IHSG Tertekan, PT ASABRI Proyeksi Hasil Investasi Turun Rp 387 M pada 2026

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Gedung ASABRI. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

PT ASABRI (Persero) memproyeksikan keahlian investasi perseroan pada 2026 bakal menghadapi tekanan akibat gejolak di pasar modal.

Direktur Utama ASABRI, Jeffry Haryadi, menilai kondisi perekonomian mulai dari pasar modal hingga suku kembang nan berfluktuasi telah mendorong penurunan IHSG di kisaran 5.000. Hal itu menekan nilai beragam instrumen finansial dan aset berbasis utang.

Ia memproyeksikan, perseroan bakal mencatat investasi bersih turun Rp 387 miliar alias sekitar 39% pada 2026.

“Di awal tahun (IHSG) sempat menyentuh 9.000, sementara di Juni kemarin menyentuh nomor 5.600. Kondisi ini menyebabkan terjadinya penurunan nilai dari aset-aset investasi. Hasil investasi bersih nan di tahun 2025 Rp 985 miliar kemungkinan di tahun 2026 jadi Rp 598 miliar,” jelas Jeffry dalam rapat berbareng Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (8/7).

Kendati demikian, Jeffry menyatakan penurunan nilai investasi nan terjadi bukan merupakan kerugian akibat pelepasan alias penjualan aset, melainkan semata-mata penyesuaian nilai mengikuti kondisi pasar.

Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (11/3). Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Di tengah tekanan itu, total aset ASABRI tetap diproyeksikan meningkat dari Rp 55,97 triliun pada 2025 menjadi sekitar Rp 59,49 triliun pada 2026. Namun, yield on investment (YOI) diperkirakan turun jadi 5,98%, lebih rendah dibandingkan capaian tahun sebelumnya.

“Sementara pendapatan asuransi bersih minus (pada 2026) Rp 482 miliar dibanding tahun sebelumnya, minus Rp 310 miliar,” ucap Jeffry.

Ia melanjutkan, untung bersih diproyeksikan berubah dari untung Rp 713 miliar pada 2025 menjadi rugi sekitar Rp 98 miliar pada 2026. Dari sisi permodalan, tingkat solvabilitas diperkirakan turun menjadi 195% pada 2026 dari posisi 321% pada 2025, andaikan kondisi pasar modal dan pasar finansial hingga akhir tahun tetap berada pada level saat ini.

“Upaya nan dilakukan PT Asabri dilakukan secara organik untuk mengatasi ini tentu perlu dilakukan satu terobosan secara organik di mana untuk eksekusinya memerlukan support dari semua pihak,” ujar Jeffry.

Sementara itu, ASABRI mencatat pembayaran klaim sebanyak 69.749 kejadian sepanjang 2025. Jumlah tersebut terdiri dari sekitar 56 ribu klaim program Tabungan Hari Tua (THT), 4.500 klaim program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan 8.400 klaim program Jaminan Kematian (JKM).

“Kalau kita lihat klaim rasio nan selama ini menjadi momok di PT ASARI adalah program THT, di mana klaim rasionya berada di atas 100 persen,” ucap Jeffry.

Gedung PT ASABRI Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan

Nilai Klaim THT Capai Rp 1,5 Triliun pada 2025

Jeffry membeberkan nilai klaim THT mencapai sekitar Rp 1,5 triliun pada 2025, sedangkan premi nan diterima sebesar Rp 1,3 triliun, sehingga rasio klaim tercatat 115,65 persen.

Di sisi lain, Jeffy mencatat adanya perkembangan positif berupa peningkatan jumlah peserta dari sekitar 1,479 juta menjadi 1,59 juta peserta alias tumbuh 4,78% sepanjang 2025.

Kendati demikian, pertumbuhan tersebut tetap berada di bawah proyeksi sebelumnya sekitar 750 ribu personel.

“2o225 kami mengalami pertumbuhan cukup atraktif, di mana aset tumbuh 12,23% dibanding tahun sebelumnya menjadi Rp 55,97 triliun, ekuitas dari tahun sebelumnya minus Rp 894 triliun,” kata Jeffry.

Dari sisi investasi, YOI naik dari 4,94% pada 2024 menjadi 7,43% pada 2025. Hasil investasi bersih tercatat mencapai Rp 985 miliar, meningkat 56,82% dibandingkan Rp 628 miliar pada tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan asuransi bersih membaik menjadi minus Rp 310 miliar dibandingkan minus Rp 165 miliar pada 2024.

“Laba bersih tahun 2025 Rp 713,72 miliar, meningkat 158% dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 275,60 miliar,” tutup Jeffry.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan