Senyumnya begitu damai. Kerutan wajahnya menjadi saksi bisu perjalanan panjang seorang Jumaria bisa berada di Tanah Suci.
Nenek berumur nyaris 70 tahun ini merupakan salah satu jemaah haji Indonesia 2026. Ia perlu menabung puluhan tahun, duit hasil berkebun, untuk bisa berhaji.
Dengan bunyi pelan, Jumaria mengenang rutinitasnya sehari-hari mengumpulkan pundi-pundi untuk berhaji. Sejak pagi buta dia sudah berangkat ke sawah, membawa bekal seadanya demi menyambung hidup dan menabung.
"Kerja di sawah. Kalau pagi jam 6 pergi, bawa air separuh liter. Habis itu pulang. Pulang mandi, sudah mandi, makan. Sudah makan, tidur sedikit, baru salat," ujarnya di Madinah, Kamis (7/5).
Di kembali kesederhanaan itu, Jumaria justru menjadi wajah haji Indonesia di Saudi. Dia viral usai Otoritas Keimigrasian Kerajaan Arab Saudi mengunggah kisahnya untuk berhaji di kanal medsos @makkahroute.
Nenek Jumaria dipilih sebagai Ikon Haji 2026 ini lantaran kisahnya nan luar biasa. Ditambah lagi, kondisi fisiknya nan tetap segar dan kuat, di usianya nan tak lagi muda.
Di Indonesia, Nenek Jumaria hidup seorang diri di rumahnya di tengah sawah. Rumahnya itu cukup berjarak dari masyarakat lain di kampungnya.
Selama ini, si Jumaria menghabiskan waktunya dengan sibuk bertani. Tapi masyarakat dari Desa Kuru Sumange, Kecamatan Tanralili, Maros, Sulawesi Selatan itu, rupanya menjadikan aktivitas bertaninya bisa mengantarkannya ke Tanah Suci.
Si Nenek mengaku, hasil panen nan diperoleh tidak langsung dihabiskan untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagian disisihkan dan disimpan sedikit demi sedikit sebagai tabungan haji.
"Kalau sudah panen padi, saya jual, baru kusimpan," katanya.
Tak hanya dari sawah, dia juga menerima bayaran mini dari bekerja di kebun milik orang lain. Meski nominalnya tidak besar, seluruh duit itu tetap dia simpan dengan disiplin.
"Kadang Rp 500 (ribu), kadang Rp 700 (ribu). Ada lagi tu punya kebun nan ku kerja, dia kasih Rp 200 (ribu), saya simpan. Kalau ada makanan dibawakan, saya simpan semua Rp 200 (ribu)," tuturnya.
Bagi Jumaria, menyimpan duit menjadi perjuangan tersendiri. Ia tidak mempunyai tempat unik untuk menabung. Uang hasil kerjanya disembunyikan di beragam tempat sederhana agar kondusif dan tidak digunakan untuk kebutuhan lain.
"Kalau pertama dikasih, saya simpan begini. Bawah ini, bawah kasur. Jadi pergi, saya simpan mi di ember-ember," katanya.
Ia apalagi menyimpan duit itu di dekat tempat tidurnya lampau menutupinya dengan kain-kain jejak agar tidak diketahui orang lain.
"Di bawah tempat tidur. Bawa tempat tidurnya ya. Iya, baru saya tutup kain-kain jelek toh, agar tidak ada tahu. Gitu cucuku bilang 'ada duit di sini'," ujarnya sembari tersenyum kecil.
Tabungan itu terkumpul perlahan selama nyaris dua dekade. Ada kalanya dia hanya bisa menyimpan duit recehan, namun tekadnya untuk berhaji tidak pernah surut.
"Kadang Rp 50 (ribu), kadang Rp 20 (ribu), kadang Rp 100 (ribu), kadang Rp 200 (ribu) gitu, nyaris mi kapan 20 tahun," katanya.
Selama bertahun-tahun, dia berupaya keras agar duit nan sudah disimpan tidak terpakai untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan saat hidup serba kekurangan, dia memilih memperkuat dengan makanan seadanya.
Kesederhanaan itu dijalani tanpa keluhan. Saat tidak mempunyai lauk, dia memasak daun ubi nan ada di sekitar rumah agar tabungan hajinya tetap utuh.
"Ndak. Ambil saja anu, daun ubi, saya masak. Masak, masak nan ada saja. Iya. Saya tidak mau ambil itu nan kusimpan," katanya.
Sesekali, dia menikmati telur dari ayam peliharaannya untuk makan sehari-hari. Bagi Jumaria, hidup sederhana bukan masalah selama angan ke Tanah Suci tetap bisa diperjuangkan.
"Eh biasa anu, masak-masak sayur. Baru makan, Iya. Besok-besok bertelur ayam ku, saya ambil mi. Saya masak telur ayam," ujarnya.
Kini, seluruh perjuangan panjang itu terbayar lunas. Di Tanah Suci, Jumaria hanya bisa berterima kasih lantaran cita-cita nan dipendam selama puluhan tahun akhirnya menjadi kenyataan.
57 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·