(MI/Seno)
SEORANG mahasiswa tingkat akhir buntu menggarap skripsi pada tengah malam. Tidak ada pesan untuk pembimbing alias kawan sekamar. nan terbuka justru aplikasi logika imitasi (AI). Mahasiswa itu mengetik keluhan, lampau merasa didengar untuk sesaat. Adegan itu bukan fiksi dan terjadi di nyaris setiap kampus di Indonesia.
Selama ini perdebatan tentang AI di kampus berkutat pada kecurangan akademik, plagiarisme, dan autentisitas karya mahasiswa. Padahal, ada persoalan nan lebih dalam dan nyaris luput: apa nan terjadi pada jiwa mahasiswa ketika mesin menggantikan manusia dalam urusan paling manusiawi, ialah kebutuhan untuk dimengerti, bercerita, dan merasa tidak sendirian.
KESEPIAN DIGITAL
Riset terbaru menunjukkan AI kandas menyembuhkan kesepian. Constance Noonan Hadley dari Boston University dan Sarah Wright dari University of Canterbury pada tahun ini meneliti lebih dari 1.500 pekerja berbasis pengetahuan di Amerika Serikat.
Tiga perempat responden memakai AI melampaui urusan teknis, apalagi menganggapnya 'teman kerja'. Meski AI tersedia 24 jam dan tak pernah menghakimi, lebih dari separuh responden tetap kesepian. Hanya satu dari delapan orang merasa lebih ringan setelah berbincang dengan AI.
Temuan dari ruang kuliah lebih mengkhawatirkan. Joseph Crawford dan koleganya di Monash University menemukan mahasiswa nan menyandarkan support emosional pada AI justru lebih kesepian, berprestasi lebih rendah, dan lebih rentan berakhir kuliah jika dibandingkan dengan mereka nan tetap bersandar pada sesama manusia.
Paradoksnya menusuk. Semakin sering mahasiswa 'berbicara' dengan AI, semakin dalam rasa sunyi nan sesungguhnya. nan paling gencar mencari support dari AI rupanya mereka nan sudah paling kesenyapan sejak awal. AI bukan obat kesepian, melainkan tempat pelarian bagi nan telanjur merasa tidak terhubung.
Daya tarik AI mudah dipahami. Bagi mahasiswa nan malu bertanya di kelas alias resah pada malam hari, AI terasa seperti jawaban. Namun, mesin tidak betul-betul mengenal seseorang dan tidak bisa memberi tatapan nan berbicara 'kamu tidak sendirian'.
Para peneliti menyebut indikasi itu hubungan parasosial, ialah relasi satu arah nan terasa nyata, tetapi kosong pada sisi seberang, persis seperti penonton nan merasa 'berteman' dengan tokoh serial televisi. Perasaan itu nyata, tetapi tidak timbal balik, dan tidak sanggup memenuhi kebutuhan paling mendasar manusia: pengakuan dari sesama nan sama-sama rentan dan tidak sempurna.
OTOT SOSIAL YANG MENGEMPIS
Universitas bukan perpustakaan, bukan pula mesin pencetak gelar. Universitas adalah organisasi hidup nan tumbuh dari percakapan di selasar, debat di kantin, mentoring di kembali pintu separuh terbuka, dan solidaritas diam-diam antarsesama nan berjuang.
Di IPB University, kami menyaksikan sendiri gimana kejadian itu bergerak diam-diam. Mahasiswa nan giat bertanya kepada AI hingga larut malam, tetapi membisu ketika pengajar membuka sesi tanya jawab. Tugas nan dikumpulkan terasa rapi dan nyaris sempurna, tetapi penulisnya tergagap saat ditanya.
Bukan lantaran mereka tidak mau tumbuh, justru sebaliknya. Mereka mau berhasil, tetapi mencari jalan termudah untuk merasa aman, dan AI menawarkan rasa kondusif itu tanpa akibat dihakimi. Itulah nan membikin persoalan tersebut tidak kasatmata hingga tiba-tiba menjadi jarak nan susah dijembatani.
