Ilustrasi(Magnific)
JERUK bali (grapefruit) terkenal kaya bakal vitamin C, serat, dan antioksidan nan baik bagi kesehatan tubuh. Namun, di kembali faedah nutrisinya nan melimpah, buah sitrus ini menyimpan akibat hubungan medis nan serius jika dikonsumsi berbarengan dengan obat-obatan tertentu.
Interaksi tersebut disebabkan kandungan senyawa kimia alami berjulukan furanokumarin dalam jeruk bali. Senyawa ini dapat mengganggu kerja enzim krusial di usus halus, ialah CYP3A4, nan berfaedah memecah alias memetabolisme banyak jenis obat dalam tubuh.
Ketika furanokumarin menghalang keahlian enzim CYP3A4, proses metabolisme obat terganggu. Akibatnya, jumlah obat nan terserap ke dalam aliran darah menjadi jauh lebih tinggi dari dosis nan seharusnya. Kondisi ini meningkatkan akibat pengaruh samping rawan hingga keracunan obat.
"Banyak obat dimetabolisme oleh enzim CYP3A4 di usus," kata master nutrisi dan kesehatan. "Senyawa dalam jeruk bali menghalang enzim ini, sehingga lebih banyak obat nan masuk ke dalam darah daripada nan diperkirakan oleh master saat menentukan dosis."
Efek peningkatan kadar obat dalam darah ini bertindak pada beberapa jenis obat populer, seperti obat penurun kolesterol (golongan statin), obat tekanan hipertensi (seperti amlodipine), serta beberapa jenis obat penenang alias pereda kecemasan.
Sebaliknya, pada beberapa jenis obat lain, jeruk bali justru memberikan pengaruh berlawanan. Kandungan dalam buah ini dapat memblokir protein transporter nan bekerja membawa obat ke dalam sel tubuh. Hal ini menyebabkan jumlah obat nan diserap darah menjadi jauh lebih sedikit, sehingga obat tidak dapat bekerja secara efektif untuk menyembuhkan penyakit.
Efek hubungan ini juga tidak bisa dihindari hanya dengan memberi jarak waktu antara minum obat dan mengonsumsi jeruk bali. Penelitian menunjukkan pengaruh penghambatan enzim oleh jeruk bali dapat memperkuat di dalam tubuh hingga 24 jam alias lebih setelah buah tersebut dikonsumsi.
Artinya, meminum obat di malam hari setelah menyantap jeruk bali di pagi hari tetap dapat memicu hubungan nan merugikan. Selain buah segar, produk olahan seperti saribuah jeruk bali juga mempunyai akibat akibat nan sama besarnya.
Para mahir medis menyarankan bagi siapa saja nan sedang menjalani pengobatan rutin untuk selalu membaca label bungkusan obat alias berkonsultasi langsung dengan master dan apoteker. Jika obat nan dikonsumsi mempunyai peringatan hubungan dengan jeruk bali, pasien disarankan untuk menghindari buah ini sepenuhnya selama masa pengobatan dan menggantinya dengan jenis buah sitrus lain nan lebih aman, seperti jeruk keprok alias jeruk manis biasa. (Eating Well/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·