Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik di perbatasan Israel-Lebanon kembali memasuki fase nan lebih berbahaya. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militernya memperluas operasi darat ke wilayah Lebanon meski gencatan senjata telah diumumkan lebih dari enam pekan lalu.
Langkah tersebut menandai eskalasi terbaru dalam pertempuran melawan golongan Hizbullah nan didukung Iran dan memicu kekhawatiran internasional bakal meluasnya perang di kawasan.
Dalam pernyataan pada Minggu (31/5/2026), Netanyahu menegaskan bahwa dirinya telah menginstruksikan militer Israel untuk memperdalam operasi di Lebanon selatan.
"Saya menginstruksikan (militer) untuk memperluas manuver daratnya di Lebanon," kata Netanyahu, dilansir Reuters.
Perang di Lebanon menjadi limpahan bentrok terbesar dari perang Iran nan dimulai sejak Hizbullah meluncurkan roket dan drone ke wilayah Israel pada 2 Maret sebagai corak support terhadap sekutunya, Iran. Sejak saat itu, serangan udara Israel dan perintah pemindahan massal telah memaksa lebih dari 1,2 juta penduduk Lebanon mengungsi dari rumah mereka.
Menurut pemerintah Lebanon, sedikitnya 3.370 orang telah tewas akibat operasi militer Israel. Sementara Israel menyatakan 24 tentaranya dan empat penduduk sipil tewas selama periode nan sama. Puluhan ribu penduduk Israel di wilayah utara juga terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat serangan roket dan drone Hizbullah.
Dalam perkembangan terbaru, militer Israel mengumumkan pasukannya telah merebut Kastel Beaufort nan berumur sekitar 900 tahun serta punggungan strategis di Lebanon selatan.
Keberhasilan itu terjadi sehari setelah salah satu gelombang serangan Hizbullah paling intens sejak gencatan senjata April lampau menghantam wilayah utara Israel. Serangan tersebut memicu penutupan sekolah dan pembatasan aktivitas di sejumlah daerah.
Militer Israel menyatakan operasi di area Kastel Beaufort difokuskan untuk menguasai Beaufort Ridge dan wilayah Wadi al-Saluki. Operasi tersebut juga bermaksud melemahkan keahlian tempur Hizbullah serta prasarana golongan itu nan disebut dibangun dengan pengarahan Iran.
Satu tentara Israel dilaporkan tewas dalam operasi tersebut.
Penguasaan Kastel Beaufort memberi untung besar bagi Israel. Lokasi berhistoris tersebut berada di titik tinggi nan memungkinkan pasukan Israel mengawasi sebagian besar wilayah Lebanon selatan dan Israel utara.
Dari area itu pula, menurut militer Israel, beragam serangan terhadap wilayah permukiman Israel sebelumnya dilancarkan.
Ini merupakan pertama kalinya Israel kembali menguasai Kastel Beaufort sejak Mei 2000, ketika negara itu menarik pasukannya dari Lebanon selatan setelah pendudukan selama 18 tahun.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan pasukan negaranya bakal tetap mempertahankan kastel tersebut sebagai bagian dari area keamanan Israel di Lebanon selatan.
"Kampanye ini belum berakhir," kata Katz. "Kita semua berkeinginan menghancurkan kekuatan Hizbullah."
Katz apalagi membagikan foto Kastel Beaufort nan dipasangi bendera Israel dan bendera Brigade Golani melalui media sosial.
Belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Lebanon maupun Hizbullah mengenai perkembangan terbaru tersebut.
Namun, Talal Atrissi, guru besar sosiologi di Universitas Lebanon nan dikenal dekat dengan Hizbullah, menilai pemasangan bendera Israel di atas Kastel Beaufort mempunyai makna politik nan lebih luas.
Menurut Atrissi, foto tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan kepada masyarakat Israel bahwa militer tetap bisa mencapai target-target krusial di Lebanon meskipun menghadapi tantangan besar dari penggunaan drone oleh Hizbullah.
Selain di Beaufort, militer Israel juga menyatakan pasukannya beraksi di sekitar Nabatieh, salah satu pedoman utama Hizbullah di Lebanon selatan.
Sementara itu, Hizbullah disebut makin banyak menggunakan drone bunuh diri berbiaya murah nan mudah dirakit namun susah dicegat sistem pertahanan udara Israel. Drone-drone tersebut dilaporkan telah menewaskan sejumlah tentara Israel di Lebanon selatan.
Sebelumnya, pasukan Israel telah menguasai wilayah hingga Sungai Litani. Kini mereka bergerak lebih jauh ke utara menuju Sungai Zaharani, sekitar 10 kilometer dari posisi sebelumnya.
Netanyahu mengatakan tujuan operasinya adalah untuk "memperdalam dan memperluas cengkeraman kami di tempat-tempat nan sebelumnya berada di bawah kendali Hizbullah."
Dorongan untuk memperluas operasi juga datang dari rival politik Netanyahu. Naftali Bennett, nan diperkirakan menjadi penantang Netanyahu dalam pemilu mendatang, menyerukan tindakan nan lebih keras terhadap Lebanon, termasuk kemungkinan serangan ke area pinggiran Beirut.
Militer Israel pada Minggu juga mengeluarkan peringatan pemindahan bagi penduduk nan tinggal di selatan Sungai Zaharani.
Menurut instansi buletin pemerintah Lebanon, delapan orang tewas setelah serangan udara semalam menghantam Desa Deir El Zahrani pada Sabtu malam.
Sepanjang hari Minggu, sumber keamanan Lebanon dan media pemerintah setempat melaporkan lebih dari 40 serangan Israel terjadi di beragam wilayah Lebanon selatan.
Meningkatnya intensitas pertempuran membikin Prancis meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar pertemuan darurat pada Senin.
Kementerian Luar Negeri Prancis menyatakan langkah tersebut diambil lantaran kekhawatiran terhadap eskalasi kekerasan nan terus meningkat di Lebanon.
Permintaan itu muncul hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat mempertemukan perwakilan pertahanan Israel dan Lebanon di Washington dalam upaya mendorong rencana perdamaian nan dimediasi Washington sekaligus membahas pelucutan senjata Hizbullah.
Pada 15 Mei lalu, kedua pihak sebenarnya telah menyepakati perpanjangan gencatan senjata selama 45 hari.
(luc/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·