Inflasi Vietnam Bengkak Jadi 5,46 Persen Imbas Lonjakan Biaya Energi

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi pelabuhan Vietnam. Foto: Nhac Nguyen/AFP

Inflasi Vietnam meningkat menjadi 5,46 persen secara tahunan pada April 2026, jauh di atas proyeksi para analis. Kenaikan ini akibat lonjakan biaya daya dan bahan baku makanan, nan dipicu sulitnya pasokan dunia akibat perang Iran.

Dilansir Bloomberg, Minggu (3/5), laju inflasi pada akhir bulan lampau apalagi lebih tinggi dari Maret 2026 nan sebesar 4,80 persen.

"Kenaikan inflasi terutama lantaran nilai gas domestik nan lebih tinggi, sejalan dengan nilai bahan bakar global," kata instansi statistik Vietnam.

Defisit perdagangan Vietnam pada April 2026 sebesar USD 3,28 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan defisit sebesar USD 677 juta pada Maret 2026.

video story embed

Ekspor Vietnam melonjak 21 persen menjadi USD 45,5 miliar pada April 2026, juga di atas ekspektasi analis sebesar 17 persen. Sementara impor naik 32,5 persen menjadi USD 48,8 miliar, lebih tinggi dari proyeksi 21,7 persen. Bahan baku, peralatan, dan suku cadang untuk produksi menyumbang kebanyakan dari total impor.

Dalam empat bulan pertama tahun 2026, surplus perdagangan Vietnam dengan AS naik 24,4 persen secara tahunan, mencapai USD 46,9 miliar. Defisit perdagangan Vietnam dengan China, mitra jual beli terbesarnya , meningkat 33,4 persen dari tahun ke tahun menjadi USD 46,4 miliar untuk periode nan sama.

Bank sentral memperkirakan inflasi inflasi dapat meningkat menjadi sebanyak 5,5 persen tahun ini, lebih tinggi dari sasaran pemerintah sebesar 4,5 persen, didorong oleh kenaikan nilai bahan bakar nan meningkatkan biaya transportasi, logistik, dan barang-barang krusial lainnya.

Bank Negara Vietnam tetap menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 10 persen tahun ini. Inflasi pun diperkirakan bakal tetap stabil.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan