Kisah Anak Buruh Sawit di Sabah: Mengubur Mimpi demi Kenyataan

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Akses pendidikan bagi anak pekerja sawit di area pedalaman Malaysia tetap dibayangi tantangan besar. Himpitan ekonomi dan keterbatasan akomodasi sering kali memaksa para Pekerja Migran Indonesia (PMI) menyudahi sekolah anak mereka sejak usia awal demi membantu bekerja di ladang.

Berikut adalah catatan emosional dan kisah nyata seorang anak pekerja migran nan berjuang merajut asa di tengah perkebunan pohon kelapa sawit Giram, Kunak, Sabah, Malaysia.

Sumber: Dokumen Pribadi, Papan nama selamat datang Ladang Giram tempat PMI dan anak pekerja sawit bekerja.

Bagi seorang anak nan lahir, dan berkembang di area pedalaman perkebunan kelapa sawit, alam bumi itu sempit. Duniaku hanyalah sebatas pohon-pohon sawit nan berbanjar rapi namun angkuh, pelepah-pelepah berduri nan siap menggores kulit, dan debu jalanan perkebunan nan mengepul setiap kali truk pengangkut buah lewat di sampingku.

Sejak kecil, aroma tanah basah dan buah kelapa sawit matang sudah menempel di hidung, dan menjadi bagian dari napasku. Saat anak-anak lain bermain dengan ponsel pandai mereka, saya hanya bermain dengan sebuah karung kecil.

Tugasku sangat sederhana namun bagiku itu sangat melelahkan, mengikuti jejak kaki orang tua nan beranjak dari satu pohon ke pohon lainnya, membungkuk mengelilingi setiap pohon demi memungut brondolan kelapa sawit matang nan jatuh berceceran setelah dipanen.

"Jangan ada sisa satu pun nan tertinggal, kudu bersih," begitulah pesan tegas dari orang tuaku nan tidak pernah luput dari ingatan dewasaku. Setiap brondolan kelapa sawit adalah bagian dari keberlanjutan hidup family kami.

Tangan nan tetap mini ini perlahan menebal dan menghitam, mulai berkawan dengan duri. Di bawah terik matahari, berlindung di kembali bentangan pelepah sawit nan melebar luas, tempat family mini kami berlindung. Aku sering mencuri pandang menatap langit biru.

Di dalam hati, saya berpikir, "Apakah sampai tua hidupku bakal terus seperti ini?" Sebuah pertanyaan pilu nan saya tahu, apalagi orang tuaku tidak bakal pernah sanggup untuk menjawabnya.

Secercah angan nan redup terlalu cepat

https://catatanclcgiram.blogspot.com/2017/05/, Pendidikan anak pekerja migran Indonesia di Sabah

Jauh sebelum Sekolah Humana hadir, ruang belajar pertamaku sebenarnya hanyalah sebuah perspektif sunyi di dalam masjid perkebunan tempat kami tinggal, nan kami sebut dengan Ruang Bilik KAFA (Kelas Al-Quran dan Fardu Ain). Di sanalah, di antara kemandang angan dan lantunan ayat suci Al-Quran nan menyejukkan hati, tangan kecilku untuk pertama kalinya dituntun untuk mengenal guratan huruf dan angka.

Bilik KAFA di masjid itu sekarang telah menjadi kenangan, angan baru nan lebih besar kembali tumbuh saat pusat belajar komunitas, Humana 128, resmi datang di perkebunan kami. Di Humana-lah, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasakan bangganya mengenakan seragam sekolah.

Di sana pula, untuk kedua kalinya, saya kembali mengeja kata demi kata dengan sinar mata nan berbeda. Rasanya luar biasa bahagia. Bagiku saat itu, selembar kain seragam dan setiap huruf nan kubaca adalah sepasang sayap dan jendela ajaib nan siap membawaku terbang menuju bumi luar, bumi luas nan selama ini sengaja disembunyikan dari takdir anak ladang sepertiku.

