Investasi Industri Musik Capai Rp5,14 Triliun, Serap 220.314 Tenaga Kerja

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Investasi Industri Musik Capai Rp5,14 Triliun, Serap 220.314 Tenaga Kerja Ketua Umum Asosiasi Penggiat Peralatan Audio, Video, dan Musik Indonesia (ARAVMI) Hendry Kaihatu berbincang dalam bertemu media Pameran Professional Audio, Visual, and Lighting (Pro AVL) Indonesia 2026 di Jakarta, Jumat (24/7).(MI/Iis Zatnika)

Nilai investasi industri musik nasional mencapai Rp5,14 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 220.314 orang pada 2025. Ekosistem industri musik sendiri terdiri atas lima pilar, ialah penyedia peralatan musik, industri pagelaran (performing), upaya penyewaan (rental), penyelenggara aktivitas (event organizer), serta sektor pendidikan musik. Sementara itu, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi imajinatif Indonesia mencapai Rp1.797,87 triliun. Subsektor musik berbareng film, gim, dan aplikasi menjadi motor pertumbuhan baru nan tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

"Industri peralatan musik bukan industri nan kecil. Ekosistemnya luas dan mempunyai akibat ekonomi maupun pembuatan lapangan kerja nan besar. Karena itu, kita kudu bersama-sama mendorong agar potensinya semakin diakui," kata Ketua Umum Asosiasi Penggiat Peralatan Audio, Video, dan Musik Indonesia (ARAVMI) Hendry Kaihatu dalam bertemu media Pameran Professional Audio, Visual, and Lighting (Pro AVL) Indonesia 2026 di Jakarta, Jumat (24/7).

Hendry mengatakan kontribusi subsektor musik dalam ekonomi imajinatif nasional saat ini sedang divalidasi secara menyeluruh melalui Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) nan diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut dia, industri musik Indonesia mempunyai kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Namun, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam info resmi lantaran pendataan selama ini lebih banyak berfokus pada sektor pagelaran (performance) dan belum mencakup keseluruhan ekosistem industri musik.

Momentum verifikasi info melalui SE2026 diharapkan dapat menghitung kontribusi seluruh aktivitas industri musik, tidak hanya dari sisi pagelaran nan melibatkan artis, penyanyi, musisi, dan pembuat lagu, tetapi juga beragam mata rantai industri lainnya. "Kalau seluruh pelaku industri bersama-sama menyampaikan info secara holistik kepada BPS, saya percaya nilainya bisa tiga sampai empat kali lebih besar dibandingkan info nan ada saat ini," ujar Hendry.

Ia menjelaskan, ekosistem industri musik mencakup banyak mata rantai ekonomi, mulai dari importir dan pemasok peralatan musik, produsen lokal, penyedia jasa penyewaan (rental), penyelenggara acara, hingga para musisi dan pembuat lagu. Seluruh aktivitas tersebut menghasilkan nilai ekonomi sekaligus memberikan kontribusi pajak kepada negara.

Mengacu pada info Kementerian Ekonomi Kreatif, jumlah tenaga kerja di subsektor musik terus bertumbuh hingga mencapai 220.314 orang pada 2025. "Artinya, lapangan pekerjaan nan dihasilkan industri ini tidak main-main. Ada banyak tenaga kerja nan menggantungkan hidupnya pada ekosistem industri musik," kata Hendry.

CEO Krista Exhibitions Group Daud D. Salim mengatakan Pro AVL Indonesia 2026 bakal berjalan pada 28–31 Juli 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang. Memasuki penyelenggaraan nan kelima, pameran ini menghadirkan beragam kompetisi, seminar, dan forum obrolan nan mempertemukan produsen, distributor, system integrator, profesional, hingga organisasi imajinatif dari dalam dan luar negeri.

Sebanyak 60 merek internasional dari 12 negara bakal berperan-serta dalam pameran tersebut, ialah Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Jepang, Prancis, Italia, Denmark, Swedia, Austria, China, Spanyol, dan Indonesia. Sejumlah produsen dalam negeri juga bakal menampilkan produk perangkat musik buatan Indonesia. "Kami juga bakal menghadirkan obrolan berbareng Kementerian Perindustrian untuk membahas beragam program pengembangan produk lokal dan industri mini menengah (IKM) di sektor musik," ujar Daud. (X-6)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia