HUT Ke-81 MPR/DPR, Siti Fauziah Tekankan Pentingnya Adaptasi Demokrasi

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Plt. Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, menegaskan kerakyatan Indonesia kudu terus dirawat, diperkuat, dan disesuaikan di tengah derasnya arus informasi, disinformasi, polarisasi, serta perubahan geopolitik dan ekonomi global. Namun, proses tersebut tetap kudu berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Hal itu disampaikan Siti Fauziah saat bertindak sebagai Inspektur Upacara peringatan HUT ke-81 MPR/DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Dalam amanatnya, dia mengatakan perjalanan 81 tahun MPR dan DPR merupakan bagian dari sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia dalam membangun kehidupan bernegara berasas kedaulatan rakyat. MPR dan DPR telah tumbuh dan beradaptasi mengikuti dinamika masyarakat, sistem politik, dan ketatanegaraan Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan kehadiran DPD pada 2004 semakin melengkapi sistem perwakilan dalam kehidupan ketatanegaraan Indonesia. Menurutnya, MPR, DPR, dan DPD lahir dari semangat untuk menciptakan sistem dan tata pemerintahan nan berbasis pada kedaulatan rakyat sebagaimana tercermin dalam sila keempat Pancasila.

Sebagai lembaga permusyawaratan dan perwakilan, ketiganya dinilai kudu bisa menjadi ruang bagi masyarakat dari beragam latar belakang. Aspirasi publik juga perlu diserap dan direpresentasikan sebagai salah satu pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan dan kebijakan.

"MPR, DPR, dan DPD terus datang dalam ruang publik sebagai bagian dari upaya merawat kerakyatan agar semakin baik. Karena sejatinya kerakyatan tidak pernah selesai pada satu titik," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (31/8/2026).

Menurut Siti, perkembangan teknologi dan arus info tanpa pemisah telah membuka ruang partisipasi publik nan lebih luas. Namun, kondisi tersebut juga membawa tantangan berupa disinformasi dan polarisasi nan berpotensi menggerus kepercayaan publik serta menakut-nakuti kohesi sosial.

Karena itu, persatuan dan kesatuan bangsa perlu dirawat melalui pendidikan, dialog, keteladanan, serta keahlian mengelola perbedaan. Identitas kebangsaan juga perlu diperkuat agar Indonesia dapat mengikuti perkembangan bumi tanpa kehilangan jati diri.

Selain itu, Siti menyebut perubahan geopolitik, transformasi ekonomi digital, perubahan iklim, ketahanan pangan dan energi, serta dinamika sosial sebagai sejumlah tantangan nan kudu diantisipasi. Dia menilai penguatan kelembagaan perlu melangkah beriringan dengan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan penyelenggaraan tugas.

Siti juga membujuk seluruh jejeran Sekretariat Jenderal MPR, DPR, dan DPD RI untuk terus melakukan evaluasi, membaca perubahan, berinovasi, serta memperkuat koordinasi dan kerjasama dengan beragam pemangku kepentingan. Profesionalisme dan integritas kudu menjadi landasan dalam menjaga marwah kelembagaan dan memberikan pelayanan terbaik.

"Marilah kita jadikan peringatan hari ulang tahun ini sebagai titik tolak untuk bekerja lebih baik, bergerak lebih cepat, berpikir lebih terbuka, dan memberikan pengabdian nan lebih bermakna," lanjut Siti.

Siti kemudian menutup amanatnya dengan sebuah pantun:

"Pergi ke taman memetik melati
Melati wangi di pagi hari
Konstitusi kita jaga sepenuh hati
Persatuan bangsa kita rawat sampai nanti."

(akn/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