Keberlanjutan Mangrove tak Hanya Ditentukan Faktor Ekologi, Peneliti BRIN Soroti Peran Spiritualitas Lokal

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Keberlanjutan Mangrove tak Hanya Ditentukan Faktor Ekologi, Peneliti BRIN Soroti Peran Spiritualitas Lokal Nelayan menggunakan perahunya melintasi area Mangrove Tapak, Tugu, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (30/4/2026)(ANTARA/APRILLIO AKBAR )

KEBERLANJUTAN ekosistem mangrove tidak hanya ditentukan oleh aspek ekologis dan ekonomi, tetapi juga oleh relasi masyarakat dengan nilai-nilai spiritual, tradisi lisan, serta kepercayaan lokal nan diwariskan secara turun-temurun.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) BRIN, Dedi Supriadi Adhuri, mengatakan sejumlah area mangrove di Indonesia bisa memperkuat selama ratusan tahun lantaran masyarakat setempat memandang mangrove bukan sekadar sumber daya alam, melainkan bagian dari kehidupan sosial dan spiritual mereka.

“Yang menjadi menarik adalah gimana mangrove di beberapa tempat tetap terjaga, padahal sudah dieksploitasi berabad-abad,” kata Dedi. 

Temuan tersebut merupakan bagian dari hasil riset nan dipublikasikan dalam jurnal internasional berjudul Entangled Ecologies: Oral Traditions, Spirits, and the Sustainability of Mangrove Landscapes in Southeast Seram Island, Indonesia. 

Menurut Dedi, pendekatan more-than-human memandang manusia, alam, dan entitas nonmanusia sebagai satu kesatuan nan saling memengaruhi. 

Dalam perspektif ini, alam tidak hanya dipahami sebagai sumber ekonomi, tetapi juga mempunyai dimensi moral dan spiritual nan membentuk perilaku masyarakat dalam mengelola lingkungan.

Ia mencontohkan masyarakat pesisir di wilayah Maluku, Papua, dan Sulawesi Utara nan mempunyai pengetahuan lokal untuk menjaga keberlanjutan mangrove. Praktik tersebut mencakup larangan menebang mangrove hingga ke akar, pengaturan rotasi wilayah pemanfaatan, hingga almanak pemanfaatan mangrove nan mengikuti musim dan kondisi alam.

Menurutnya, mangrove juga terhubung dengan cerita asal-usul, mitologi, serta patokan budaya nan mengikat kehidupan masyarakat pesisir.

“Mangrove itu bukan hanya pohon tetapi bagian dari cerita hidup masyarakat, dengan patokan budaya dan langkah pemanfaatan nan mengikat,” ujarnya.

Dedi menambahkan, konsep entanglement menunjukkan adanya hubungan nan kompleks antara manusia, tumbuhan, hewan, material, dan entitas spiritual dalam suatu ekosistem. 

Dalam hubungan tersebut, alam juga mempunyai peran aktif dalam membentuk perilaku manusia. “Alam itu ikut mengatur, bukan hanya manusia nan mengatur alam,” katanya.

Ia menilai pendekatan tersebut relevan dengan agenda konservasi dunia "30 by 30" nan menargetkan perlindungan 30% wilayah daratan dan 30% wilayah laut bumi pada 2030. 

Namun, menurutnya, kebijakan konservasi modern perlu memberi ruang bagi pengetahuan lokal nan telah terbukti menjaga keberlanjutan lingkungan selama berabad-abad.

Sementara itu, Peneliti Madya PRMB BRIN, Ari Nurlia, mengatakan riset mengenai pengelolaan mangrove di Seram Timur menunjukkan bahwa keterhubungan antara manusia, alam, dan entitas nonmaterial menjadi aspek krusial dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Pengetahuan ekologis masyarakat diwariskan melalui cerita rakyat, ritual, lagu, dan praktik keseharian nan membentuk etika pengelolaan sumber daya alam,” ujarnya.

Ari menilai kajian semacam ini dapat memperkaya perspektif pengetahuan sosial dan lingkungan sekaligus memperkuat pengakuan terhadap pengetahuan lokal sebagai bagian dari solusi menghadapi krisis ekologi global.

Menurut dia, pendekatan interdisipliner nan menggabungkan pengetahuan pengetahuan modern, antropologi, dan praktik ekologis masyarakat budaya dapat membuka kesempatan kerjasama riset nan lebih inklusif serta mendukung upaya pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.(H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia