Jakarta -
Perampingan jumlah BUMN dikebut Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria menargetkan perampingan BUMN dari 1.077 entitas menjadi sekitar 200-300 perusahaan.
Dony juga menjamin efisiensi ini tidak bakal berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Seluruh tenaga kerja disebut bakal tetap dipertahankan dan dialihkan ke perusahaan hasil konsolidasi. Presiden Prabowo Subianto telah memberikan pengarahan agar transformasi besar-besaran di tubuh BUMN tidak merugikan para pekerja.
"Pastinya Bapak Presiden tidak mau ada PHK," tegas Dony dalam keterangan pers nan dirilis Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Kamis (12/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menjelaskan proses streamlining alias perampingan BUMN ditargetkan rampung pada tahun ini. Langkah tersebut dilakukan untuk mengatasi banyaknya perusahaan nan tidak efisien dan mengalami kerugian.
Dony mengungkapkan perampingan BUMN berpotensi menghasilkan penghematan langsung hingga Rp 50 triliun per tahun. Pasalnya, Danantara menemukan praktik transaksi berlapis antara induk perusahaan, anak usaha, hingga perusahaan cucu nan selama ini menimbulkan inefisiensi besar.
"Selama ini kita membiasakan layering transaction antara induk ke anak-anak, ke cucu-cucu, ke cicit, nan menyebabkan inefisiensi. Kurang lebih inefisiensinya itu Rp 30 triliun," kata Dony.
Salah satu contoh nan disebutnya adalah penggabungan PT Pertamina Patra Niaga, Kilang Pertamina Internasional, dan Pertamina International Shipping (PIS). Menurut Dony, merger tersebut dilakukan lantaran ketiga perusahaan berada dalam rantai upaya nan saling terkait.
Hasilnya, Danantara sukses memangkas beragam biaya transaksi internal dan potensi kerugian akuntansi nan selama ini membebani perusahaan.
Praktik serupa juga ditemukan di lingkungan Telkom Group. Dalam sejumlah proyek pembangunan jaringan serat optik, pekerjaan kudu melewati beberapa lapis perusahaan sebelum dieksekusi, sehingga menimbulkan biaya tambahan nan tidak perlu.
Menurut Dony, andaikan seluruh proses streamlining selesai dilakukan dan jumlah perusahaan sukses dipangkas menjadi sekitar 254 entitas, maka Danantara bakal memperoleh penghematan langsung sekitar Rp50 triliun tanpa kudu menunggu peningkatan profitabilitas perusahaan hasil konsolidasi.
52% BUMN Rugi
Dony menyebutkan, dari total 1.077 perusahaan nan ada saat ini, sekitar 52% tercatat merugi. Akumulasi kerugian dari perusahaan-perusahaan tersebut mencapai Rp 20 triliun.
Danantara pun melakukan kalkulasi mengenai opsi tanpa PHK. Hasilnya, penghematan nan diperoleh dari konsolidasi jauh lebih besar dibandingkan biaya tenaga kerja nan kudu ditanggung.
"Kita hitung, jika dari perusahaan-perusahaan nan kita streamlining ini, berapa sih biaya tenaga kerjanya setahun? Ternyata hanya Rp 2-3 triliun," jelasnya.
Dengan potensi efisiensi nan mencapai puluhan triliun rupiah, Danantara memilih mempertahankan seluruh pekerja dibandingkan melakukan PHK. Sebab, penghematan nan diperoleh jauh lebih besar daripada biaya untuk mempertahankan karyawan.
"Jadi saya berpikir, jika gitu saya ambil saja semua karyawannya, saya tetap irit Rp 47 triliun," kata Dony.
(acd/acd)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·