Jakarta -
Pabrik mobil raksasa Jaguar Land Rover (JLR) menyatakan bakal melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 4.000 karyawan. Rencananya pemangkasan ini bakal dilakukan berjenjang selama dua tahun ke depan nan sebagian besar menyasar tenaga kerja instansi pusat di Inggris.
Melansir BBC, Rabu (9/9/2026), keputusan PHK massal ini diambil sebagai respons atas beragam halangan upaya nan sekarang sedang dialami JLR. Mulai dari persaingan dengan mobil listrik murah China, hingga serangan siber serta imbas kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
"Perusahaan berkomitmen untuk mendukung semua orang dengan penuh perhatian, keadilan, dan rasa hormat melalui proses pemutusan hubungan kerja," kata CEO Jaguar Land Rover, PB Balaji.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Industri otomotif menghadapi tantangan signifikan, dengan perubahan teknologi di tengah persaingan ketat dan ketidakpastian geopolitik nan berkelanjutan," tambahnya.
Perusahaan berambisi dapat mencapai pengurangan tersebut melalui program PHK sukarela dengan jangka waktu pengajuan hingga 4 Oktober.
Namun di luar itu JLR bakal melakukan PHK wajib meski dengan persyaratan nan kurang menguntungkan bagi perusahaan. Karyawan nan terkena pemangkasan dikatakan bakal menerima email dalam beberapa hari mendatang.
Melalui PHK massal ini, perusahaan menargetkan penghematan biaya sekitar 1,7 miliar poundsterling alias Rp 40,42 triliun (kurs Rp 23.780/pounds Inggris) dalam dua tahun ke depan.
Sederet Masalah Jaguar Land Rover
Untuk diketahui, produsen mobil asal Inggris ini mengalami penurunan penjualan imbas kalah saing dengan mobil dari China, sebuah negara nan awalnya dilihat JLR sebagai pasar untuk pertumbuhan daripada sumber persaingan.
Masalah jangka panjang Jaguar Land Rover semakin diperparah setelah perusahaan mengalami serangan siber tahun lalu. Hal ini sempat menyebabkan perusahaan nan mempekerjakan 43.000 orang di seluruh bumi itu menghentikan lini produksi mereka selama lebih dari sebulan.
Belum lagi, patokan tarif nan diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump juga merugikan perusahaan lantaran tidak seperti banyak pesaingnya, mereka tidak mempunyai pabrik di AS.
Dalam laporan finansial tahunan hingga akhir Maret, JLR menyatakan bahwa tarif AS dan serangan siber merupakan argumen utama kenapa penjualannya ambruk 20% menjadi 22,9 miliar poundsterling (Rp 544 triliun) dari 29 miliar poundsterling (Rp 689 triliun) pada dua tahun sebelumnya.
(igo/fdl)
22 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·