Ibu ‘Menteri Keuangan’: Ini Peran Perempuan Atur Uang Keluarga di Era Digital

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Ilustrasi Perencanaan Keuangan Keluarga. Foto: M Isolation photo/Shutterstock

Seorang ibu punya peran nan sangat sentral dalam keluarga. Bukan hanya memastikan seluruh kebutuhan harian terpenuhi, tapi juga kudu menyeimbangkan waktu untuk kehidupan profesional. Meniti pekerjaan sebagai bagian dari aktualisasi diri sekaligus membantu keuangan keluarga.

Di sisi lain, ibu menjadi sosok nan berkedudukan memastikan pengelolaan finansial rumah tangga aman. Makanya, seorang ibu sering dianalogikan sebagai ‘menteri keuangan’. Di tangan sang menteri finansial ini, setiap rupiah nan masuk dialokasikan dengan penuh kalkulasi melalui teknik pos-posan nan disiplin. Sebut saja memisahkan antara kebutuhan pokok, tabungan masa depan, hingga instrumen investasi.

Kebocoran anggaran rumah tangga kerap terjadi jika ‘menteri keuangan’ family tidak disiplin mengatur pos-pos anggaran. Misalnya, terpakainya alokasi biaya pendidikan anak untuk kebutuhan hobi, hingga kehabisan anggaran untuk kebutuhan dapur lantaran terlalu sering jajan di luar.

Akibatnya bisa beragam dan terkadang fatal. Sebut saja, terkurasnya duit tabungan alias apalagi sampai ada nan mencari jalan pintas dengan meminjam duit dan akhirnya terjebak utang. Kondisi seperti itu tidak jarang berpengaruh pada mental. Ibu rumah tangga sebagai ‘menteri keuangan’ bisa stres dan apalagi memicu bentrok dengan suami.

Makanya, disiplin dalam mengatur duit shopping dan tabungan masa depan menjadi sangat penting. Ade Nur, penduduk Depok, jadi salah satu contohnya. Selain konsentrasi sebagai ibu, dia juga mengembangkan upaya katering untuk membantu ekonomi keluarga.

“Bisa dibilang saya juga lagi ngejar pekerjaan jenis saya sendiri. Paling besar konsentrasi sebagai ibu, tapi saya lagi mengembangkan upaya di bagian katering buat bantu pemasukan keluarga,” ujarnya, kepada kumparan, Rabu (1/4).

Dalam perihal keuangan, Ade memegang kendali penuh atas pengelolaan pendapatan keluarga. Dia menerapkan pembagian anggaran nan disiplin setiap bulan.

“Saya sih biasanya 30 persen untuk angsuran (mobil dan peralatan elektronik), 50 persen buat kebutuhan bulanan, 20 persennya buat tabungan (hari tua-anak-darurat),” jelasnya.

Pendapatan dari upaya katering tak digunakan untuk konsumsi harian, melainkan difokuskan untuk tabungan prioritas dan biaya darurat.

Ade mengamini afinitas ibu sebagai 'Menteri Keuangan' dalam keluarga. Baginya, peran tersebut memang melekat pada wanita nan sudah berumah tangga.

“Setuju sama afinitas itu, emang bener ya, saya pikir peran ini memang sering dijalani wanita dalam mengelola finansial keluarga,” katanya.

Hal serupa disampaikan Ardhya Fausta, ibu muda asal Bekasi nan juga menjalani peran dobel sebagai ibu rumah tangga sekaligus pekerja.

“Menurut saya ibu sebagai menteri finansial itu tepat banget sih, lantaran ibu-ibu tuh jeli banget soal perhitungan,” ujar Ardhya.

Ardhya menilai pengalaman sehari-hari dalam mengatur kebutuhan rumah membikin ibu lebih peka terhadap kondisi ekonomi, termasuk nilai kebutuhan pokok hingga perencanaan bulanan.

Meski begitu, Ardhya menekankan komunikasi dengan suami kudu tetap dilakukan dalam pengelolaan keuangan. Dari sisi dukungan, kata Ardhya, suami tetap menjadi sumber utama pendapatan.

“Support suami sejauh ini dia terbuka sama saya soal pendapatannya, terus juga dia bisa ikut tekan pengeluaran pribadinya nan gak penting,” ujar Ardhya.

Ibu Perlu Adaptif dengan Teknologi dalam Mengelola Keuangan

Dalam praktiknya, pengelolaan finansial sekarang semakin terbantu dengan teknologi. Ade mulai memanfaatkan perbankan digital dan pencatatan digital.

Penghasilan dari upaya katering nan tak digunakan untuk konsumsi harian kerap ditaruh di fitur Kantong aplikasi Bank Jago. Katanya, agar memudahkan supervisi setiap waktu dan budgeting lebih terjaga.

“Suka pake kantong-kantong gitu di Bank Jago, menurutku mudah aja ya pakainya. Apalagi ada 60 kantong itu banyak banget dan ya enggak kepecah aja (uangnya),” ungkap Ade.

