Inflasi Pangan Naik, BI dan Pemerintah Perkuat Pengendalian Harga

Sedang Trending 3 jam yang lalu
Calon Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti bersiap mengikuti uji kepantasan dan kepatutan Gubernur Bank Indonesia di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/8/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih Destry Damayanti menyoroti kenaikan inflasi pangan nan menjadi perhatian berbareng pemerintah dan bank sentral. Menurutnya, kenaikan tersebut perlu diantisipasi agar tidak mengganggu stabilitas inflasi secara keseluruhan.

Destry mengatakan, inflasi komponen pangan bergolak alias volatile food saat ini menunjukkan peningkatan. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama, terutama dalam menjaga kestabilan nilai pangan di tengah perkembangan aktivitas ekonomi. BPS mencatat inflasi volatile food pada Agustus 2026 mencapai 4,06 persen yoy, melonjak dibandingkan Juli 2026 nan sebesar 2,5 persen yoy.

“Volatile food inflation-nya lagi naik. Nah makanya memang kan BI bersama-sama dengan pemerintah wilayah dan pemerintah pusat, kita juga menangani program untuk pengendalian inflasi pangan gitu,” kata Destry kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Selasa (1/9).

Di sisi lain, Destry menilai perkembangan inflasi inti alias core inflation tetap relatif stabil. Bahkan, komponen tersebut menunjukkan sedikit peningkatan nan mencerminkan adanya aktivitas ekonomi nan terus bergerak.

“Jadi jika kita lihat core inflation-nya tetap tetap sabil,dia malah meningkat dikit artinya ada aktivitas ekonomi dari 2,7 persen ke 2,9 persen,” ujarnya.

Buruh tani menanam padi di area persawahan Tamarunang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (16/6/2022). Foto: Arnas Padda/ANTARA FOTO

Destry kemudian menekankan bahwa kenaikan inflasi pangan menjadi tantangan nan perlu ditangani secara bersama-sama. Ia menyebut volatile food meningkat dari kisaran 2 persen menjadi 4 persen, sehingga pengendalian nilai pangan menjadi salah satu perhatian utama.

“Tapi memang untuk volatile food-nya naik dari 2 persen ke 4 persen. Jadi memang PR kita bersama-sama menjaga stabilitas di nilai pangan. Itu aja ya, makasih ya semuanya,” tutur Destry.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2026 mengalami inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan (month to month/mtm). Sementara secara tahunan (year on year/yoy), inflasi tercatat sebesar 3,19 persen.

“Pada Agustus 2026 terjadi inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan alias month to month. Secara tahunan alias year on year terjadi 3,19 persen,” kata Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konvensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta Pusat, Selasa (1/9).

Kelompok pengeluaran nan menjadi pendorong utama inflasi bulanan pada Agustus adalah makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok tersebut mencatat inflasi sebesar 0,57 persen dan memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,17 persen.

Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh komoditas daging ayam ras nan memberikan andil inflasi sebesar 0,17 persen.

Selain golongan makanan, minuman, dan tembakau, golongan perawatan pribadi dan jasa lainnya juga turut memberikan tekanan terhadap inflasi. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,37 persen dengan andil inflasi sebesar 0,03 persen.

“Selain makanan, minuman, dan tembakau, golongan perawatan pribadi dan Jasa lainnya juga memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,03 persen dengan inflasi sebesar 0,37 persen,” lanjut Ateng.

Inflasi pada golongan tersebut terutama dipengaruhi oleh komoditas emas perhiasan. Komoditas ini mengalami inflasi sebesar 0,75 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen.

Pekerja melakukan bongkar muat beras di kompleks pertokoan beras Jalan Dargo, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (1/4/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Sementara itu, tekanan inflasi tertahan oleh golongan transportasi nan mengalami deflasi sebesar 0,50 persen pada Agustus 2026. Kelompok tersebut memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen.

Deflasi pada golongan transportasi terutama berasal dari penurunan tarif pikulan udara nan memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen, serta bensin nan memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan