Ilustrasi: Aktivitas logistik di pelabuhan. Insiden satu kontainer reefer kosong pada rute Jakarta–Natuna memicu sorotan mengenai koordinasi pengedaran pangan melalui tol laut.(MI/Hendri Kremer)
DISTRIBUSI logistik ke wilayah perbatasan kembali mendapat sorotan tajam. Satu unit kontainer berpendingin (reefer container) milik Tol Laut dilaporkan berangkat dalam kondisi kosong dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Pelabuhan Selat Lampa, Natuna. Insiden ini mengakibatkan pasokan daging ayam kaku untuk masyarakat Natuna merosot tajam hingga 15 ton pada bulan ini.
Kontainer nan diangkut oleh KM Logistik Nusantara 4 tersebut semestinya menjadi tumpuan stabilitas pangan di Natuna. Namun, akibat kegagalan muat, volume pasokan nan biasanya mencapai 45 ton (tiga kontainer) sekarang menyusut menjadi hanya 30 ton.
Data Fakta:
- Armada: KM Logistik Nusantara 4
- Defisit Pasokan: 15 Ton daging ayam beku
- Lokasi Kejadian: Rute Jakarta (Tanjung Priok) – Natuna (Selat Lampa)
- Penyebab: Miskomunikasi antara pengirim dan pemasok
Lemahnya Koordinasi Logistik Perbatasan
Kepala Cabang PT Sarana Bandar Logistik (SBL) Natuna, Anto Raswanto, membenarkan penurunan drastis pasokan tersebut. "Bulan lampau ada tiga kontainer alias sekitar 45 ton. Karena satu kontainer kosong, bulan ini hanya sekitar 30 ton nan masuk ke Natuna," ungkapnya, Jumat (6/5).
Kondisi ini memicu kekecewaan di kalangan pengguna jasa Tol Laut. Muncul keheranan kenapa kontainer nan sudah tercantum dalam manifes dan apalagi telah disegel, bisa berangkat tanpa isi. Hal ini dinilai sebagai corak pemborosan ruang (slot) pada rute Jakarta–Natuna nan kapabilitas reefer-nya sangat terbatas.
Dalih Miskomunikasi dan Kesiapan Pemasok
Pihak ekspedisi melalui Staf Operasional PT Multi Terminal Indonesia (MTI) Cabang Natuna, Tarkim, mengakui adanya kejadian "kontainer hantu" tersebut. Ia berkilah perihal itu terjadi lantaran aspek teknis di lapangan, bukan kesengajaan.
"Memang ada satu kontainer nan kosong. Itu bukan aspek kesengajaan, melainkan lantaran miskomunikasi. Hingga pemisah waktu closing muatan, peralatan belum tersedia. Kemungkinan pemasok belum siap lantaran stok alias aspek libur Lebaran," jelas Tarkim.
Meskipun kontainer kosong, kapal tetap diberangkatkan demi menjaga agenda pelayaran (schedule). Dalam sistem logistik, status ini disebut sebagai "barang ketinggalan kapal", namun kontainernya tetap terangkut lantaran sudah masuk dalam perencanaan operasional.
Desakan Evaluasi Total
Para pelaku upaya di Natuna mendesak adanya transparansi dan pertimbangan menyeluruh dari operator Tol Laut dan pemerintah daerah. Kejadian ini dianggap merugikan kepentingan publik di wilayah perbatasan nan sangat berjuntai pada pasokan luar daerah.
Koordinasi nan jelek antara pengirim, pemasok, dan pihak ekspedisi tidak boleh dibiarkan, mengingat Tol Laut adalah program subsidi negara nan bermaksud untuk menekan disparitas nilai dan menjamin kesiapan pangan di wilayah terpencil. (HK/I-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·