Ilustrasi.(Dok Istimewa)
KOMANDAN tertinggi Amerika Serikat nan mengawasi pasukan di Timur Tengah, Laksamana Brad Cooper, menyatakan kebutuhan mendesak bakal tambahan persenjataan unik untuk menyerang target-target nan terkubur jauh di bawah tanah. Hal ini menyusul tren negara-negara musuh nan semakin masif memindahkan prasarana militer strategis mereka ke bawah permukaan bumi guna menghindari serangan udara.
Dalam dengar pendapat dengan Komite Angkatan Bersenjata DPR AS pada Selasa (19/5), Kepala Komando Pusat AS (Centcom) tersebut memaparkan daftar kemauan kapabilitas militer nan dia butuhkan. Cooper menekankan tiga prioritas utama yaitu peperangan elektronik (electronic warfare), teknologi kontra-UAS (sistem udara tak berawak) nan mutakhir, dan investasi lebih besar pada senjata penghancur sasaran bawah tanah nan keras (hard and deeply buried targets).
"Semua orang mulai bergerak ke bawah tanah," ujar Cooper di hadapan para personil dewan, merujuk pada strategi musuh untuk melindungi aset paling berbobot mereka.
Pelajaran dari Operasi Midnight Hammer
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Tahun lalu, AS meluncurkan Operation Midnight Hammer, operasi serangan udara nan menargetkan tiga akomodasi nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Dalam operasi tersebut, militer AS untuk pertama kali menggunakan peledak GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP) dalam pertempuran nyata.
Sebanyak 14 unit GBU-57 dilepaskan selama serangan tersebut. Bom ini merupakan salah satu senjata nonnuklir terberat dan paling kuat dalam penyimpanan senjata AS, dengan berat mencapai 30.000 pon (sekitar 13,6 ton). Saat ini, hanya pesawat pengebom siluman B-2 Spirit nan bisa membawa peledak raksasa tersebut secara internal.
GBU-57 dirancang untuk menembus tanah hingga kedalaman 200 kaki (sekitar 60 meter) sebelum meledak. Namun, efektivitas kedalamannya sangat berjuntai pada kekerasan material nan dihantam, seperti beton bertulang nan digunakan pada akomodasi nuklir Iran.
Pengembangan Next Generation Penetrator (NGP)
Meskipun GBU-57 terbukti ampuh, Angkatan Udara AS sekarang tengah mengembangkan penerusnya nan disebut Next Generation Penetrator (NGP). Proyek ini diserahkan kepada firma riset Applied Research Associates dengan Boeing nan bertanggung jawab atas pengembangan sistem ekor (tail kit) peledak tersebut.
Senjata generasi baru ini diharapkan mempunyai spesifikasi sebagai berikut:
| Bobot Maksimal | 22.000 pon (Lebih ringan dari GBU-57) |
| Navigasi | Mampu beraksi di lingkungan tanpa sinyal GPS |
| Efek Ledakan | Kombinasi daya ledak (blast) dan fragmentasi |
Ketegangan nan Terus Meningkat
Di sisi lain, situasi geopolitik di area tetap panas. Laksamana Cooper juga mempertahankan keberhasilan Operation Epic Fury, nan diklaim sukses mendegradasi keahlian rudal, drone, dan pedoman industri pertahanan Iran. Namun, operasi ini menyisakan akibat signifikan, termasuk penutupan Selat Hormuz nan telah berjalan selama lebih dari satu bulan.
Presiden Donald Trump baru-baru ini mengungkapkan bahwa dia sempat berada satu jam lagi dari perintah serangan baru terhadap Iran, tetapi membatalkannya lantaran ada kemajuan dalam negosiasi. Menanggapi perihal tersebut, Teheran menakut-nakuti bakal menyulut bentrok di luar area jika AS dan Israel memutuskan untuk melanjutkan serangan militer.
Catatan Redaksi: Kebutuhan bakal senjata penghancur bunker ini menandai babak baru dalam perlombaan teknologi militer. Pasalnya, perlindungan bawah tanah menjadi tantangan utama bagi supremasi udara Amerika Serikat di Timur Tengah. (Business Insider/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·