KNKT: Masinis Argo Bromo Diminta Rem Dikit-dikit Sebelum Tabrak KRL

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
 Masinis Argo Bromo Diminta Rem Dikit-dikit Sebelum Tabrak KRL Petugas berupaya mengevakuasi penumpang nan tetap terjebak dalam gerbong KRL Commuterline nan berbenturan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026).(ANTARA/Dhemas Reviyanto)

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan kebenaran mengejutkan di kembali tragedi kecelakaan nan melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada April 2026 lalu. Ternyata, masinis kereta sigap tersebut sudah berupaya melakukan pengereman sejak jarak 1,3 kilometer.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menjelaskan bahwa pengereman nan dilakukan masinis tidak maksimal lantaran mengikuti petunjuk dari pusat kendali. Hal ini disampaikan dalam rapat kerja berbareng Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Instruksi Pengereman Bertahap

Soerjanto memaparkan bahwa masinis KA Argo Bromo Anggrek mulai mengerem setelah mendapat info dari Pengendali Jalur (PK) Timur mengenai adanya kejadian di perlintasan sebidang (JPL 85). Namun, pengarahan nan diterima masinis bukan untuk berakhir darurat.

"Pengereman masinis KA Argo Bromo Anggrek diminta dikit-dikit sehingga tidak maksimum. Masinis saat itu hanya diminta (mengerem) sembari membunyikan klakson," ujar Soerjanto di hadapan personil dewan.

Instruksi tersebut diberikan lantaran pusat kendali mengasumsikan gangguan hanya berupa temperan taksi di perlintasan, tanpa menyadari bahwa KRL KA 5568A di depannya terpaksa berakhir total lantaran jalur terhalang kerumunan massa pasca-kecelakaan taksi tersebut.

Sinyal Hijau dan Kecepatan Tinggi

Berdasarkan info black box dan rekaman persinyalan, KA Argo Bromo Anggrek melintas langsung di Stasiun Bekasi pada pukul 20.50 WIB dengan kecepatan 108 km/jam. Saat itu, aspek sinyal menunjukkan warna hijau, nan berfaedah jalur kondusif untuk dilalui dengan kecepatan normal.

Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, mempertanyakan kenapa tabrakan tetap terjadi jika pengereman sudah dilakukan dari jarak 1,3 km. "Kalau dia melakukan pengereman secara maksimal, itu kira-kira butuh 900 meter sampai 1.000 meter untuk berhenti. Ini kan 1,3 km tadi, Pak?" tanya Lasarus.

Menanggapi perihal itu, KNKT menegaskan bahwa aspek komunikasi dan ketidaklengkapan info mengenai kondisi lintasan di depan menjadi penyebab utama masinis tidak melakukan pengereman darurat sejak awal. Jeda waktu antara kecelakaan taksi dengan tabrakan antar-kereta nan hanya 3 menit 43 detik juga membikin koordinasi di lapangan menjadi sangat terbatas.

Data Fakta Detail Investigasi
Kecepatan Argo Bromo 108 km/jam
Jarak Mulai Pengereman 1,3 Kilometer
Jeda Waktu Insiden 3 Menit 43 Detik
Aspek Sinyal Hijau (Clear)

Hingga saat ini, KNKT tetap terus melakukan kajian mendalam terhadap rekaman komunikasi dan info teknis lainnya. Soerjanto menegaskan bahwa investigasi ini bermaksud untuk perbaikan sistem keselamatan transportasi kereta api di masa depan, bukan untuk mencari kesalahan perseorangan (no blame culture).

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia