Iran Klaim Selat Hormuz Ditutup Lagi, Rencana Damai Berantakan?

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat menjelang dimulainya putaran baru perundingan kedua negara di Swiss. Pemerintah Iran pada Sabtu (20/6/2026) mengumumkan bahwa Selat Hormuz kembali ditutup dan memperingatkan kapal-kapal agar menjauhi jalur pelayaran strategis tersebut. Namun, AS segera membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa lampau lintas maritim di selat itu tetap melangkah normal.

Perselisihan terbaru ini muncul hanya beberapa hari setelah Teheran dan Washington mencapai kesepakatan sementara nan bermaksud mengakhiri permusuhan di area Timur Tengah.

Pengumuman mengenai penutupan Selat Hormuz disampaikan oleh militer Iran berbareng Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), saat para negosiator Iran bersiap melakukan perjalanan ke Swiss untuk mengikuti pembicaraan tingkat teknis dengan pejabat AS nan dijadwalkan dimulai pada Minggu.

Komando militer campuran Iran menyatakan penutupan selat tersebut merupakan respons atas berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon serta apa nan mereka sebut sebagai "itikad buruk" AS dan kegagalan Washington memenuhi komitmennya dalam kerangka gencatan senjata nan telah disepakati.

Televisi pemerintah Iran juga melaporkan bahwa "langkah-langkah lanjutan telah direncanakan" andaikan apa nan disebut sebagai agresi tetap terus berlanjut.

Pernyataan Iran muncul setelah serangan Israel di Lebanon selatan pada Sabtu nan menewaskan sedikitnya 16 orang, termasuk dua anak-anak. Adapun korban tewas dilaporkan telah mencapai setidaknya 20 orang.

Menurut laporan The Associated Press nan mengutip otoritas Lebanon, serangan tersebut menyebabkan kerusakan luas di sejumlah wilayah.

Kantor buletin Lebanon, National News Agency, nan dikelola pemerintah juga melaporkan bahwa tujuh orang tetap terjebak di bawah reruntuhan gedung di Nabatiyeh dan desa-desa sekitarnya setelah serangan berlangsung.

Sementara itu, meski Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, militer AS menyatakan perihal sebaliknya dengan mengatakan tidak ada penutupan nan terjadi di jalur pelayaran tersebut.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengatakan pasukan AS terus memantau situasi guna memastikan lampau lintas kapal tetap melangkah tanpa gangguan. "Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz," kata ahli bicara CENTCOM, Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, kepada Reuters.

"Lalu lintas terus berjalan, dan pasukan AS memantau situasi untuk memastikan kondisi ini tetap berlangsung," lanjutnya.

Presiden AS Donald Trump juga memberikan sinyal bahwa pemerintahannya menganggap Selat Hormuz tetap terbuka untuk lampau lintas pelayaran.

Dalam unggahan di Truth Social pada Sabtu malam, Trump apalagi mengisyaratkan kemungkinan AS mengenakan biaya bagi kapal-kapal nan melintas andaikan kesepakatan sementara dengan Iran kandas berkembang menjadi perjanjian final dalam waktu 60 hari.

"Tidak bakal ada pungutan biaya di Selat Hormuz selama 60 hari masa gencatan senjata, dan tidak bakal ada pungutan biaya setelah periode 60 hari tersebut berakhir, selain jika pungutan itu diberlakukan oleh dan untuk Amerika Serikat, andaikan kesepakatan tidak sukses diselesaikan," tulis Trump.

Ia mengeklaim biaya tersebut nantinya bakal dikenakan sebagai pembayaran atas "layanan nan diberikan".

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News