Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti(MI/Despian Nurhidayat)
MENGHADAPI maraknya kejadian perundungan siber (cyberbullying) di era digital, Kemendikdasmen resmi memperluas konsep pusat pendidikan menjadi empat pilar, ialah sekolah, rumah, masyarakat, dan media sosial. Upaya tersebut diperkuat melalui kebijakan pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah sebagai bagian dari ikhtiar membangun budaya nan kondusif dan nyaman bagi murid.
Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Perlindungan Anak pada Puncak Peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
"Kita sekarang sedang mengembangkan budaya kondusif dan nyaman, lantaran memang banyak sekali perundungan terjadi. Tidak hanya perundungan bentuk tapi juga perundungan nan dilakukan melalui media digital alias cyberbullying,” ungkap Abdul Mu'ti dilansir dari keterangan resmi, Selasa (28/7).
Sebagai tindak lanjut dari komitmen tersebut, Kemendikdasmen menerbitkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Regulasi ini menjadi pedoman bagi satuan pendidikan dalam memperkuat upaya pencegahan beragam corak kekerasan dan perundungan, termasuk perundungan siber nan semakin marak di era digital. Aturan ini mengatur batas penggunaan gawai bagi siswa di bawah usia 16 tahun dengan skema screen time (durasi), screen zone (lokasi), dan screen break (waktu rehat total).
Abdul Mu’ti melanjutkan bahwa perlindungan siswa merupakan tanggung jawab berbareng nan melibatkan sinergi antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan media. Ia mengibaratkan bahwa mendidik seorang anak memerlukan peran kolektif seluruh penduduk alias ‘satu kampung’, lantaran penguatan karakter di sekolah dan rumah tidak bakal efektif jika lingkungan masyarakat di sekitarnya tidak memberikan pengaruh positif.
Sejalan dengan perihal tersebut, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, membagikan pengalaman berharganya mengenai akibat jelek gawai terhadap hubungan orang tua dan murid. Ia menekankan bahwa lemahnya komunikasi di rumah sering kali menjadi penyebab utama anak terpapar pengaruh negatif sebelum diketahui oleh orang tua.
"Ternyata komunikasi antara anak dengan orang tua tidak terjadi. Maka tembok ini tidak melangkah di rumah. Ya, mungkin lantaran sudah sibuk sendiri-sendiri sehingga akhirnya tidak cerita, anak tidak merasa terbuka untuk cerita apa nan dialami dalam kesehariannya," ujar Emil Dardak.
Melalui momentum Hari Anak Nasional 2026 ini, Kemendikdasmen berbareng organisasi masyarakat berkomitmen untuk terus mendampingi siswa agar tumbuh menjadi generasi nan sehat, cerdas, dan berbudi pekerti melalui pemanfaatan teknologi nan bertanggung jawab. (Des/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·