Pasuruan -
Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Wonokerto, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, memulai upaya dengan modal nan terbatas. Saat dibentuk pada April 2025, koperasi tersebut hanya mempunyai sekitar 26 personil dengan biaya terkumpul kurang dari Rp 3 juta.
Kini, KDMP Wonokerto mengelola dua unit usaha, ialah gerai sembako dan sarana produksi pertanian. Omzet campuran kedua unit tersebut berada di kisaran Rp 200 juta hingga Rp 260 juta per bulan.
Perjalanan itu bermulai ketika M. Yusril Suhendra terpilih sebagai Ketua KDMP Wonokerto melalui musyawarah desa unik pada 21 April 2025. Saat itu, koperasi menetapkan simpanan pokok Rp 100 ribu dan simpanan wajib Rp 10 ribu per bulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada saat itu awal terbentuk kita beranggotakan tetap kurang lebih 26 anggota, dan terkumpul biaya dari personil kurang lebih tidak sampai Rp3 juta, Rp2 juta sekian," kata Yusril kepada detikcom belum lama ini.
Dengan modal awal nan terbatas tersebut, pengurus tidak perlu mengalokasikannya untuk mendirikan gedung bentuk dari nol. KDMP Wonokerto memanfaatkan Gedung Serbaguna nan sebelumnya telah dibangun oleh pemerintah desa menggunakan anggaran desa. Di gedung itulah nan sekarang beralih bentuk menjadi minimarket, koperasi mulai merintis aktivitas penjualan pada Juni 2025.
Pada tahap awal, upaya dijalankan secara berjenjang dan sederhana. Karena belum mempunyai modal cukup untuk membeli stok, koperasi memanfaatkan kerja sama dengan pemasok menggunakan sistem konsinyasi. Barang disuplai terlebih dulu dan pembayaran dilakukan setelah produk terjual.
"Karena kita tidak ada modal, sistemnya seperti itu. Supply peralatan dari Bulog dan ID Food, ada beras, ada gula, ada minyak, ada air mineral waktu itu, di-supply dari sana, dibayar ketika laku," ujar Yusril.
Koperasi juga bekerja sama dengan dua pemasok es krim nan meminjamkan freezer. Langkah tersebut dipilih lantaran letak gedung koperasi berdekatan dengan sejumlah sekolah, seperti SD, TK, dan MTs. Mereka pun mulai menjual komoditas harian seperti beras, minyak, gula, air mineral, hingga es krim tersebut.
Perkembangan upaya kemudian melesat setelah koperasi memperoleh pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). Koperasi sebelumnya mengusulkan pembiayaan Rp 1,3 miliar, nan kemudian disetujui sebesar Rp 864,4 juta dan cair pada September 2025. Setelah biaya cair, pengurus mulai menata gerai dengan pendampingan konsultan ritel selama sekitar 35 hari.
Foto: Dok. Akfa Nasrulhak/detikcom
Pada akhir Oktober 2025, minimarket KDMP Wonokerto resmi beraksi penuh dengan konsep ritel modern. Sejak saat itu, jumlah peralatan nan dijual bertambah dan aktivitas perdagangan koperasi meningkat pesat.
Yusril mengatakan omzet koperasi sebelum memperoleh pembiayaan LPDB belum mencapai Rp 50 juta per bulan. Setelah dua unit upaya berjalan, omzet campuran meningkat hingga berada di kisaran Rp 200 juta-Rp260 juta per bulan.
"Untuk omzet kita sebelum ada pembiayaan dari LPDB lantaran hanya beberapa item saja nan kita jual, satu bulan belum sampai Rp 50 juta. Setelah ada pembiayaan, saat ini kita kurang lebih di Rp 260 juta untuk dua gerai," tuturnya.
Menurut Yusril, kontribusi terbesar berasal dari gerai sembako lantaran kebutuhan pokok menjadi peralatan nan paling banyak dicari masyarakat. Omzet minimarket saat ini disebut berada di kisaran Rp 7 juta-Rp 9 juta per hari, meski nomor tersebut dapat berubah tergantung jenis peralatan dan program promosi.
Bukan Hanya Menjual, KDMP Wonokerto Turut Membuka Akses Pasar
Pertumbuhan KDMP Wonokerto tidak hanya terlihat dari omzet koperasi. Pengurus juga berupaya menjadikan gerai tersebut sebagai ruang pertemuan antara produk lokal, pedagang kecil, dan konsumen.
Sejumlah UMKM di sekitar desa dapat menitipkan produk mereka melalui koperasi. Produk nan masuk antara lain asinan mangga, cokelat karakter, es mambo, makanan ringan bungkusan ulang, telur asin, dan keripik pisang jenis rasa.
Salah satu produk nan masuk ke gerai tersebut adalah asinan mangga buatan Anita Kurniawati. Produk itu dibuat secara musiman dengan memanfaatkan hasil kebun mangga miliknya, terutama ketika nilai mangga sedang turun.