Ade setidaknya punya beberapa kantong nan dibuat secara personal. Salah satu nan utama dan paling sering dipakai adalah kantong Belanja Dapur nan memang bisa dibuat secara khusus. Kantong ini menjadi nan paling sering dipakai. Ada lagi kantong nan dikasih nama jajan, shopping, duit sekolah, hingga kantong unik untuk rencana jalan-jalan nan dikasih nama Travel.

Ilustrasi Kantong Bank Jago. Foto: Dok. Bank Jago

Selain kantong personal, di Bank Jago juga ada fitur Kantong Bersama nan bisa dimanfaatkan berbareng dengan pasangan. Fitur itu bisa untuk nabung bersama, memonitor hingga mengatur pengeluaran secara transparan.

Sementara, Ardhya juga menggunakan metode cash stuffing jenis digital dengan memanfaatkan fitur Kantong di Bank Jago untuk membagi anggaran ke beragam kebutuhan.

"Saya gak suka megang terlalu banyak duit cash, jadi semua pemasukan termasuk penghasilan saya kumpulkan dulu, lampau dibagi ke beberapa kantong sesuai dengan kebutuhan," ungkap dia.

Hampir sama dengan Ade, Ardhya juga punya beberapa kantong nan dibuat personal. Bedanya, kantong milik Ardhya dikasih nama lebih spesifik sesuai kebutuhan sehari-hari. Ibu anak satu apalagi menamakan salah satu kantong miliknya dengan nama sang anak ialah Tabungan Zea.

Perencana finansial Mike Rini menilai peran ibu sebagai pengelola finansial rumah tangga sangat krusial dan mencakup banyak aspek. Menurutnya, ibu tak hanya berkedudukan dalam pengelolaan, tapi juga perencanaan, penganggaran, hingga mitigasi akibat keuangan.

“Ibu memastikan bahwa beragam sumber-sumber pendapatan dari family itu bisa mencukupi beragam kebutuhan alias pengeluaran rumah tangga,” jelas Mike Rini.

Mike Rini menegaskan pengeluaran tidak boleh lebih besar dari pendapatan keluarga. Selain itu, peran ibu juga mencakup perencanaan finansial jangka panjang, termasuk investasi, lantaran kebutuhan family tidak hanya untuk saat ini tetapi juga masa depan.

Mike Rini melanjutkan, peran ibu sebagai ‘Menteri Keuangan” juga mencakup pengelolaan beragam aset keluarga. Aset bisa berupa tabungan di bank, deposito, investasi seperti emas, hingga aset penggunaan seperti rumah tinggal dan kendaraan pribadi. Semua perlu diatur secara strategis agar bisa mendukung tujuan finansial keluarga.

Menurutnya, tujuan utama pengelolaan finansial rumah tangga adalah memastikan kebutuhan saat ini terpenuhi sekaligus mempersiapkan kebutuhan masa depan seperti pendidikan anak dan biaya pensiun.

“Kalau finansial family sehat, biasanya secara psikologis juga lebih tenang. Ada rasa kondusif lantaran tahu kebutuhan tercukupi dan masa depan sudah dipersiapkan,” jelas Mike Rini.

Mike Rini menyebut parameter family nan sehat secara finansial antara lain mempunyai tabungan nan cukup, utang nan terkendali, serta keahlian untuk berinvestasi. Salah satu tantangan nan sering dihadapi family adalah duit bulanan nan sigap habis. Mike Rini menyebut perihal itu umumnya disebabkan oleh tidak adanya prioritas.

Founder & CEO at Mitra Rencana Edukasi & Independent Financial Planner, Mike Rini. Foto: Dok. Lipsus kumparan

“Kalau kita bicara duit bulanan menguap, ini penyebabnya banyak. Tapi biasanya nan saya amati itu lantaran tidak punya prioritas,” jelasnya.

Dia menekankan pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Misalnya, makan adalah kebutuhan, sedangkan jajan merupakan kemauan nan bisa dikendalikan.

Selain itu, kebiasaan tidak mempunyai rencana shopping juga membikin pengeluaran membengkak, terutama pada kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Mike Rini juga menekankan pentingnya menabung dan investasi di awal, bukan dari sisa uang. “Kalau kita sudah menabung dan investasi di depan, sebenarnya duit itu tidak hilang, tapi sudah dialihkan untuk masa depan,” terang Mike Rini.

Mike Rini mengingatkan pentingnya biaya darurat untuk mengantisipasi kebutuhan tak terduga nan bisa mengganggu keuangan.

Dalam mengatur prioritas keuangan, Mike Rini menegaskan penganggaran menjadi kunci utama. Pendapatan perlu dialokasikan sejak awal untuk tabungan, investasi, cicilan, biaya darurat, serta perlindungan akibat seperti asuransi.

Setelah itu, barulah sisa pendapatan digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari nan bisa dibagi lagi ke dalam beragam pos seperti transportasi, komunikasi, dan shopping dapur.

“Total anggaran itu sebenarnya tidak boleh melampaui dari pendapatan kita,” tutur Mike Rini.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan