Petani membawa bibit padi untuk ditanam.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)
KELANGKAAN pupuk bersubsidi di sejumlah wilayah Aceh tetap terjadi dan dikeluhkan para petani. Kondisi tersebut membikin petani kesulitan melakukan pemupukan tanaman padi nan saat ini memasuki masa pertumbuhan awal.
Di Kabupaten Pidie, misalnya, banyak lahan sawah dengan usia tanam satu hingga tiga pekan belum mendapatkan pemupukan tahap pertama akibat sulitnya memperoleh pupuk bersubsidi. Padahal, pemupukan pada fase awal dinilai krusial untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan meningkatkan jumlah anakan padi.
“Sudah mencari pada pengecer resmi, toko saprodi sampai distributor, tetapi pupuk tidak ada di gudang. nan tersedia hanya pupuk non-subsidi,” kata petani asal Kemukiman Lampoih Saka, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Teungku Jhoni, Rabu (21/5).
Menurut dia, sebagian petani sekarang terpaksa beranjak menggunakan pupuk organik produksi lokal alias membeli pupuk non-subsidi dalam jumlah terbatas lantaran nilai nan lebih mahal. “Kalau biasanya membeli Urea dan NPK Phonska masing-masing satu zak, sekarang hanya separuh saja untuk menghemat biaya,” ujarnya.
Kelangkaan pupuk bersubsidi disebut telah berjalan dalam beberapa waktu terakhir dan dinilai semakin parah sejak awal 2025. Tokoh pertanian Kabupaten Pidie, M Nasir, mengatakan kondisi di lapangan bertolak belakang dengan kebijakan pemerintah nan menurunkan nilai pupuk bersubsidi.
“Tahun ini nilai pupuk memang lebih murah lantaran subsidi ditambah pemerintah. Tapi barangnya justru susah didapat. Itu lebih parah dari sebelumnya,” kata M Nasir.
PERSOALAN UTAMA
Ia menilai persoalan utama bukan pada harga, melainkan kesiapan pupuk di pasaran. “Untuk apa nilai turun jika pupuk tidak ada. Kami tidak tahu kudu mengadu ke mana. Dinas pertanian seperti tidak ada fungsinya,” ujarnya.
Berdasarkan catatan, nilai pupuk bersubsidi pada 2024 untuk jenis Urea sebesar Rp2.250 per kilogram alias Rp112.500 per karung isi 50 kilogram. Sementara NPK dijual Rp2.300 per kilogram alias Rp115.000 per karung.
Mulai 2025, nilai pupuk subsidi turun menjadi Rp1.800 per kilogram untuk Urea alias sekitar Rp90.000 per karung 50 kilogram. Sedangkan NPK menjadi Rp1.840 per kilogram alias sekitar Rp92.000 per karung.
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Sugianto, mengatakan kesiapan pupuk merupakan aspek utama dalam sistem pertanian modern. “Pemupukan nan tidak berimbang saja bisa menurunkan hasil produksi, apalagi jika terjadi krisis pupuk total. Hal itu berpotensi menurunkan hasil panen hingga 50%, apalagi terancam puso alias kandas panen,” kata Sugianto. (E-2
English (US) ·
Indonesian (ID) ·