Ilustrasi(Dok Istimewa)
Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pasca-ultimatum militer dari Gedung Putih sekarang berada di titik kritis. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran dunia nan mulai diwaspadai berkapak pada peta keamanan domestik Indonesia, menyusul ancaman Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran nan siap memperluas medan perang ke luar wilayah Timur Tengah.
Ancaman serangan militer AS di bawah Presiden Donald Trump direspons menantang oleh IRGC pada Rabu (20/5/2026). Melalui saluran resmi Sepah News, IRGC menegaskan siap membawa konfrontasi baru ini ke wilayah-wilayah nan tidak pernah dibayangkan oleh AS maupun Israel.
Mengingat status IRGC nan telah dimasukkan ke dalam daftar Organisasi Teroris Asing (FTO) oleh AS sejak 2019, serta resmi dideklarasikan sebagai organisasi teroris oleh Uni Eropa pada Januari 2026, seruan perang terbuka ini dinilai patut diwaspadai oleh Indonesia.
Kriminolog nan berfokus pada rumor terorisme, Tegar Bimantoro, menilai ancaman ekspansi perang tersebut bukan sekadar retorika geografis. Efek domino nan paling instan dan rawan bagi Indonesia justru berbentuk manifestasi kejahatan ideologis di dalam negeri.
"Dinamika ini membuka ruang bagi munculnya multiperspektif dan banyak skenario ancaman nan kudu dipetakan untuk kajian keamanan ke depan," ujar Tegar melalui keterangannya, Kamis (21/5/2026).
Untuk membaca arah mobilitas jangka pendek, Tegar menyoroti dua skenario krusial nan berpotensi terjadi di Indonesia akibat ketegangan tersebut. Pertama, aktivasi sel tidur dan tindakan lone wolf. Pernyataan perang terbuka dari golongan sebesar IRGC dapat menjadi pemantik (trigger) bagi golongan ekstremis lokal. Momentum kekacauan dunia ini rawan dimanfaatkan oleh sel-sel tidur, baik nan berafiliasi dengan ISIS/Sunni maupun simpatisan golongan militan lainnya, untuk bangkit dan melakukan tindakan teror berdikari (lone wolf) di dalam negeri sebagai corak solidaritas.
Kedua, propaganda narasi anti-Barat dan rapid radicalization. Ia mengatakan eskalasi militer AS nyaris selalu digunakan oleh golongan radikal lokal sebagai narasi "Barat menyerang Islam". Sentimen ini menjadi bahan bakar utama propaganda daring nan memicu proses radikalisasi sigap di media sosial, mempermudah rekrutmen jaringan teror, serta mengarahkan kebencian pada aset-aset Barat di Indonesia.
Tegar membedah gimana skenario narasi tersebut dapat beralih bentuk menjadi tindakan teror nyata di tanah air melalui ruang siber. Meskipun secara geografis Indonesia sangat jauh dari area Asia Barat, perseorangan di dalam negeri nan terpapar konstan pada narasi penindasan di ruang siber dapat dengan mudah mempelajari teknik, motif, dan rasionalisasi tindakan radikal untuk diterapkan di wilayahnya sendiri.
Selain aspek digital, ketegangan sosial (social strain) akibat bentrok makro bumi turut menciptakan tekanan emosional nan dahsyat bagi perseorangan nan sudah mempunyai kerentanan ideologis.
"Ketika mereka merasa frustrasi memandang situasi dunia tetapi tidak bisa mengubahnya secara politik, mereka melampiaskan tekanan tersebut melalui sistem koping (coping mechanism) nan menyimpang, ialah dengan melakukan tindakan teroristik domestik sebagai corak 'balas dendam' substitutif," ujar Tegar.
Tegar mengingatkan bahwa di era modern, batas geografis tidak lagi bertindak dalam penyebaran mengerti radikal. Oleh lantaran itu, di samping kesiagaan penuh 24 jam dari abdi negara keamanan TNI dan Polri di bawah komando Panglima TNI dan Kapolri, pengetatan patroli di ruang digital serta penemuan awal menjadi kunci utama untuk mencegah pengaruh domino dunia ini terjadi di tanah air.(H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·