Kebutuhan Energi Primer Tumbuh 5 Persen per Tahun, Infrastruktur Gas Diperkuat

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Kebutuhan Energi Primer Tumbuh 5 Persen per Tahun, Infrastruktur Gas Diperkuat Kepala Satuan Perencanaan Korporat Manajemen Energi Primer PT PLN EPI Anggoro Wisaksono menjadi pembicara dalam aktivitas Hipmi.(Antara)

Kebutuhan energi primer untuk sektor ketenagalistrikan nasional diproyeksikan terus meningkat hingga 2035 dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 5% per tahun. Kondisi tersebut mendorong penguatan infrastruktur gas nasional sebagai bagian dari strategi menjaga keandalan pasokan energi di tengah transisi menuju daya bersih. Hal tersebut disampaikan Kepala Satuan Perencanaan Korporat Manajemen Energi Primer PT PLN Energi Primer Indonesia, Anggoro Wisaksono, dalam Hipmi Power Development Forum 2026 berjudul End-to-End Energy Ecosystem to Support National Power System Reliability di Fairmont Jakarta, Rabu (20/5).

Dalam panel obrolan bertema Strategi Pembangkitan dalam Mendukung Kebijakan Ketenagalistrikan Indonesia, Anggoro menegaskan perencanaan sistem ketenagalistrikan nasional kudu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari proyeksi kebutuhan listrik, pembangkit, transmisi, distribusi, hingga pasokan daya primer.

“PLN EPI ada di sektor daya primer. Kami memastikan supply fuel ke pembangkit secara sustain dan reliable,” ujarnya.

Menurut Anggoro, proyeksi kebutuhan listrik menjadi dasar utama dalam perencanaan upaya ketenagalistrikan lantaran menentukan kebutuhan kapabilitas pembangkit, jaringan transmisi, distribusi, hingga pasokan daya primer.

Dalam paparannya, PT PLN Energi Primer Indonesia merujuk pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 nan memproyeksikan perubahan bauran daya pembangkitan nasional.

Pada 2034, produksi listrik berbasis batu bara diperkirakan mencapai 273,8 terawatt hour (TWh) alias sekitar 47 persen dari total bauran daya nasional. Sementara gas bumi diproyeksikan mencapai 132,3 TWh alias sekitar 23 persen. Adapun daya baru terbarukan (EBT) diperkirakan mencapai 164,1 TWh alias sekitar 28 persen, sedangkan biomassa mencapai 8,1 TWh. Dalam skenario Accelerated Renewable Energy Development (ARED), porsi EBT apalagi diproyeksikan meningkat menjadi 190,9 TWh alias 33 persen pada 2034.

Meski demikian, Anggoro menilai batu bara dan gas bumi tetap bakal menjadi penopang utama keandalan sistem kelistrikan nasional selama masa transisi daya berlangsung.

“Batubara dan gas tetap berkedudukan menjaga reliability sistem selama masa transisi, terutama untuk memenuhi stabilitas sistem,” katanya.

Selain batu bara dan gas, PT PLN Energi Primer Indonesia juga mulai memperluas pemanfaatan biomassa melalui skema co-firing di PLTU. Menurut Anggoro, langkah tersebut membuka kesempatan baru bagi pelaku upaya nasional untuk masuk ke rantai pasok biomassa.

“Selain batu bara dan gas, kelak ada biomass. Ini opportunity juga untuk pengusaha muda,” ujarnya.

Untuk mendukung kebutuhan daya nasional, PLN EPI juga menyiapkan pengembangan beragam proyek prasarana gas alias midstream yang tersebar mulai dari Sumatra hingga Papua. Infrastruktur tersebut mencakup pembangunan Floating Storage Regasification Unit (FSRU), LNG carrier, ORU, hingga proyek gasifikasi di beragam wilayah Indonesia.

Beberapa proyek strategis nan dipaparkan antara lain FSRU Jawa Barat 1 dan 2, FSRU Jawa Timur, FSRU Bali, serta FSRU Cilegon. Total kapabilitas regasifikasi nan disiapkan mencapai 3.850 million standard cubic feet per day (MMSCFD) dengan kapabilitas penyimpanan LNG sebesar 1,2 juta meter kubik.

Menurut Anggoro, pembangunan prasarana gas menjadi sangat krusial mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dengan banyak sistem kelistrikan terisolasi.

“Kita ini Negara Kepulauan, banyak sistem isolated di pulau-pulau mini maupun besar. Ini merupakan tantangan tersendiri,” katanya.

Ia juga menyinggung akibat ketegangan geopolitik global, termasuk situasi di Selat Hormuz, terhadap sektor daya nasional. Namun demikian, Anggoro memastikan kondisi pasokan daya primer PLN EPI saat ini tetap relatif aman.

Untuk pasokan gas, PLN EPI mengandalkan kombinasi produksi domestik dan kerja sama dengan mitra global. Menurutnya, kerjasama internasional menjadi krusial lantaran sebagian produksi gas nasional tetap terikat perjanjian ekspor jangka panjang.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dengan mitra dunia sangat diperlukan,” ujarnya.

Selain Anggoro, forum tersebut juga menghadirkan Ahmad Adisuryo sebagai moderator, serta Vice President Business Development Generation I PLN Nusantara Power Dedy Marsetioadi dan Vice President Pengembangan Usaha PLN Nusa Daya Hery Affandi sebagai pembicara. (E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia