Arsip foto - Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem.(ANTARA/Iranian Presidency/Anadolu)
KELOMPOK Hizbullah secara resmi menyatakan penolakan terhadap syarat gencatan senjata nan diajukan oleh Amerika Serikat (AS). Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan bahwa tuntutan pelucutan senjata dan penarikan pejuang dari wilayah selatan Sungai Litani merupakan upaya untuk memenangkan kepentingan Israel melalui jalur politik.
Penolakan keras ini disampaikan Qassem merespons hasil putaran keempat perundingan Libanon-Israel nan berjalan di Washington. Meski Departemen Luar Negeri AS sempat mengumumkan tercapainya kesepakatan pada Kamis (4/6) malam, realitas di lapangan menunjukkan ketegangan nan justru meningkat.
Poin Utama Penolakan Hizbullah:
- Menolak penarikan personel militer dari wilayah selatan Sungai Litani.
- Menolak pelucutan senjata sebagai syarat awal kesepakatan.
- Menilai proposal AS memicu perselisihan sipil di internal Libanon.
- Menuntut penghentian total serangan Israel sebelum negosiasi lanjut.
Kritik Terhadap Proposal Washington
Naim Qassem menilai arsip nan disodorkan Washington bukan merupakan solusi perdamaian, melainkan perangkat untuk merusak stabilitas Libanon. "Pernyataan itu bermaksud menghancurkan Libanon, merusak stabilitasnya, dan memicu perselisihan sipil demi kepentingan Israel," ujar Qassem sebagaimana dilansir dari Anadolu, Jumat (5/6).
Menurut Qassem, AS mencoba membantu Israel mencapai sasaran nan kandas diraih melalui operasi militer. Ia menegaskan bahwa menjadikan pelucutan senjata sebagai prasyarat hanya bakal melemahkan posisi tawar Libanon di mata internasional dan menakut-nakuti kedaulatan negara tersebut.
Israel Lanjutkan Operasi Militer
Di sisi lain, pengumuman gencatan senjata oleh AS tampak kontradiktif dengan tindakan militer di lapangan. Israel justru mengumumkan bakal melanjutkan operasi di area penyangga Libanon Selatan. Tel Aviv berkilah tindakan tersebut merupakan bagian dari penerapan kesepakatan untuk memastikan wilayah perbatasan bersih dari aktivitas Hizbullah.
Menanggapi perihal itu, Hizbullah memastikan tidak bakal meninggalkan posisinya selama pendudukan dan serangan Israel tetap berlangsung. Qassem menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Libanon nan tetap diduduki.
Situasi di perbatasan Libanon-Israel sekarang kembali memasuki fase kritis. Dengan penolakan ini, upaya diplomatik nan dimediasi AS terancam menemui jalan buntu total, sementara eskalasi militer di sepanjang Sungai Litani diprediksi bakal semakin intensif dalam beberapa hari ke depan. (Fer/I-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·