Kebakaran Savana di TN Tambora Terus Meluas, Upaya Pemadaman Masih Dilakukan

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Kebakaran Savana di TN Tambora Terus Meluas, Upaya Pemadaman Masih Dilakukan Upaya pemadaman kebakaran savana TN Tambora.(Dok. Kemenhut)

KEMENTERIAN Kehutanan (Kemenhut) terus melakukan upaya intensif untuk mengendalikan kebakaran lahan nan melanda sekitar 1.956 hektare area savana di Taman Nasional (TN) Tambora. Kebakaran savana TN Tambora ini tidak hanya menakut-nakuti kediaman satwa liar dan area konservasi berbobot tinggi, tetapi juga berpotensi mengganggu kualitas udara serta aktivitas wisata alam nan menjadi penopang ekonomi masyarakat sekitar.

Operasi pemadaman dilakukan secara terpadu oleh Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Balai Dalkarhut Jabalnusra), Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Balai TN Tambora, serta Masyarakat Peduli Api (MPA).

Dampak Terhadap Ekosistem dan Masyarakat

Taman Nasional Tambora merupakan area pelestarian alam seluas 71.645,64 hektare nan telah ditetapkan UNESCO sebagai Cagar Biosfer Dunia. Kawasan ini menjadi kediaman krusial bagi satwa dilindungi seperti Kakatua Kecil Jambul Kuning, Nuri Kepala Merah, Kirik-kirik Australia, dan Rusa Timor.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan bahwa kebakaran rimba dan lahan (karhutla) adalah persoalan kepentingan publik. "Ketika rimba terbakar, masyarakat sekitar menjadi pihak nan pertama merasakan dampaknya, mulai dari kualitas udara hingga aktivitas ekonomi. Pengendalian kebakaran memerlukan kerjasama seluruh pihak agar pencegahan menjadi budaya bersama," tegas Januanto, Jumat (10/7).

Ia juga menambahkan bahwa setiap pelanggaran norma nan terbukti menyebabkan kebakaran bakal ditindak tegas sesuai peraturan perundang-undangan nan berlaku.

Kronologi dan Kendala Lapangan

Kebakaran pertama kali terdeteksi pada Minggu (5/7) pukul 13.30 WITA di Resort Piong. Api sigap meluas akibat kombinasi beberapa aspek alam, antara lain:

  • Kondisi cuaca nan sangat kering.
  • Vegetasi savana nan mudah terbakar.
  • Hembusan angin kencang dan topografi pegunungan nan terjal.
  • Keterbatasan sumber air di letak kebakaran.

Menanggapi situasi tersebut, Kemenhut menurunkan satu regu Manggala Agni dari Seksi Wilayah III Mataram untuk memperkuat personel di Kabupaten Bima. Sinergi antara petugas balai, Manggala Agni, dan MPA menjadi kunci dalam mempercepat respons lapangan guna melindungi area nan tetap dapat diselamatkan.

Strategi Pemadaman dan Pemulihan

Kepala Balai Dalkarhut Jabalnusra, Bambang Setyo Antoko, menjelaskan bahwa strategi pemadaman terus disesuaikan dengan karakter medan Tambora. "Karakteristik savana membikin api menjalar cepat. Kami konsentrasi menekan laju penyebaran dengan mengutamakan keselamatan personel dan perlindungan area inti," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Balai TN Tambora, Abdul Azis Bakry, memastikan bahwa upaya perlindungan bakal bersambung hingga tahap pemulihan. "Setelah api terkendali, kami bakal melakukan pemulihan area secara bertahap, penguatan patroli, serta penemuan awal dengan melibatkan masyarakat agar kegunaan ekologis Tambora tetap terjaga jangka panjang," pungkasnya. (H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia