Jangan Takut Anak Gagal, Proses Eksplorasi Justru Bantu Bangun Growth Mindset

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Ilustrasi kedekatan orang tua dan anak. Foto: LightField Studios/Shutterstock

Setiap anak memiliki prosesnya masing-masing dalam menemukan minat dan potensi nan dimiliki. Namun, proses eksplorasi tersebut bukan hanya tentang mencari tahu anak berbakat di bagian apa, melainkan juga menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar mengenal dirinya sendiri.

Menurut Psikolog Anak dan Keluarga, Ayoe Sutomo, M.Psi.,Psikolog, ketika anak mencoba beragam aktivitas, ada banyak proses nan terjadi di dalamnya. Anak tidak selalu mendapatkan hasil nan sesuai harapan, tetapi pengalaman tersebut justru menjadi bagian krusial dalam perkembangan dirinya.

Psikolog Anak dan Keluarga Ayoe Sutomo, M.Psi., dalam aktivitas rangkaian Bebelac Little Star 2026 di Jakarta Pusat, Jumat (24/7/2026). Foto: Eka Nurjanah/kumparan

“Pada saat kita mengeksplorasi itu kan hanya bukan sekedar eksplorasi saja, tapi ada proses di situ. Ada proses nan mungkin gak selalu bagus terus. Ada kadang pada saat proses eksplorasi tersebut, ‘Oh abis oke terus gak oke.’ Kemudian misalnya sudah mulai ketemu potensi dan minat unggulannya ikut-ikutan lomba alias kejuaraan kadang ada menang, kadang ada kalah,” ucap Ayoe dalam aktivitas rangkaian Bebelac Little Star 2026, di Jakarta Pusat, Jumat (24/7).

Eksplorasi Membantu Anak Mengenal Kelebihan dan Kekurangan Diri

Menurut Ayoe, ketika anak mulai mencoba beragam aktivitas hingga mengikuti lomba alias kompetisi, mereka bakal menghadapi beragam pengalaman, mulai dari keberhasilan hingga kegagalan. Namun, baik menang maupun belum berhasil, semuanya tetap menjadi pembelajaran bagi anak.

Ilustrasi anak sedang olahraga panahan. Foto: Shutter Stock

Melalui proses eksplorasi, anak dapat belajar memahami dirinya sendiri. Mereka mulai mengenali apa nan menjadi kelebihan, kekurangan, serta hal-hal nan perlu dikembangkan.

.Kemampuan mengenal diri menjadi salah satu fondasi krusial nan bakal membantu anak ketika tumbuh dewasa. Sebab, perseorangan nan memahami dirinya bakal lebih mudah menentukan langkah dan mengembangkan potensi nan dimiliki.

Kegagalan dalam Proses Eksplorasi Ajarkan Anak Growth Mindset

Ilustrasi Anak Bermain Piano. Foto: feeling lucky/Shutterstock

Penting pula diketahui, bahwa dalam proses mencoba beragam hal, anak juga bakal menemui hambatan. Tidak semua upaya bakal langsung berhasil, dan tidak semua aktivitas nan dicoba bakal melangkah sesuai keinginan.

Namun, momen tersebut justru menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengajarkan anak tentang langkah menghadapi kegagalan dan mengelola emosi.

“Ketika kemudian ada sandungan, kemudian bertindak untuk izin emosi, bertindak untuk walaupun abis itu mungkin belum berhasil, kita coba lagi yuk, kita kemudian cari langkah nan lain yuk,” sambungnya.

Ilustrasi anak sedih. Foto: Thanes.Op/Shutterstock

Menurutnya, pengalaman seperti inilah nan membantu anak membangun growth mindset, ialah pola pikir bahwa keahlian dapat terus berkembang melalui upaya dan proses belajar.

Ayoe menegaskan, growth mindset tidak bisa langsung muncul ketika anak sudah dewasa. Kemampuan tersebut perlu dilatih secara berjenjang sejak mini melalui pengalaman nyata.

“Harus kemudian pelan-pelan dibangun, dipupuk. Dan mempumpuknya adalah dengan beragam macam aktivitas nan mendukung anak untuk mengeksplorasi apa nan menjadi minat unggulnya dia dan menjadi potensinya,” pungkas Ayoe.

kumparan post embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan