, melainkan berakhir memaksa diri untuk mempunyai semua jawaban, lampau memberi ruang bagi diri sendiri untuk bertumbuh dengan waktunya masing-masing.

Suatu hari nanti, ketika menoleh ke belakang, mungkin kita bakal menyadari bahwa semua kebingungan nan pernah kita takutkan rupanya hanyalah bagian dari perjalanan menuju diri kita nan sebenarnya.

References:

Arnett, J. J. (2000). Emerging adulthood: A theory of development from the late teens through the twenties. American psychologist, 55(5), 469.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan