Kekurangan Vitamin C Picu Gangguan Kognitif pada Lansia

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Kekurangan Vitamin C Picu Gangguan Kognitif pada Lansia Penelitian terbaru 2026 mengungkap kaitan kadar vitamin C rendah dengan akibat demensia.(Dok. Magnific)

KADAR vitamin C nan rendah dalam tubuh ditemukan berangkaian erat dengan peningkatan akibat gangguan kognitif hingga demensia pada usia lanjut menurut studi terbaru tahun 2026. Peneliti dari Jepang dan Eropa mengidentifikasi bahwa kekurangan nutrisi ini dalam jangka panjang memicu stres oksidatif nan merusak sel saraf otak.

Berdasarkan laporan nan dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Aging Neuroscience, pasien lanjut usia dengan indikasi gangguan memori ringan hingga demensia tahap awal condong mempunyai kadar vitamin C nan sangat rendah. Vitamin C berfaedah sebagai antioksidan krusial nan melindungi jaringan otak dari peradangan dan radikal bebas.

Kondisi ini memicu tren baru di sektor kesehatan dunia pada 2026, ialah peningkatan minat terhadap terapi injeksi vitamin C intravena. Metode ini dianggap lebih efektif meningkatkan kadar nutrisi dalam darah secara instan dibandingkan konsumsi oral, sehingga mulai dilirik untuk menjaga kegunaan kognitif dan kebugaran di tengah aktivitas padat.

Meski demikian, para mahir menekankan bahwa terapi injeksi bukanlah solusi tunggal. "Injeksi vitamin C bukan solusi utama untuk mencegah demensia. Pola makan sehat, tidur cukup, olahraga rutin, serta menjaga kesehatan jantung tetap menjadi aspek utama," tulis laporan tersebut mengutip para master kesehatan.

Masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada dan melakukan konsultasi medis sebelum mengambil tindakan medis tertentu. Pengawasan unik sangat diperlukan bagi perseorangan dengan riwayat gangguan ginjal alias kondisi kesehatan spesifik lainnya guna menghindari pengaruh samping dari dosis tinggi vitamin C.

Hingga saat ini, para peneliti tetap terus melakukan studi lanjutan untuk memvalidasi efektivitas jangka panjang terapi vitamin C terhadap pencegahan penurunan kegunaan otak secara permanen pada manusia. (Frontiers in Aging Neuroscience, Cleveland Clinic, National Institutes of Health Office of Dietary Supplements/Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia