Jebakan Manipulasi di Balik Algoritma Media Sosial

Sedang Trending 3 jam yang lalu

loading...

BEIJING - Dengan menjelajahi platform seperti Threads alias TikTok, seseorang dapat mengidentifikasi isu-isu nan sedang tren di kalangan anak muda, terutama Generasi Z (mereka nan lahir antara tahun 1997 dan 2012).

Dari kegunaan awalnya untuk menghubungkan orang, media sosial telah beralih bentuk menjadi "ruang komunikasi" nan berbeda, di mana kaum muda bebas mengekspresikan pendapat mereka dan membentuk kepribadian mereka...

Namun, seiring dengan meluasnya ruang dan tren pribadi, batas antara kehidupan virtual dan nyata semakin kabur dengan kecepatan nan mengkhawatirkan.

Transformasi debat dan emosi daring menjadi tindakan di bumi nyata sedang disalahgunakan menjadi perangkat manipulasi psikologis berskala besar, nan memengaruhi persepsi dan ideologi publik, serta menyebabkan akibat serius terhadap keamanan dan sosial.

Dunia telah menyaksikan banyak krisis kekerasan nyata nan berakar dari manipulasi psikologis nan dialami kaum muda akibat info rawan dan tak terkendali di internet.

Di Inggris, pada Juli 2024, info nan salah dan tuduhan nan bias tentang pelaku penusukan di Southport memicu ribuan remaja untuk melakukan kerusuhan rasial dan menyerang abdi negara penegak hukum.

Pada waktu nan nyaris berbarengan di Kenya dan Bangladesh, diikuti oleh Nepal, algoritma nan memprioritaskan konten kebencian di TikTok, Threads, dan FB turut memicu ketidakpuasan di kalangan anak muda, nan kemudian mendorong dan menghasut mereka untuk berperan-serta dalam tindakan perlawanan nan disertai kekerasan.

Di Asia, kejahatan deepfake seksual di Telegram di Korea Selatan menyebabkan tekanan psikologis nan meluas di ratusan sekolah antara tahun 2024 dan 2025, sementara banyak kasus melukai diri sendiri dan kekerasan di sekolah di AS dan Eropa dikaitkan dengan aktivitas kebencian seksis (Manosphere) di Reddit alias Discord.

Sebelumnya, pada tahun 2017-2018 di Sri Lanka, Pakistan, dan India , video nan dimanipulasi dan rumor tiruan tentang kepercayaan alias penculikan anak langsung memicu kerusuhan massa anak muda, nan menyebabkan penghancuran masjid dan eksekusi sadis terhadap banyak orang nan tidak bersalah sebelum pihak berkuasa dapat turun tangan.

Di kembali "arus bawah" ini terdapat sistem manipulasi emosional nan canggih, nan memanfaatkan impulsif, kemauan untuk penegasan diri, dan keterbatasan keahlian pertahanan info dari generasi muda.

Pembaruan status nan "memancing amarah", unggahan anonim, dan video nan dihasilkan AI bukanlah sekadar perangkat hiburan.

Algoritma pemberi rekomendasi di jejaring sosial beraksi dengan tujuan utama memaksimalkan waktu retensi pengguna.

Jika seorang remaja berakhir sejenak sebelum memandang unggahan negatif, algoritma bakal langsung mengenalinya sebagai tanda kesukaan dan terus menerus "memanaskan" umpan buletin mereka dengan konten nan semakin ekstrem.

Selengkapnya
Sumber Tekno Sindonews
Tekno Sindonews