Kronologi Banjir Bandang Nepal Akibat Gletser Runtuh: Korban Lampaui 1.000 Jiwa

Sedang Trending 55 menit yang lalu
 Korban Lampaui 1.000 Jiwa Ilustrasi(Dok UMJ)

Korban jiwa akibat musibah banjir bandang di perbatasan Nepal dan Tibet, China, terus melonjak hingga melampaui 1.000 jiwa. Laporan The Japan Times mencatat jumlah korban meninggal bumi telah mencapai 1.050 orang, sementara info kepolisian Nepal dan National Disaster Risk Reduction and Management Authority mencatat sedikitnya 794 korban tewas di Nepal serta 16 korban tewas di Tibet.

Lebih dari 4.000 orang dilaporkan tetap hilang, termasuk 583 penduduk negara asing dan 546 penduduk di wilayah Tibet. Tim penyelamat sekarang berpacu dengan waktu untuk membebaskan ratusan pekerja nan terjebak di dalam terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA), di tengah tumpukan 2,2 juta ton puing material nan menghancurkan pemukiman serta akses jalan.

Kronologi Terjadinya Banjir Bandang

Bencana ini berkembang dalam waktu nan sangat singkat melalui beberapa tahapan utama:

  • Runtuhnya es di ketinggian: Peristiwa bermulai pada 26 Agustus saat bagian dari gletser di dekat puncak Langtang Lirung, Tibet (sekitar 20 kilometer timur laut perbatasan Nepal) runtuh secara mendadak. Pakar geosains Simon Cook dari University of Dundee menyebut bagian bawah gletser runtuh ke arah barat daya lampau meluncur ke arah barat.
  • Getaran luar biasa dan pembentukan bendungan: Benturan massa es dan batuan raksasa ke dasar lembah memicu getaran seismik setara gempa bermagnitudo 4,4 hingga 5,2 berasas info US Geological Survey (USGS). Material longsoran ini menutup aliran Anak Sungai Lhende dan membentuk waduk penampungan sementara.
  • Jebolnya waduk alami: Tekanan air nan terkumpul membikin waduk alami tersebut jebol. Gelombang air bercampur lumpur meluncur deras ke hilir Sungai Bhotekoshi dan Trishuli sejauh 100 kilometer hanya dalam waktu sekitar 10 menit.
  • Dampak kerusakan di hilir: Banjir lumpur menerjang area pemukiman, Pos Pemeriksaan Perbatasan Rasuwagadhi di Nepal, serta Pelabuhan Gyirong di Tibet. Stasiun pemantau otomatis di hulu hanyut sebelum sempat mengirimkan sinyal peringatan dini.

Pemicu Utama: Glacial Collapse

Meskipun sempat diduga dipicu gempa tektonik, USGS mengonfirmasi bahwa pemicu utamanya adalah glacial collapse alias keruntuhan gletser. Benturan material es dan batu nan sangat masif ke dasar lembah menciptakan gelombang seismik nan tercatat oleh instrumen geologi.

Profesor pengetahuan bumi dari Oxford University, Mike Searle, menjelaskan adanya kemungkinan material longsor membendung sungai terlebih dulu sebelum akhirnya pecah menjadi banjir bandang tunggal nan sangat besar. Faktor pemanasan dunia menjadi perhatian utama, di mana perubahan suasana mempercepat pelelehan gletser dan mencairkan lapisan permafrost nan merekatkan lereng gunung.

Pernyataan Pemerintah: Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menegaskan bahwa musibah ini adalah sinyal nyata meningkatnya akibat krisis iklim. Ia mendesak masyarakat internasional untuk memperhatikan akibat perubahan suasana nan dialami Nepal.

Penanganan Darurat dan Tantangan Pencarian

Upaya pengamanan menghadapi hambatan berat akibat medan nan rusak parah. Sejauh ini, lebih dari 11.000 orang telah dievakuasi, dengan 8.730 orang di antaranya diselamatkan oleh badan penanggulangan musibah Nepal. Pemerintah mengerahkan perangkat berat, helikopter, dan ekskavator untuk menembus letak terisolasi.

Pencarian saat ini difokuskan pada terowongan PLTA Trishuli di Distrik Rasuwa, tempat sekitar 300 hingga 500 pekerja diperkirakan terjebak. "Pengamatan awal kami menunjukkan tidak mungkin bagi manusia untuk masuk ke dalam terowongan tanpa support perangkat berat seperti buldoser," ujar Asish Gurung, pemandu gunung nan terlibat dalam tindakan penyelamatan.

Dukungan internasional mulai mengalir, termasuk tim unik dari Tiongkok, India, dan Korea Selatan. Total support luar negeri nan tercatat telah melampaui AS$42 juta (sekitar Rp660 miliar). Namun, International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) memperingatkan potensi banjir susulan akibat akumulasi 2,5 juta meter kubik air di perbatasan, sehingga pemindahan tetap dilakukan dengan kewaspadaan tinggi. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia