Liputan6.com, Jakarta - Kematian dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni alias dokter Icha menyisakan duka mendalam bagi keluarga. Dokter muda nan bekerja di RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), itu meninggal bumi di rumah orang tuanya di Kabupaten Kupang pada Jumat 26 Juni 2026.
Sebelum meninggal, master Icha diduga mengalami intimidasi saat menangani pasien anak korban gigitan ular nan merupakan kerabat salah satu personil DPRD TTU. Menurut keluarga, sejumlah personil DPRD mendatangi Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu dan memprotes penanganan medis nan dilakukan master Icha.
Paman korban, Fabi Banase, menyebut tiga personil DPRD nan dimaksud adalah Veronika Lake dari PDI Perjuangan, Teres Lasaka dari Partai Golkar, dan Nobertu Bani dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Ia juga mengungkapkan dua dari tiga personil majelis tersebut diduga berada dalam pengaruh minuman keras saat mendatangi rumah sakit.
“Mereka dalam keadaan mabuk saat masuk ke ruang UGD,” ungkap Fabi, Sabtu (27/6/2026).
Fabi mengatakan, kondisi psikologis master Icha terus memburuk setelah kejadian tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan psikologis nan diterima keluarga, almarhumah didiagnosis mengalami bagian depresi berat tanpa indikasi psikotik dan sebelumnya sempat melakukan percobaan bunuh diri.
“Pada Rabu (23/6/2026), setelah pulang dari Kefamenanu, hasil pemeriksaan di Klinik Utama Dewantara menunjukkan almarhum mengalami depresi berat hingga sempat mencoba mengakhiri hidup,” jelas Fabi.
Keluarga juga menyebut master Icha sempat menjalani perawatan di RS Leona Kefamenanu akibat tekanan jiwa nan dialaminya.
Kronologi Dugaan Intimidasi
Menurut Victor Manbait, family master Icha, almarhumah telah menjalankan tugas sesuai standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit dan pengarahan master ahli anak. Namun, situasi memanas ketika family pasien meminta pemberian vaksin tertentu nan menurut pertimbangan medis belum dianjurkan dan tidak tersedia di rumah sakit.
Victor menyebut dua orang nan mengaku sebagai personil DPRD kemudian mendatangi ruang perawatan, melontarkan protes dengan nada tinggi, apalagi salah satunya disebut sempat menunjuk wajah master Icha.
"Dokter Icha mengaku tetap merasa ketakutan dan tertekan secara jiwa akibat bentakan nan diterimanya saat bertugas,” ungkap Victor.
Sementara itu, dua personil DPRD TTU nan disebut terlibat, ialah Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, membantah telah melakukan intimidasi terhadap tenaga medis.
“Kami tidak pernah beriktikad mengintimidasi tenaga medis. Informasi nan beredar tidak sesuai dengan realita nan sebenarnya terjadi,” kata Therensius.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·