Ilustrasi(magnific)
KONSUMSI kafein seperti kopi sering kali dikaitkan dengan sakit kepala migrain. Dokter ahli saraf subspesialis neurokritikal dan intensif dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Ramdinal Aviesena Zairinal, Sp.N(K), menjelaskan bahwa kafein mempunyai dua sisi nan saling bertolak belakang mengenai migrain.
Di satu sisi, kafein dapat berfaedah sebagai obat untuk meredakan nyeri. Namun di sisi lain, jika tidak dikonsumsi dengan bijak, unsur ini justru bisa berbalik menjadi pemicu sakit kepala.
“Itulah nan kudu dipahami. Harusnya dia (kafein) positif, tapi kenapa jadi nan perihal nan negatif Itu lantaran ada perubahan dari langkah kita mengonsumsi kafeinnya,” kata master nan berkawan disapa Sena itu, dikutip Senin (22/6)
Menurut Sena, pemicu utama migrain bukanlah kafein itu sendiri, melainkan perubahan dosis, jumlah kandungan, maupun pola konsumsinya.
Sebagai informasi, kafein tidak hanya ditemukan pada kopi, tetapi juga terkandung dalam minuman bersoda hingga obat-obatan tertentu.
Ia mencontohkan, lonjakan dosis terjadi ketika seseorang nan biasanya hanya meminum satu hingga dua cangkir kopi sehari, tiba-tiba meningkat menjadi empat alias lima cangkir. Pada titik tertentu, peningkatan dosis nan drastis ini bakal mengubah langkah kerja kafein, sehingga alih-alih meredakan, malah memperparah sakit kepala.
Selain lonjakan dosis, pola konsumsi nan tidak konsisten juga berpengaruh. Misalnya, seseorang nan biasa minum kopi di pagi hari, lampau esoknya berubah menjadi siang alias malam.
Efek serupa apalagi bisa terjadi jika seseorang nan sudah rutin mengonsumsi kafein tiba-tiba berakhir secara mendadak.
“Perubahan seperti itu nan tadinya banyak kopinya terus tiba-tiba mendadak maka itu pun juga bisa menyebabkan indikasi sakit kepalanya akibat withdrawal alias berakhir nan mendadak dari si kafein tersebut. Jadi nan salah tuh bukan si kafeinnya tapi gimana kita menggunakannya,” pungkas Sena. (Ant/Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·