Kembali Gelar Ajang LADC untuk Dorong Arsitektur Kolaboratif dan Berkelanjutan

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Kembali Gelar Ajang LADC untuk Dorong Arsitektur Kolaboratif dan Berkelanjutan Ilustrasi(Dok spesial )

LIXIL kembali menggelar arena LIXIL Architectural Design Competition (LADC) 2026 sebagai bagian dari komitmen mendorong perkembangan industri arsitektur dan kreasi di Indonesia. Kompetisi nan pertama kali diselenggarakan pada 2019 itu kembali datang sebagai ruang bagi arsitek dan talenta muda untuk menghadirkan pendapat kreasi inovatif nan menjawab tantangan masa depan.

Tahun ini, LADC mengusung tema “ARCHIPELAGO DIALOGUES: Architecture as a Space of Co-Creation”, nan mengangkat karakter Indonesia sebagai negara kepulauan dengan keberagaman budaya, lingkungan, dan perspektif sebagai sumber inspirasi desain.

Marketing Director LIXIL Water Technology Indonesia, Arfindi Batubara, mengatakan kejuaraan tersebut tidak hanya mencari karya dengan nilai estetika tinggi, tetapi juga pendapat nan bisa memberikan solusi terhadap beragam tantangan di masyarakat.

“Indonesia adalah negara kepulauan dengan ribuan identitas. Dari pulau-pulau kecil, kota-kota besar, kekayaan alam dan budaya, perbedaan infrastruktur, hingga tantangan spesifik seperti perubahan suasana ataupun tekanan urbanisasi. Kami percaya, dari ragam konteks inilah lahir pendapat nan paling relevan untuk masa depan,” kata Arfindi dalam keterangannya, Kamis (21/5).

Menurut dia, LADC juga diharapkan menjadi ruang perbincangan untuk memperluas eksplorasi buahpikiran dan membangun langkah pandang baru dalam menciptakan ruang hidup nan lebih baik dan berkelanjutan.

LADC 2026 menghadirkan jejeran majelis juri internasional nan terdiri atas sejumlah nama di industri arsitektur, antara lain Founder AndraMatin Studio Andra Matin, Founder Yolodi+Maria Architects Gregorius Supie, dan Managing Partner Asia Snøhetta Richard Wood. Selain itu, para pemenang juga berkesempatan memperoleh pengalaman internasional melalui program Studio Exchange di firma arsitektur dunia Snøhetta serta mengikuti LIXIL Architectural Trip ke Nagoya, Jepang.

Kompetisi tahun ini terbagi ke dalam dua kategori, ialah Professional Category dan Student Category. Kategori ahli ditujukan bagi personil Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) nan mempunyai Sertifikat Tanda Registrasi Arsitek (STRA) aktif.

Sementara kategori mahasiswa terbuka bagi mahasiswa S1 dan S2 Arsitektur, peserta Program Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr), serta lulusan S1 Arsitektur dengan masa kelulusan maksimal dua tahun saat pendaftaran. Arfindi mengatakan pembagian kategori tersebut dilakukan agar seluruh talenta mempunyai kesempatan nan sama untuk menunjukkan kreativitasnya.

“Pemilahan dua kategori ini diharapkan dapat memberikan ruang nan lebih inklusif, baik bagi arsitek nan telah mempunyai pengalaman maupun bagi mahasiswa nan tengah mengembangkan potensi kreatifnya,” ujarnya.

Salah satu juri LADC 2026, Gregorius Supie, berambisi kejuaraan tersebut dapat menjadi pemicu lahirnya pendapat arsitektur nan semakin inovatif.

“Saya berambisi sayembara ini bisa mengobarkan semangat berarsitektur nan semakin kreatif, sekaligus menjadi pendorong dalam memajukan industri arsitektur di Indonesia,” katanya.

Pendaftaran dan pengumpulan karya dibuka mulai 18 Mei hingga 5 Juli 2026 secara daring untuk memudahkan partisipasi peserta dari beragam wilayah di Indonesia. Seluruh karya nan diajukan kudu berkarakter orisinal dan belum pernah dipublikasikan maupun diikutsertakan dalam kejuaraan lain.

Tahapan penjurian bakal berjalan dalam dua tahap untuk menentukan lima finalis terbaik hingga penetapan pemenang utama. Puncak kejuaraan sekaligus pengumuman pemenang bakal digelar dalam rangkaian aktivitas LIXIL Day of Architecture & Design (LDAD) pada 12 Agustus 2026. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia