Kemenhaj Siagakan Tim MCR di Kawasan Jamarat

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memperkuat jasa pelindungan jemaah haji Indonesia selama fase Mina dengan menyiagakan Mobile Crisis Rescue (MCR) di area Jamarat.

Tim itu disiapkan untuk memberikan pertolongan pertama, pemindahan darurat, serta membantu mengurai kepadatan jemaah selama penyelenggaraan lontar jumrah pada hari Tasyrik.

Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff mengatakan MCR menjadi salah satu instrumen krusial dalam penguatan jasa di titik-titik krusial pergerakan jemaah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"MCR alias Mobile Crisis Rescue adalah tim unik dan posko dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji nan disiagakan di area Jamarat, Mina. Tim ini bekerja memberikan pertolongan pertama, melakukan pemindahan darurat, dan membantu mengurai kepadatan jemaah selama puncak ibadah haji," ujar Maria dalam keterangan tertulis, Kamis (28/5).

Maria menjelaskan posko MCR ditempatkan di titik-titik strategis di area Jamarat dan rute perlintasan jemaah.

Penempatan itu dilakukan agar petugas dapat memantau situasi secara langsung, merespons sigap kondisi darurat, serta memberikan support kepada jemaah nan memerlukan penanganan segera.

"MCR dibentuk unik untuk merespons kondisi darurat, termasuk memberikan penanganan bagi jemaah nan pingsan, tersesat, mengalami kelelahan ekstrem, hingga melakukan pemindahan bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas," ujarnya.

Ia mengatakan keberadaan MCR menjadi bagian dari ikhtiar Kemenhaj memastikan setiap situasi di lapangan dapat ditangani secara cepat, tepat, dan terkoordinasi.

"Pelindungan jemaah adalah prioritas. Karena itu, petugas tidak hanya berada di tenda-tenda jemaah, tetapi juga disiagakan di jalur pergerakan, pos pantau, dan titik-titik nan berpotensi terjadi kepadatan. Setiap jemaah nan memerlukan support kudu bisa segera ditangani," ujar Maria.

Pada 11 Dzulhijjah 1447 H, jemaah haji Indonesia mulai melaksanakan lontar tiga jamarah, ialah Ula, Wustha, dan Aqabah.

Kemenhaj mengimbau seluruh jemaah untuk mengikuti agenda lontar nan telah ditetapkan bagi masing-masing kloter dan tidak melaksanakan lontar di luar agenda resmi.

Adapun pada 11 Dzulhijjah, penyelenggaraan lontar jumrah dijadwalkan dalam dua sesi, ialah sesi pertama pada 11 Dzulhijjah pukul 17.00 sampai 24.00 waktu Arab Saudi, dan sesi kedua pada 12 Dzulhijjah pukul 00.00 sampai 04.00 waktu Arab Saudi.

Waktu larangan melontar pada 11 Dzulhijjah bertindak pukul 11.00 sampai 18.00 waktu Arab Saudi.

Pada 12 Dzulhijjah, penyelenggaraan lontar jumrah dijadwalkan dalam dua sesi, ialah pukul 05.00 sampai 10.30 waktu Arab Saudi dan pukul 18.00 sampai 24.00 waktu Arab Saudi.

Waktu larangan melontar pada 12 Dzulhijjah bertindak pukul 11.00 sampai 14.00 waktu Arab Saudi.

Sementara pada 13 Dzulhijjah, penyelenggaraan lontar jumrah dijadwalkan pukul 05.00 sampai 12.00 waktu Arab Saudi, dan tidak ada waktu larangan unik sebagaimana tercantum dalam agenda resmi.

Maria kembali mengingatkan jemaah agar tidak memaksakan diri dan tidak berangkat sendiri menuju Jamarat.

Seluruh pergerakan kudu dilakukan secara berkelompok, didampingi petugas, serta mengikuti pengarahan ketua kloter, ketua rombongan, ketua regu, sektor, dan pembimbing ibadah.

"Kami mengimbau jemaah untuk tidak terburu-buru dan tidak memaksakan diri. Ikuti jadwal, gunakan jalur resmi, dan jangan memisahkan diri dari rombongan. Keselamatan jemaah kudu menjadi perhatian bersama," kata Maria.

(yoa/sfr)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional