Kepemimpinan Perempuan di Ruang Publik: Investasi Kesejahteraan Keluarga Asia Pasifik

Sedang Trending 56 menit yang lalu
 Investasi Kesejahteraan Keluarga Asia Pasifik Diskusi Komisi 4 pada Konferensi Keluarga Asia Pasifik nan digelar di Jakarta, Sabtu (12/9).(MI/HO)

PERAN strategis perempuan sebagai pemimpin dalam pembangunan bangsa menjadi sorotan utama dalam obrolan Komisi 4 pada Konferensi Keluarga Asia Pasifik nan digelar di Jakarta, Sabtu (12/9). Para master sepakat bahwa memperkuat kepemimpinan perempuan bukan sekadar rumor kesetaraan, melainkan investasi langsung bagi kesejahteraan keluarga dan kemajuan masyarakat di area Asia Pasifik.

Diskusi nan dipandu oleh Dr. Paramitha Messayu ini menghadirkan dua narasumber kompeten, ialah master politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. R. Siti Zuhro dan praktisi serta akademisi Ledia Hanifa, M.Psi.T. Keduanya membedah urgensi kepemimpinan wanita melalui tujuh aspek utama nan mencakup bagian sosial, ekonomi, hingga politik.

Tantangan dan Data Keterwakilan

Meskipun kontribusi wanita terbukti berakibat positif pada kesejahteraan keluarga, obrolan mengungkap adanya halangan budaya, sosial, dan struktural nan tetap persisten. Hal ini diperkuat dengan info statistik terkini di area Asia Pasifik nan menunjukkan tetap rendahnya partisipasi wanita di sektor-sektor strategis.

Indikator Keterwakilan Perempuan (2024) Persentase Sumber Data
Keterwakilan di Parlemen Kawasan Asia Pasifik 23% Inter-Parliamentary Union (IPU)
Lulusan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, Matematika) 23% UNDP

Transformasi Sistemik dan Kolaborasi

Prof. Siti Zuhro menekankan bahwa keberhasilan kepemimpinan wanita kudu bergeser dari sekadar representasi nomor (kuantitatif) menuju pengaruh substantif dan transformasi sistemik. Menurutnya, orientasi kekuasaan kudu diubah dari mendominasi (power over) menjadi bekerja-sama (power with) nan berbasis pada visi, etika, dan nilai publik.

"Penting untuk menata partai politik sebagai sekolah kepemimpinan berbasis meritokrasi serta menyediakan ekosistem pendukung bagi policy leader. Karakter kepemimpinan nan empatik, inklusif, kolaboratif, dan responsif merupakan potensi utama untuk menciptakan public value," jelas Siti Zuhro.

Membangun Ekosistem Pendukung

Senada dengan perihal tersebut, Ledia Hanifa menyoroti pentingnya penokohan wanita nan dibangun melalui nilai, karakter, kompetensi, dan karya nyata. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan wanita memerlukan sistem pendukung nan solid lantaran tidak ada pemimpin nan bisa tumbuh sendirian.

Ledia menawarkan solusi berupa penguatan empat pilar kapabilitas untuk mengatasi halangan budaya dan beban ganda, yaitu:

  • Literasi dan pendidikan sepanjang hayat.
  • Penguasaan soft skills.
  • Adaptasi teknologi digital.
  • Dukungan partai politik nan sehat dalam menyiapkan ruang bagi perempuan.

"Partai politik bekerja menyiapkan, melindungi, dan memberi ruang memimpin agar bunyi wanita menghasilkan kebijakan publik nan ramah keluarga," pungkas Ledia.

Selain rumor domestik, obrolan juga menyimpulkan bahwa kepemimpinan wanita sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan dunia seperti perubahan suasana dan disrupsi teknologi. Hal ini memerlukan kerjasama lintas negara dan kebijakan nan mendukung terciptanya ekosistem kepemimpinan nan inklusif. (Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia