PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) mencatat laba bersih sebesar Rp 545 miliar pada kuartal I 2026, meningkat 3,6 persen secara tahunan (yoy). Pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp 2,29 triliun alias tumbuh 1,4 persen yoy, dengan EBITDA margin sebesar 82,7 persen.
Kinerja finansial ditopang pertumbuhan operasional. Hingga kuartal I 2026, Mitratel mengelola 40.327 menara, meningkat 1,9 persen yoy, dengan lebih dari 59 persen portofolio berada di luar Pulau Jawa, termasuk wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Kepercayaan operator seluler tercermin dari pertumbuhan kolokasi sebesar 11,3 persen menjadi 23.006 unit, serta peningkatan tenancy ratio menjadi 1,57x. Di sisi lain, jaringan fiber optic tumbuh 17,3 persen menjadi 72.842 km billable length, memperkuat peran perseroan dalam pengembangan Fiber-to-the-Tower (FTTT).
Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan pengembangan ekosistem terintegrasi, termasuk FWA dan PaaS, merupakan langkah strategis untuk mendorong pemerataan konektivitas digital nasional.
“Pendekatan ini tidak hanya menghadirkan akses internet nan berbobot dan terjangkau, tetapi juga memastikan kesiapan daya nan andal untuk mendukung operasional jaringan, khususnya di wilayah dengan keterbatasan prasarana kelistrikan,” kata Theodorus Ardi dalam keterangan resmi, dikutip pada Jumat (1/5).
Transformasi upaya Mitratel sekarang tak hanya berfokus pada menara telekomunikasi, tetapi juga memperluas jasa beyond tower melalui penguatan ekosistem Fixed Wireless Access (FWA), fiberisasi, serta pengembangan Power-as-a-Service (PaaS) sebagai solusi prasarana terintegrasi.
Dari sisi keberlanjutan, perseroan mencatat skor akibat ESG sebesar 18,8 alias kategori akibat rendah dari Sustainalytics, mencerminkan komitmen terhadap praktik Environmental, Social, and Governance (ESG).
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·