Keterampilan sosial bekerja seperti otot: menguat ketika dilatih dan melemah ketika dibiarkan. Ketika mahasiswa terbiasa membawa kebutuhan emosional kepada AI alih-alih kepada manusia, ada nan perlahan mengempis, ialah keahlian membaca isyarat, membangun kepercayaan, dan datang sepenuhnya di hadapan orang lain.
Persoalan itu tidak berakhir pada mahasiswa. Dosen pun mulai menyerahkan urusan paling manusiawi kepada AI: dari umpan kembali tugas hingga surat rekomendasi. Padahal, perihal mini itulah nan paling membekas: tatapan menguatkan saat mahasiswa ragu, raut senang saat mereka berhasil, dan pengarahan nan betul-betul hadir, bukan sekadar jawaban dari kejauhan.
Ketika pengajar kehilangan refleks kemanusiaan, universitas kehilangan keteladanan. Padahal, keteladanan justru mendidik jauh melampaui isi kurikulum mana pun.
LIMA LANGKAH UNIVERSITAS
Solusinya bukan melarang AI. Larangan semacam itu naif sekaligus kontraproduktif, seperti melarang kalkulator pada era aljabar. nan dibutuhkan adalah kebijakan nan tidak sekadar menjaga kejujuran akademik, tetapi juga melindungi kualitas hubungan antarmanusia. Lima langkah berikut bisa diambil universitas sekarang.
Pertama, ukur perihal nan selama ini luput diukur. Universitas sudah lama mengukur IPK dan tingkat kelulusan, tetapi kualitas hubungan mahasiswa dengan pengajar pembimbing pun layak diukur berkala. nan tidak diukur tidak bakal pernah terkelola.
Kedua, tetapkan pemisah tegas antara wilayah AI dan wilayah manusia. Bimbingan akademik, konseling, dan mentoring pekerjaan kudu tetap menjadi jantung hubungan manusia. Cecilia Chan dari University of Hong Kong menyarankan pembagian area bebas AI, area berbantuan AI, dan area wajib manusia, nan dapat disesuaikan dengan konteks Indonesia.
Ketiga, arahkan waktu nan dihemat AI untuk perjumpaan manusia. Waktu nan dihemat dari pekerjaan teknis semestinya kembali ke hubungan bermakna, bukan menjadi beban kerja tambahan. Diskusi golongan mini dan mentoring individual bukanlah pelengkap, melainkan inti pengalaman kampus.
Keempat, latih pengajar mengenali mahasiswa nan berlindung di kembali AI. Ketika seorang mahasiswa tidak pernah datang bimbingan, tidak pernah bertanya, selalu mengirim tugas tetapi tidak pernah berdialog, itu bisa jadi sinyal. Mahasiswa itu tengah membangun tembok dan AI menjadi salah satu batu batanya. Dosen nan terlatih dapat menjangkau sebelum jarak terlalu jauh.
Kelima, susun kebijakan AI secara bersama, bukan dari atas ke bawah. Mahasiswa perlu dilibatkan dalam merumuskan aturannya sendiri. Kebijakan nan dirasakan sebagai milik berbareng jauh lebih efektif daripada izin nan terasa seperti pembatasan.
MEMORI YANG BERTAHAN
Satu pertanyaan sering saya ajukan kepada diri sendiri sebagai pemimpin universitas: apa nan kelak diingat mahasiswa tentang masa kuliahnya? Jawabannya bukan secanggih apa AI nan pernah dipakai, melainkan percakapan jujur dengan pengajar nan betul-betul mendengar, kawan nan menemani begadang saat krisis, dan mentor nan memandang potensi mereka, apalagi ketika mereka meragukan diri sendiri.
Universitas dahsyat bukan nan paling sigap mengangkat teknologi terbaru, melainkan nan bisa menjaga dirinya tetap menjadi tempat manusia bertumbuh melalui perjumpaan dengan manusia lain. Teknologi boleh berganti setiap tahun, tetapi kebutuhan manusia untuk diakui, didengar, dan dipercaya tidak pernah berubah sejak pembimbing pertama melangkah berbareng muridnya.
Tugas kita bukan memilih antara AI dan manusia. Tugas kita memastikan AI datang untuk melayani kemanusiaan, bukan menggantikannya, sehingga kampus tetap menjadi salah satu tempat paling manusiawi di dunia.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·