Melalui koperasi, Anita tidak hanya mengandalkan penjualan dari lingkungan pertemanan dan status WhatsApp. Produk asinan mangga miliknya dapat ditawarkan kepada konsumen nan datang ke gerai, sekaligus diperkenalkan melalui aktivitas promosi koperasi.
Sistem penitipan dilakukan secara konsinyasi. Anita mengirimkan produk ke koperasi, sedangkan pembayaran diberikan berasas jumlah nan terjual. Produk nan belum terjual bakal dikembalikan setelah dilakukan pengecekan stok.
Yusril mengatakan koperasi juga membantu mempromosikan produk UMKM melalui media sosial. Sejumlah produk lokal Wonokerto apalagi pernah dibawa dalam aktivitas pameran di Jakarta untuk memperluas jangkauan pemasaran.
Membangun Kolaborasi dengan Warung Sekitar
Kehadiran minimarket koperasi sempat menimbulkan kekhawatiran dari sejumlah pemilik toko kelontong di sekitar Wonokerto. Mereka menganggap koperasi berpotensi menjadi pesaing baru.
Namun, pengurus KDMP memilih pendekatan berbeda. Pemilik warung justru diajak berasosiasi sebagai personil dan memanfaatkan koperasi sebagai tempat kulakan.
Yusril mengatakan sejumlah toko di sekitar koperasi sekarang membeli barang, termasuk LPG, dari KDMP. Dengan begitu, warung tetap dapat menjual kembali peralatan kepada penduduk dengan nilai nan lebih kompetitif.
"Banyak penduduk nan mempunyai toko protes dengan hadirnya koperasi. Kita bisa menyikapi itu dengan membujuk berasosiasi menjadi personil koperasi. Nanti kita bisa memberi nilai nan lebih murah, sehingga toko-toko kelontong di sekitar bisa menjual dengan nilai nan sama dengan nan dijual di koperasi," jelasnya.
Menurut Yusril, pola tersebut juga membantu masyarakat mendapatkan LPG dengan nilai lebih rendah. Sebelum koperasi hadir, penduduk disebut membeli gas LPG 3 Kg dengan nilai sekitar Rp 20 ribu-Rp 21 ribu. Kini, nilai di koperasi berada di kisaran Rp 18 ribu.
Konsumen saat berbelanja di gerai sarana produksi pertanian KDMP Wonokerto Foto: Dok. Akfa Nasrulhak/detikcom
Selain menjadi tempat shopping warga, KDMP juga menyediakan sarana produksi pertanian, seperti pupuk dan pestisida. Sebelumnya, petani kudu membeli kebutuhan tersebut ke luar desa, apalagi ke luar kecamatan.
Melalui unit saprodi, petani dapat memperoleh kebutuhan pertanian dengan jarak nan lebih dekat. Sejumlah pemasok juga memberikan edukasi mengenai penggunaan produk dan dosis nan diperlukan untuk tanaman, termasuk mangga.
Perluas Akses Pasar Melalui Media Sosial
Pengurus KDMP Wonokerto tidak hanya mengandalkan letak gerai untuk menarik pembeli. Mereka menggunakan TikTok, Instagram, dan WA sebagai saluran promosi sekaligus jasa komunikasi dengan masyarakat.
Konten nan dibuat mengikuti tren media sosial, tetapi tetap diarahkan untuk mempromosikan peralatan dan jasa koperasi. Produk nan paling sering dipromosikan antara lain beras dan minyak goreng dengan nilai sesuai ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Melalui media sosial, koperasi juga menginformasikan promo, program undian, serta jasa pengaduan nan terhubung dengan kasir, ketua, dan sekretaris. Akun TikTok koperasi disebut telah mempunyai lebih dari 400 pengikut dengan nyaris 50 konten.
Koperasi juga mengembangkan kartu personil dengan sistem barcode. Setiap transaksi personil dapat dicatat dalam pedoman info dan dikonversi menjadi poin nan nantinya dapat ditukarkan melalui program penghargaan pada akhir tahun.
Di kembali pertumbuhan omzet, KDMP Wonokerto tetap menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan tenaga kerja. Pengurus menyebut perekrutan pekerja belum dilakukan secara luas lantaran biaya operasional dan penghasilan tetap berjuntai pada pendapatan koperasi.
Untuk menjaga operasional, pengurus menggandeng konsultan ritel dan konsultan laporan keuangan. Sistem kasir juga digunakan untuk memantau pergerakan stok, sedangkan pemeriksaan stok dilakukan secara berkala.
Ke depan, KDMP Wonokerto berencana mengembangkan upaya baru, termasuk budidaya ikan lele alias nila. Pengurus juga menjajaki kesempatan kerja sama dengan pengelola program Makan Bergizi Gratis agar hasil budidaya alias produk pangan lokal dapat masuk ke rantai pasok kebutuhan makanan.
(akn/ega)
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·