Namun, rasa senang itu tidak cukup lama. Akses nan terbatas dan pekerjaan orang tua mulai tidak stabil lantaran pergantian tuan perkebunan, membikin orang tua terpaksa untuk berakhir kerja dari ladang lantaran tuntutan nan tidak dapat dipenuhi. Belum lagi tuntutan ekonomi family memaksa saya berakhir di tengah jalan.

Langkah kakiku diseret kembali ke realitas; hamparan ladang sawit nan luas tak bertepi. Di usia nan tetap sangat muda, saya kudu menerima realita pahit bahwa saya putus sekolah. Cahaya nan sempat datang ibaratkan permata ditelan juga oleh gelapnya realitas kehidupan.

Aku tidak lagi di Ladang Giram, melainkan ikut berbareng dengan abang pertamaku. Waktu itu orang tuaku tidak bisa membawa diriku lantaran beragam pertimbangan. Meskipun berat sekali rasanya tidak dapat berbareng dengan orang tuaku, tapi siapalah saya nan bisa mengubah takdir itu?

Kala keputusasaan menyelimuti diriku, saya hanya bisa memaksakan diri untuk mengucapkan sepatah dua kata bahwa saya baik-baik saja. Di benakku kala itu biarlah waktu membawa saya dan keluargaku ke tempat nan memerlukan kami.

Meskipun pada akhirnya saya tetap tetap di ladang kelapa sawit menetap berbareng abangku dan tidak ada sekolah di tempat baruku, tapi saya mencoba berbaikan dengan keadaan. Aku menarik napas panjang, membendung sesak berat nan tak dapat kutahan lagi.

“Biarlah saya mengubur dulu mimpi-mimpiku untuk keluar dari selimut sawit ini. Aku dengan segenap keputusasaanku hanya bisa berambisi dengan jalan nan sudah ditentukan ini, ekonomi family bakal segera membaik seiring dengan berjalannya waktu,” harapku dalam hati, meski nurani mini terus berbisik lirih, “Tidak ada nan bisa berubah.”

Angin segar bagi anak pekerja sawit di Ladang Giram

Tahun-tahun berlalu berbareng dengan rutinitas nan membunuh mimpiku. Sampai pada suatu sore nan gerah, tanpa sengaja saya mendengar berita nan tetap samar-samar di telingaku.

"Kalian sudah dengar? Katanya ada sekolah baru mau dibuka," ucap salah satu pekerja dengan bunyi separuh berbisik, seolah itu adalah sebuah rahasia besar.

"Ah, paling seperti nan sudah-sudah. Sekolah hanya dasar saja, lenyap itu kerja lagi jadi pekerja kelapa sawit, tidak ada perubahan," sahut nan lain, skeptis.

"Bukan, ini beda. Katanya sekolah resmi dari Indonesia. Tempatnya di Ladang Giram, jadi setelah Humana kelas enam bisa lanjut ke sekolah Indonesia itu."

Kata 'Ladang Giram' dan 'sekolah' malam itu terus berdengung di telingaku. Di tengah keputusasaan nan sudah mengakar, berita burung itu tiba-tiba memicu sebuah letupan mini di dalam dada. Rasa penasaran nan besar bercampur dengan secuil angan nan dulu sempat mati.

Apakah ini jalan keluar nan saya doakan selama ini, alias justru hanya kekecewaan baru nan siap mematahkan hati dan mengubur lebih dalam mimpi-mimpiku lagi?

Referensi:

https://haisawit.co.id/news/detail/sabah-masih-bergantung-pada-pekerja-sawit-indonesia-konsulat-ri-dorong-penyaluran-resmi

https://kumparan.com/kumparanbisnis/indonesia-setop-sementara-kirim-tki-ke-malaysia-gara-gara-apa-1ySkZrlIkIM/full

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan