Ketekunan Mislicha, 65 Tahun Jualan Cilok untuk Naik Haji

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Surabaya, CNN Indonesia --

Ketekunan dan kerja keras. Dua perihal itulah nan dipegang teguh oleh Mislicha Kasib (85).

Mislicha adalah seorang lansia pedagang cilok nan berkesempatan menjadi calon jemaah haji tahun ini.

Sosok asal Bugul Kidul, Pasuruan, Jawa Timur, itu bercerita soal perjuangannya untuk bisa menjadi Tamu Allah di Baitullah, Mekkah, Arab Saudi pada musim haji 1447 H/2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setiap hari, saat orang lain tetap terlelap, Mislicha sudah bergulat di dapur sejak pukul 02.00 WIB awal hari, untuk menyiapkan adukan tepung cilok dan ramuan kacang, hingga siap dijajakan pada pukul 08.00 WIB pagi.

"Usia saya 85, ciloknya bikinnya sendiri. Bikinnya dari pagi, subuh sudah di dapur jam 02.00 WIB. Jualan cilok di SMP 5 Jalan Trunojoyo setiap hari. Mulai [berjualan] jam 08.00 WIB," kata Mislicha, Jumat (24/3).

Meski usianya tak lagi muda, Mislicha tetap bersikeras mendorong gerobaknya sendiri menuju tempat jualan nan berjarak satu kilometer dari rumahnya.

Jika rasa capek menyerang, jamu tradisional menjadi satu-satunya kawan untuk memulihkan tenaganya.

"Suka nyurung rombong, berangkat pulang nyurung sendiri. Sekitar 1 kilo dari rumah ke tempat jualan. Kalau pegel-pegel [dorong gerobak] minum jamu," tuturnya.

Dari hasil keringatnya mendorong gerobak dan berbisnis cilok, Mislicha mendapatkan penghasilan nan tidak seberapa, ialah sekitar Rp50 ribu per hari jika sedang ramai.

Namun, dengan tekad nan bulat, Mislicha tidak pernah tidakhadir menyisihkan duit antara Rp10 ribu hingga Rp15 ribu setiap harinya ke dalam celengan. Di tambah lagi hasil arisan nan di dapatnya.

Mislicha itu mengaku titik terberat dalam hidupnya adalah saat ditinggal suaminya 12 tahun silam.  Ia juga kudu berupaya sendirian untuk membesarkan kedelapan anaknya dengan hanya mengandalkan pendapatan dari jualan cilok.

"Jualan cilok, sedikit sedikit nabung, arisan seminggu Rp80 ribu. Kalau nggak, nabung nggak bisa, lantaran pengeluarannya banyak. Sudah 65 tahun jualan cilok. Nabung dikit dikit Rp10-15 ribu," ujar dia.

Hingga akhirnya pada 2017 lalu, Mislicha bisa mendaftarkan diri untuk mendapat bangku antrean haji. 

Dus, penantian selama sembilan tahun pun berbuah manis. Mislicha nan masuk dalam Kloter 10 Embarkasi Surabaya, sekarang bersiap terbang menuju Tanah Suci.

"Senang perasaannya. Menunggu sembilan tahun," ucapnya.

Ketekunan dan kerja keras Mislicha membuktikan niat ke Tanah Suci bisa terwujud bukan lantaran besarnya penghasilan, melainkan lantaran senantiasa beristikamah.

Kini, Mislicha hanya membawa satu angan sederhana menuju Tanah Suci ialah kesehatan bagi dirinya dan anak-anaknya. Dari delapan buah hatinya, dua telah mendahuluinya, dan dia berambisi sisa usianya bisa membawa berkah bagi keluarga.

Dalam perjalanan ke Tanah Suci nanti, Mislicha didampingi putri bungsunya, Mariatul Qibtiyah (35).

Mariatul yang awalnya pekerja pabrik mengaku memutuskan mengikuti jejak sang ibu berdagang cilok demi bisa menabung dan mendampingi ibu tercinta ke Tanah Suci.

"Ibu dulu daftar 2017 terus saya menyusul 2020, baru kepikiran buat ndampingi emak. Nabung di bank kadang Rp100-200 ribu per bulan. Kalau sisa shopping beli tepung, bawang, ditaruh di celengan," kata Mariatul.

Banner Microsite Haji 2026

(frd/kid)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional