Jemaah haji asal Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat, menggantikan kedua orangtua nan telah wafat.(MI/Yose Hendra)
LEBARAN tahun lampau menjadi hari raya terakhir nan dirasakan Dona Putra, 32, dan dua kerabat kandungnya berbareng kedua orangtuanya. Mereka kehilangan dua panutan dalam tahun nan sama.
Belum genap lenyap duka kepergian sang ayah, family kembali diuji dengan wafatnya sang ibu hanya dua bulan kemudian. Dalam waktu nan singkat, Dona dan saudaranya kehilangan dua sosok nan selama ini menjadi tempat mereka pulang.
Di tengah duka itu, tersimpan sebuah amanah nan tak pernah mereka bayangkan bakal datang begitu cepat. Dona Putra dan kakak keduanya Doni ditakdirkan menjadi jemaah haji Kloter 14 Embarkasi Padang asal Kabupaten Limapuluh Kota.
Kedua orangtua mereka telah mempunyai antrean haji sejak 2013 dan menanti waktu keberangkatan ke Tanah Suci. Namun takdir berbicara lain. Sebelum panggilan itu tiba, keduanya lebih dulu berpulang.
“Awalnya memang ada rasa sedih. Kami berangkat menggantikan orang tua nan sudah tidak ada. Tapi kami berdua memantapkan niat, mudah-mudahan haji nan kami lakukan juga menjadi kebaikan untuk almarhum dan almarhumah,” ujarnya, Sabtu (20/6).
Di usia 32 tahun, Dona tak pernah membayangkan bakal berangkat haji secepat ini. Bersama sang kakak, dia menerima pelimpahan porsi haji kedua orangtuanya. Namun, menerima amanah tersebut bukan berfaedah seluruh persoalan selesai.
Justru setelah proses pelimpahan dimulai, mereka dihadapkan pada realita lain: biaya pelunasan nan kudu segera disiapkan. Saat itu, Dona dan keluarganya belum mempunyai gambaran dari mana biaya pelunasan bakal diperoleh.
Bahkan di awal, mereka sempat berpikir hanya satu orang nan bakal berangkat lebih dulu.
“Kami sempat berpikir mungkin hanya satu orang nan bisa berangkat lantaran biaya pelunasan belum jelas. Tapi kami tetap berupaya dan berdoa,” kenangnya.
Harapan itu kemudian tumbuh dari kebun nan selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga. Sejak orang tua meninggal dunia, sang kakak memilih melanjutkan upaya family dengan mengelola kebun jeruk dan sawah di kampung laman mereka di Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Limapuluh Kota.
Tak ada nan menyangka, menjelang masa pelunasan haji, hasil panen justru datang melampaui perkiraan. Awalnya family hanya memperkirakan hasil panen sekitar 500 kilogram. Namun ketika musim panen tiba, hasil nan diperoleh mencapai dua hingga tiga kali lipat dari perkiraan semula.
Bagi family itu, panen tersebut bukan sekadar hasil kerja pertanian. Panen itu menjadi jalan nan membuka kesempatan bagi dua berkerabat tersebut untuk melunasi biaya haji dan berangkat berbareng menggantikan kedua orang tua mereka.
“Alhamdulillah, kami diberi rezeki oleh Allah. Dari hasil kebun itulah pelunasan bisa dilakukan,” katanya.
Jika sang kakak memperkuat mengelola kebun keluarga, Dona kudu mengambil keputusan berbeda. Demi menunaikan amanah tersebut, dia memilih melepaskan pekerjaannya sebagai tenaga kerja perusahaan aplikasi di Dharmasraya.
Menurutnya, waktu penyelenggaraan ibadah haji nan cukup panjang membuatnya susah memperoleh izin dari perusahaan tempat dia bekerja.
“Setelah Lebaran kemarin saya memutuskan resign. Karena waktu haji cukup lama dan tidak memungkinkan mengambil libur panjang,” ujarnya.
Keputusan itu bukan perkara mudah. Namun baginya, kesempatan menggantikan kedua orangtua untuk menunaikan ibadah haji adalah amanah nan tidak datang dua kali.
Kini, ketika akhirnya tiba di Tanah Suci berbareng sang kakak, emosi nan datang tetap bercampur aduk. Ada syukur lantaran dapat memenuhi panggilan Allah. Namun, ada pula kerinduan kepada kedua orang tua nan sejak lama mendambakan perjalanan tersebut.
Terlebih sang ibu semasa hidup sering menanyakan kapan agenda keberangkatan haji mereka.
“Kalau emosi memang kombinasi aduk. Ada sedih lantaran kami menggantikan orang tua. Apalagi ibu sering bertanya kapan berangkat haji. Tapi Alhamdulillah akhirnya kami bisa melaksanakan amanah ini,” tuturnya.
Di antara jutaan jemaah nan datang ke Tanah Suci setiap tahun, perjalanan Dona dan sang kakak mungkin hanya satu dari sekian banyak kisah.
Namun bagi mereka, ibadah haji tahun ini bukan sekadar perjalanan spiritual. Ini adalah perjalanan untuk menuntaskan angan nan belum sempat diwujudkan ayah dan ibu mereka.
Sebuah perjalanan nan dimulai dari kehilangan, dijalani dengan ikhtiar, dan akhirnya dipenuhi dengan rasa syukur ketika dua berkerabat itu dapat melangkah berbareng menuju Baitullah, membawa nama dan angan kedua orang tua nan telah lebih dulu berpulang. (YH/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·