Konsolidasi PDIP Jatim, Megawati: Bung Karno Sebut Surabaya 'Dapur Nasionalisme'

Sedang Trending 38 menit yang lalu
Ketua Umum PDIP, Prof. Dr. (H.C.) Megawati Soekarnoputri, saat meresmikan pembaharuan Istana Gebang nan terletak di Jl. Sultan Agung No.59, Sananwetan, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur, Senin (15/6/2026). Foto: Dok. PDIP

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menegaskan Jawa Timur, khususnya Surabaya, mempunyai posisi krusial dalam sejarah perjuangan dan pembentukan pemikiran Presiden Pertama RI Soekarno alias Bung Karno. Bahkan, Bung Karno menyebut Surabaya sebagai “Dapur Nasionalisme”.

“Dalam perspektif ideologis dan historis, Jawa Timur sangat penting. Karena Bung Karno lahir, dibesarkan, dan menggembleng diri di Jawa Timur ini. Surabaya, Mojokerto, dan Blitar penuh dengan rekam jejak sejarah perjuangan Bung Karno. Beliau sendiri menyebut Surabaya merupakan ‘Dapurnya Nasionalisme’,” ujar Megawati saat memberikan pengarahan dalam Konsolidasi PDI Perjuangan Jawa Timur di Surabaya, Minggu (23/8).

Megawati mengatakan, di Surabaya, Bung Karno menamatkan pendidikan di HBS (Hoogere Burgerschool) sekaligus belajar kepada HOS Tjokroaminoto. Dalam kondisi serba terbatas, Bung Karno tinggal di sebuah ruangan sempit tanpa jendela dan hanya menggunakan penerangan lampu teplok. Namun, dari tempat sederhana itulah Bung Karno mematangkan pemikiran intelektual dan pendapat perjuangannya.

Megawati menggambarkan gimana melalui buku-buku nan dibacanya, Bung Karno berbincang secara intelektual dengan beragam tokoh dan ahli filsafat dunia, mulai dari Thomas Jefferson, George Washington, William Gladstone, Karl Marx, Sun Yat-sen, Mustafa Kemal Atatürk, Jean-Jacques Rousseau, hingga para ahli filsafat dan pejuang kemerdekaan dari beragam bangsa di dunia.

“Surabaya dengan demikian menjadi tempat di mana Bung Karno menggembleng diri menjadi patriot nan tangguh. Dari usia nan begitu muda, 16 tahun, beliau telah berimajinasi dan kemudian berjuang untuk Indonesia Merdeka,” urai Megawati.

Presiden Kelima RI itu mengatakan generasi muda saat ini dapat belajar dari Bung Karno mengenai kekuatan pemikiran, imajinasi, keberanian, dan perjuangan. Menurut Megawati, Bung Karno merupakan contoh seorang anak muda nan hidup dalam keterbatasan, tetapi mempunyai visi besar dan pandangan jauh ke depan tentang masa depan bangsanya.

“Surabaya pada tahun 1916 sudah menjadi pusat kapitalisme global. Namun Bung Karno bisa membuktikan bahwa kekuatan kolonialisme terbesar di dunia, ialah Hindia Belanda, bisa dikalahkan melalui kemerdekaan Indonesia. Jadikan ini sebagai pembelajaran bagi anak-anak muda untuk berani bermimpi. Bung Karno berjuang dari sosok pemuda miskin, namun punya cita-cita besar dan berjuang bagi cita-citanya,” beber Megawati.

Megawati pun meminta seluruh simpatisan, anggota, dan kader PDIP mempunyai gelora dan semangat perjuangan nan terus menyala. Apa pun tantangan nan dihadapi, kata dia, kader kudu bisa menjadikan PDIP sebagai salah satu kekuatan politik terpenting di Pulau Jawa.

Megawati meminta seluruh kader menjadikan pemikiran dan perjuangan Bung Karno sebagai jalan penggemblengan diri dalam menjalankan tugas-tugas kepartaian.

“Sebab Bung Karno sendirilah nan mengatakan bahwa Surabaya adalah Dapurnya Nasionalisme. Artinya, di sini menjadi tempat penggodokan, penggemblengan, bagi lahirnya pejuang dan patriot-patriot bangsa nan tangguh,” kata Megawati.

Di tengah pragmatisme politik saat ini, Megawati menekankan pentingnya kekuatan ide, imajinasi, strategi, dan militansi dalam berpolitik. Ia mengingatkan kader agar tidak menempatkan duit dan kekuasaan sebagai segala-galanya dalam perjuangan politik.

Menurut Megawati, kekuatan utama PDIP justru terletak pada ideologi, semangat juang, serta kedekatan dan pergerakan berbareng rakyat di akar rumput. Karena itu, melalui konsolidasi tersebut, Megawati memerintahkan seluruh jejeran PDIP Jawa Timur untuk semakin memperkuat pedoman dan kerja politik di tengah masyarakat.

“Perkuatlah akar rumput. Jadikan spirit penggemblengan Bung Karno sebagai sumber energi, khususnya di Jawa Timur,” ujar Megawati.

Megawati juga kembali mengingatkan pentingnya membangun emotional bonding alias ikatan emosional, baik dengan rakyat maupun di antara sesama kader partai. Ikatan tersebut dinilai krusial untuk memperkuat soliditas sekaligus menjaga hubungan PDIP dengan masyarakat.

Megawati berambisi Jawa Timur betul-betul kembali menjadi “Kandang Banteng”, dengan sasaran perolehan bangku setidak-tidaknya menyamai capaian PDIP pada Pemilu 2019.

Ia mengingatkan bahwa militansi kader PDIP di Jawa Timur telah teruji dalam perjalanan sejarah, termasuk ketika menghadapi tekanan politik pada masa Orde Baru.

“Ingat, ketika menghadapi tekanan Orde Baru pun, Jawa Timur datang sebagai kekuatan pendobrak. Pandegiling dan Sukolilo menjadi bukti militansi arek-arek Banteng Jawa Timur,” pungkas Megawati.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan