Hubungan Virus Hanta dan Warisan Ilmuwan Korsel Terungkap

Sedang Trending 1 jam yang lalu

loading...

Virus Hanta. FOTO/ viet

SEOUL - Profesor Lee Ho Wang adalah orang pertama nan sukses mengisolasi virus Hanta dari paru-paru hamster pada tahun 1976, dan juga mengembangkan vaksin pertama di bumi untuk melawan penyakit tersebut, nan disebut Hantavax, pada tahun 1988.

Prestasi penelitian almarhum mahir virologi Korea Selatan, Lee Ho Wang, tentang virus Hanta kembali menarik perhatian menyusul dugaan pandemi nan mengenai dengan virus tersebut di kapalpesiarMV Hondius di lepas pantai Spanyol.

Menurut koresponden VNA di Seoul, Arsip Nasional Korea menyatakan bahwa Profesor Lee Ho Wang adalah orang pertama nan sukses mengisolasi virus Hanta dari paru-paru hamster pada tahun 1976, dan juga mengembangkan vaksin pertamadi duniauntuk melawan penyakit tersebut, nan diberi nama Hantavax, pada tahun 1988.

Ini dianggap sebagai kasus langka di mana seorangilmuwanberhasil mengidentifikasi penyebab penyakit dan mengembangkan vaksin pencegahannya.

Penelitian Profesor Lee Ho Wang berasal dari upaya untuk menemukan penyebab penyakit nan dulunya dikenal sebagai "demam berdarah Korea," nan menyerang lebih dari 3.000 tentara Perserikatan Bangsa-Bangsa selama Perang Korea (1950-1953) di dekat perbatasan antar-Korea saat ini. Karena mencurigai tikus sebagai sumber infeksi, mulai akhir tahun 1960-an, Lee mengumpulkan lebih dari 3.000 tikus di wilayah perbatasan. Untuk mendukung penelitiannya, dia mengatasi beragam kesulitan, termasuk akibat tertular penyakit tersebut.

Dari sampel tikus nan ditangkap di dekat Sungai Hantan, nan mengalir melalui provinsi Gangwon dan Gyeonggi, Profesor Lee Ho Wang mengidentifikasi virus penyebabnya dan menamakannya virus Hantaan, nan kemudian dikenal luas sebagai hantavirus. Pada tahun 1980, dia selanjutnya mengidentifikasi jenis virus Seoul.

Menurut penelitian, virus Hanta ditularkan ke manusia terutama melalui kontak dengan air liur, urin, alias feses hewan pengerat nan terinfeksi. Berdasarkan temuan ini, tim peneliti melakukan uji coba vaksin mereka sendiri sebelum komersialisasi.

Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) menyatakan bahwa strain virus nan beredar di Korea Selatan mempunyai tingkat kematian kurang dari 5%. Pada tahun 2024, negara tersebut mencatat 373 kasus infeksi, sebagian besar di wilayah pedesaan.

Selengkapnya
Sumber Tekno Sindonews
Tekno Sindonews