Ini Bahaya Melampiaskan Amarah di Media Sosial, Menurut Psikolog

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Ini Bahaya Melampiaskan Amarah di Media Sosial, Menurut Psikolog Ilustrasi(magnific)

PSIKOLOG klinis sekaligus Direktur Personal Growth, Ratih Ibrahim, MM, Psikolog, mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan media sosial sebagai sarana melampiaskan kemarahan. Menurut lulusan Universitas Indonesia ini, tindakan impulsif tersebut justru berisiko memperkuat emosi negatif alih-alih menyelesaikannya.

Pernyataan ini muncul sebagai respons atas kasus viral unggahan Yurizal Tri Chaerawan. Sebelum meninggal bumi pada 31 Juli 2026, Yurizal sempat mengeluhkan lamanya waktu tunggu bilik rawat inap, nan kemudian diduga memicu tindakan perundungan oleh sejumlah tenaga kesehatan di media sosial.

"Melampiaskan kemarahan secara impulsif tidak selalu membikin permasalahannya selesai dan kondisi emosi jadi membaik. Justru, sangat mungkin perihal tersebut malah memperkuat kemarahan lantaran seseorang terus mengulang dan menghidupkan kembali emosi negatifnya," ujar Ratih, dikutip Selasa (11/8).

Risiko di Balik Katarsis Digital

Ratih menjelaskan bahwa mengeluarkan unek-unek alias katarsis memang memberikan rasa lega sesaat. Namun, pengaruh tersebut berkarakter sementara dan menyimpan potensi ancaman jangka panjang, terutama jika dilakukan saat emosi berada di puncak.

Beberapa akibat nan membayangi unggahan impulsif di media sosial meliputi:

  • Munculnya bentrok baru dengan pihak lain.
  • Penyesalan mendalam setelah emosi mereda.
  • Kerusakan reputasi ahli nan susah dipulihkan.
  • Penyalahgunaan relasi kuasa, terutama jika sasaran kemarahan adalah pihak nan lebih lemah seperti pasien.

Fenomena Online Disinhibition Effect

Secara psikologis, terdapat argumen kenapa seseorang condong lebih berani dan garang di bumi maya. Ratih menyebut kejadian ini sebagai online disinhibition effect.

Faktor Penyebab Penjelasan
Jarak Fisik Interaksi tidak langsung membikin empati berkurang.
Anonimitas Merasa tersembunyi di kembali layar sehingga lebih berani bereaksi.
Minim Konsekuensi Langsung Dampak dari ucapan tidak langsung terlihat secara bentuk alias sosial saat itu juga.

Saran Pengelolaan Emosi

Sebagai langkah nan lebih konstruktif, Ratih menyarankan agar perseorangan memproses emosi melalui refleksi diri alias berbincang langsung dengan orang nan dipercaya. Jika tekanan emosional terasa berat dan berkepanjangan, dia sangat menganjurkan untuk mencari support profesional.

"Kemampuan mengelola emosi sangat krusial agar kita tidak menjadikan media sosial tempat melampiaskan amarah nan berakibat jelek bagi orang lain. Ingat, jejak digital susah dihapus dan bisa berakibat luas bagi pengunggah maupun sasarannya," pungkasnya. (Ant/Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia