“Aduh besok aja ya nak, sekarang beli es krim saja”, ucap seorang ibu kepada anak laki-lakinya seraya mengalihkan perhatiannya dari mainan. Anak tersebut hanya mengangguk, dan buru-buru menyambar es krim coklat nan disodorkan oleh orang tuanya. Sang ibu pun terlihat lega. Alasannya mudah dipahami, nilai mainan tersebut setara dengan empat alias lima es krim.
Bagi sebagian anak mini mengoleksi peralatan nan tergolong sebagai “mainan” adalah sebuah keharusan. Maka tidak heran mereka melakukan beragam banyak hal, mulai dari menabung duit THR nan diberikan saudaranya, hingga merengek dan mengamuk. Sebagian besar anak-anak pasti melewati fase mau mengoleksi mainan, tetapi seiring berjalannya waktu, masa-masa tersebut semestinya memudar. Setidaknya itulah nan banyak orang bayangkan.
Kenyataannya, perihal tersebut tidak terjadi. Belakangan ini kerap kali ditemui orang-orang dewasa nan membeli ataupun mengoleksi barang-barang nan “dianggap” untuk anak kecil, mulai mobil-mobilan, action figure, hingga kartu-kartu koleksi. Mereka apalagi rela merogoh kocek nan besar demi mempunyai mainan tersebut. Lebih-lebih mereka juga meluangkan waktu untuk berjumpa dalam organisasi dengan kegemaran nan serupa.
Tentu, menjadi sebuah pertanyaan kenapa orang dewasa rela mengeluarkan duit dalam jumlah nan tidak sedikit untuk membeli benda-benda nan dianggap sekedar mainan? Mengapa pula mereka juga bersedia mengalokasikan waktu untuk berkumpul dengan orang-orang nan mempunyai kegemaran serupa?
Ketika Mainan Jadi Mesin Waktu
Salah satu jawaban atas pertanyaan tersebut adalah nostalgia. Bagi sebagian orang, action figure, mobil-mobilan, hingga kartu koleksi menjadi perangkat kembali ke masa lampau alias ke masa anak-anak, masa di saat semuanya lebih senang dan lebih mudah untuk dipahami.
Di masa itu kebahagiaan dapat dicapai dengan bermain mobil-mobilan berbareng kawan hingga sore hari alias menonton animasi favorit. Seiring dengan bertambahnya usia dan tanggung jawab, momen-momen tersebut mulai terganti. Oleh lantaran itu, mobil-mobilan menjadi pengingat bakal masa ketika seseorang belum memikirkan pekerjaan dan urusan-urusan “dewasa” lainnya.
Di sisi lain, barang-barang koleksi tersebut merepresentasikan hal-hal nan dulu tidak bisa mereka miliki. Entah lantaran terlalu mahal alias apalagi lantaran tidak diizinkan oleh orang tuanya. Sehingga, di saat sudah hidup berdikari dan mempunyai pendapatan, seseorang akhirnya mempunyai kesempatan untuk memenuhi cita-cita nan bertahun-tahun tertunda.
Namun, nostalgia tidak cukup menjadi argumen untuk menjawab kejadian tersebut. Jika tujuan akhir adalah mempunyai barang nan dulu diinginkan, maka aktivitas tersebut semestinya hanya sebatas membeli peralatan dan mengoleksinya. Akan tetapi, banyak kolektor justru menghadiri pameran, berasosiasi dengan organisasi nan mempunyai minat serupa, dan hal-hal nan mengorbankan waktu. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak lagi mencari kepuasan dari mempunyai satu barang, melainkan juga mempunyai perihal nan lebih besar daripada itu, ialah komunitas.
Koleksi sebagai Bahasa
Subkultur dapat digambarkan sebagai sekelompok perseorangan nan mempunyai nilai, kebiasaan, dan norma nan khas. Hal-hal tersebut membedakan mereka dengan budaya masyarakat nan lebih luas. Dengan demikian, personil subkultur tidak hanya mempunyai minat nan sama, tetapi juga mempunyai identitas kolektif, “metode” berinteraksi, hingga simbol nan kemudian menjadi pembeda dengan golongan lain.
Identitas, metode, hingga simbol terbentuk atas interaksi-interaksi nan muncul. Interaksi nan muncul dari menghabiskan waktu hingga berjam-jam untuk membahas mengenai sejarah sebuah produk, langkah merawat, hingga langkah mendapat koleksi tertentu, dan apalagi menilai keaslian produk adalah proses nan membentuk “bahasa” tersendiri di dalam subkulturnya.
Dengan demikian, terjadi pergeseran pada peran benda-benda koleksi, miniatur mobil-mobilan tidak lagi sebatas menjadi mainan alias barang koleksi saja. Mereka beralih bentuk menjadi sebuah medium nan menghubungkan seseorang dengan komunitasnya. Tentu saja, benda-benda koleksi juga menegaskan identitas pemiliknya sebagai personil dari golongan tertentu.
Komunitas di Tengah Kehidupan Orang Dewasa
Kebutuhan bakal organisasi bukanlah sesuatu nan hanya ditemukan dalam diri para kolektor saja. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, sebagai akibat dari perihal itu Ia selalu berupaya menemukan tempat nan sesuai dengan dirinya. Namun, kebutuhan tersebut semakin susah dipenuhi seiring dengan bertambahnya usia. Kesibukan akibat kerja, pendidikan, hingga urusan rumah tangga membikin kesempatan untuk menemukan tempat nan sesuai menjadi terbatas.
Dalam kondisi tersebut, kegemaran menjadi titik ekuilibrium nan mempertemukan pihak-pihak dengan minat nan serupa. Seorang kolektor tidak perlu repot-repot mencari topik untuk masuk ke dalam organisasi dan mengenal kolektor-kolektor lainnya. Mereka cukup berbincang atas minat terhadap produk, karakter tertentu, dan topik-topik nan erat kaitannya dengan itu. Topik-topik tersebut mudah untuk dibahas dan memang sesuai dengan minat mereka. Hal tersebut memunculkan rasa nyaman secara alami dan inilah nan mendorong hubungan sosial antar personil organisasi nan erat.
Fenomena orang dewasa mengoleksi benda-benda nan dianggap sebagai mainan anak kecil, tidak dapat disederhanakan alias disimplifikasi sebagai pemenuhan atas cita-cita masa mini maupun perangkat nostalgia semata. Dalam miniatur mobil, kartu, action figure tersimpan kebutuhan nan mendasar bagi setiap manusia, kebutuhan bakal identitas dan kelompok.
55 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·