Dalam sepekan terakhir, kasus anak diikat di daycare berhasil memenuhi beranda media masa. Bukan di penjara, bukan di wilayah konflik.
Ironisnya, peristiwa itu terjadi di sebuah tempat penitipan anak, ruang nan semestinya menjadi tempat paling kondusif bagi tumbuh kembangnya. Kejadian ini memantik kemarahan publik dan perihal itu wajar. Namun di kembali kemarahan itu, ada pertanyaan nan lebih sunyi dan dalam: Apa nan terjadi pada perkembangan jiwa anak?
Peristiwa ini juga mengingatkan kita pada rumor nan lebih luas tentang penganiayaan anak, nan sering kali terjadi dalam corak nan tidak selalu disadari. Erik Erikson, tokoh psikososial, menyatakan bahwa pada 18 bulan pertama kehidupan, tumbuh kembang anak berada dalam fase nan sangat mendasar: trust vs mistrust (percaya alias tidak percaya).
Di tahap ini, anak sedang “merekam” dunia. Bukan dengan kata-kata, melainkan dengan pengalaman nan berulang. Saat anak menangis dan ada nan datang, dia belajar bahwa bumi merespons. Saat anak lapar dan disusui, dia belajar bahwa kebutuhannya berarti. Saat tubuhnya bebas bergerak, anak belajar bahwa dia kondusif berada di bumi ini.
Sebaliknya, ketika respons itu tidak hadir—bahkan tubuhnya justru dibatasi secara paksa—pesan nan diterima menjadi sangat berbeda. Anak belum bisa memahami argumen di kembali perlakuan itu. Hal nan dirasakan hanyalah ketidaknyamanan, ketidakberdayaan, dan keterputusan dari rasa kondusif di tengah masa tumbuh kembangnya. Hasilnya bukan luka nan tampak di kulit, melainkan sesuatu nan bisa menetap pada langkah anak memandang bumi dan dirinya sendiri.
Perkembangan sosial anak berakar dari pengalaman awal hidupnya. Bayi nan merasa kondusif bakal lebih mudah tersenyum, menjalin kontak mata, dan merespons kehadiran orang lain. Ia mulai belajar bahwa hubungan itu menyenangkan dalam tumbuh kembangnya.
Dari sini, cikal bakal keahlian bersosialisasi terbentuk. Namun jika pengalaman awal dipenuhi ketidaknyamanan alias pengabaian, anak bisa menjadi lebih sensitif terhadap stres, mudah cemas, alias justru menarik diri. Dunia terasa tidak bisa diprediksi, dan orang lain tidak selalu dapat dipercaya.
Satu tahap tumbuh kembang tidak berdiri sendiri. Erikson menjelaskan bahwa setiap tahap menjadi fondasi bagi tahap berikutnya. Ketika seorang anak memasuki usia 1,5—3 tahun, dia mulai berada dalam fase autonomy vs shame and doubt.
Pada fase ini, anak belajar melakukan sesuatu sendiri (berjalan, makan, hingga memilih). Namun jika fondasi kepercayaannya rapuh, keberanian untuk berdikari juga ikut goyah. Anak menjadi ragu-ragu, takut mencoba, alias sangat berjuntai pada orang lain.
Memasuki usia prasekolah, sekitar 3—5 tahun, anak berada pada tahap initiative vs guilt. Cirinya, anak mulai penuh ide, mau mencoba banyak hal, dan aktif bertanya. Namun jika sebelumnya terbiasa merasa tidak kondusif alias sering dikontrol secara berlebihan, inisiatif ini bisa terhambat.
Anak menjadi takut salah, takut dimarahi, alias merasa bahwa keinginannya tidak penting. Dalam jangka panjang, pola ini dapat memengaruhi rasa percaya diri, keahlian berelasi, hingga langkah seseorang memandang dirinya sendiri saat dewasa. Kejadian mengikat kaki anak rupanya tidak bisa dianggap sepele bagi tumbuh kembang.
Di tengah kekhawatiran ini, ada angin segar bagi orang tua. Tumbuh kembang anak berkarakter dinamis. Orang tua tetap mempunyai peran besar untuk memperbaiki, memulihkan, dan memperkuat kembali fondasi nan sempat terganggu.
Pendampingan nan hangat dan konsisten menjadi kunci utama. Pada masa bayi, respons sederhana seperti menggendong saat menangis, menatap mata saat berinteraksi, alias berbincang dengan bunyi lembut mempunyai akibat nan jauh lebih besar dari nan terlihat.
Ini bukan soal memanjakan, melainkan soal membangun rasa kondusif nan menjadi dasar bagi semua perkembangan berikutnya. Memberi ruang mobilitas juga krusial dengan membiarkan bayi menendang, meraih, dan mengeksplorasi tubuhnya sendiri, sehingga memberi ruang belajar nan alami.
Kasus ini menjadi pengingat nan keras bahwa tumbuh kembang anak sangat berjuntai pada lingkungan sekitarnya. Mereka belum bisa memilih, belum bisa melindungi diri, dan belum bisa menyuarakan nan mereka alami.
Karena itu, tanggung jawab orang dewasa bukan hanya menjaga bentuk mereka, melainkan juga memastikan bahwa pengalaman awal mereka dipenuhi rasa kondusif dan penghargaan. Anak bukan memerlukan pengasuhan nan sempurna, melainkan kehadiran nan konsisten dan penuh empati. Dunia tidak kudu selalu nyaman, tetapi bagi seorang anak, bumi perlu terasa aman. Dari rasa kondusif keberanian tumbuh, hubungan terbangun, dan masa depan perlahan dibentuk.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·