Krisis Energi AI: Google Hadapi Masalah Besar pada Listrik

Sedang Trending 3 hari yang lalu
 Google Hadapi Masalah Besar pada Listrik Ilustrasi.(Magnific)

GOOGLE sekarang menghadapi peran baru nan menantang sebagai pemain utama di sektor energi. Raksasa teknologi ini terpaksa diterjunkan ke dalam kebijakan jaringan listrik nan rumit demi mengatasi lonjakan kebutuhan daya untuk pusat data kecerdasan buatan (AI).

Marsden Hanna, Kepala Kebijakan Energi dan Keberlanjutan Google, mengungkapkan bahwa halangan terbesar bagi pertumbuhan pusat info saat ini adalah kemacetan jaringan listrik. Dalam podcast Energy POLITICO, dia menyebut bahwa perusahaan utilitas sering kali memberikan perkiraan waktu tunggu antara lima hingga sepuluh tahun bagi perusahaan nan mau mendapatkan jasa hubungan jaringan baru.

Kebutuhan daya nan masif untuk pengembangan AI menempatkan Google di tengah perdebatan politik mengenai kenaikan biaya energi, perubahan iklim, dan percepatan teknologi baru. Google sekarang aktif mencari sumber daya di seluruh Amerika Serikat, termasuk mempertimbangkan pembangkit listrik tenaga gas alam baru, sementara regulator dan kreator kebijakan berjuang mengimbangi permintaan nan melonjak.

Tantangan Regulasi dan Infrastruktur

Meskipun memerlukan percepatan pembangunan infrastruktur, Google menolak untuk mendukung rancangan undang-undang perizinan Senat setebal 400 halaman. Meski RUU tersebut bermaksud mempercepat proyek jaringan listrik, terdapat ketentuan nan mewajibkan industri teknologi untuk ikut membiayai prasarana daya nan mereka gunakan secara intensif.

Hanna menjelaskan bahwa Google lebih memilih jasa nan terhubung langsung ke jaringan listrik utama. Namun, lantaran kemacetan jaringan, banyak perusahaan teknologi terpaksa membangun sistem tenaga berdikari (behind-the-meter) nan sering kali memicu protes masyarakat lantaran penggunaan generator gas alam alias diesel nan dianggap menakut-nakuti kesehatan publik.

Dampak terhadap Target Emisi

Lonjakan kebutuhan daya AI juga mempersulit komitmen Google untuk mencapai emisi nol bersih (net-zero emissions) pada tahun 2030. Berdasarkan laporan lingkungan tahunan perusahaan, emisi Google naik 18% tahun lampau dibandingkan tahun 2024, nan sebagian besar disebabkan oleh operasional AI.

Sebagai langkah mitigasi, Google melakukan beberapa langkah strategis:

  • Investasi Nuklir: Menandatangani kesepakatan senilai US$4,3 miliar (sekitar Rp67 triliun) selama 20 tahun dengan Constellation Energy untuk meningkatkan kapabilitas reaktor nuklir.
  • Teknologi Konduktor: Bermitra dengan CTC Global untuk menggunakan konduktor canggih nan dapat mengekstraksi lebih banyak daya dari jalur transmisi nan ada.
  • Energi Terbarukan Masa Depan: Berinvestasi pada teknologi tahap awal seperti panas bumi (geotermal) dan nuklir tingkat lanjut.

Hanna menekankan bahwa struktur insentif saat ini bagi perusahaan utilitas sering kali menghalang inovasi, lantaran mereka condong mendapatkan untung dari proyek modal baru daripada efisiensi sistem nan sudah ada. Google berambisi ada arahan baru dari Komisi Pengatur Energi Federal (FERC) dapat mendorong utilitas untuk lebih mempertimbangkan solusi teknologi guna mengatasi kemacetan daya ini. (Politico/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